725 Siswa dan Guru Korban Diduga Keracunan MBG di Rembang
Rembang (KM)— Kasus dugaan keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat. Setelah peristiwa di Sidoarjo, Jawa Timur, kini giliran SMAN 1 Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang dilanda kejadian serupa pada Kamis (3/9/2026).
Jumlah korban di Rembang bahkan lebih besar dibandingkan kasus sebelumnya.
Data sementara mencatat 725 orang terdampak, terdiri dari siswa dan guru. Dari total tersebut, 25 guru turut mengalami gejala keracunan bersama ratusan siswa.
Sementara itu, kasus di Sidoarjo yang terjadi beberapa hari sebelumnya juga terus bertambah. Hingga kini, jumlah korban di wilayah tersebut mencapai 668 orang, mayoritas merupakan santri Ponpes Manbaul Hikam, disertai sejumlah siswa dari beberapa sekolah di sekitar Sidoarjo.
Kedua peristiwa ini menambah daftar panjang kasus dugaan keracunan dalam program MBG.
Pemerintah daerah bersama dinas kesehatan setempat tengah melakukan investigasi untuk memastikan penyebab pasti, sekaligus meninjau ulang mekanisme distribusi dan kualitas bahan pangan.
Kasus beruntun ini menegaskan pentingnya pengawasan distribusi pangan dan penerapan standar keamanan makanan yang lebih ketat.
Program yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi siswa justru berisiko menimbulkan masalah kesehatan bila kontrol kualitas tidak dijalankan dengan baik.
Apa yang semestinya menjadi hari belajar biasa, berakhir dengan ratusan siswa dan guru harus dilarikan ke rumah sakit akibat dugaan keracunan dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di antara 725 korban, kisah para guru menjadi sorotan. 25 guru yang biasanya berdiri di depan kelas, kini terbaring lemah di ruang perawatan.
“Kami tidak menyangka, makanan yang katanya bergizi justru membuat kami mual dan muntah. Anak-anak panik, kami pun ikut panik,” ujar salah seorang guru yang enggan disebut namanya.
Bagi siswa, pengalaman ini meninggalkan trauma. Seorang siswi kelas XI menceritakan, awalnya ia merasa perutnya mulas setelah makan siang.
“Teman-teman saya banyak yang muntah. Ada yang sampai pingsan. Kami saling bantu, tapi akhirnya semua dibawa ke rumah sakit,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Orang tua pun tak kalah cemas. Mereka berbondong-bondong datang ke sekolah dan rumah sakit, mencari anak-anak mereka.
“Saya hanya ingin anak saya sehat. Program ini bagus, tapi kalau begini, siapa yang bisa menjamin keselamatan mereka?” keluh seorang wali murid.
Di tengah kepanikan, tenaga medis bekerja tanpa henti. Ruang IGD penuh sesak, sementara posko darurat didirikan untuk menampung lonjakan pasien.
Meski sebagian korban sudah diperbolehkan pulang, rasa waswas masih menyelimuti keluarga.
Kisah di Lasem ini menambah deretan panjang kasus serupa, setelah sebelumnya 668 korban di Sidoarjo mengalami hal yang sama.
Program MBG yang sejatinya bertujuan menyehatkan siswa, kini justru menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana pengawasan distribusi pangan dijalankan, dan apakah standar keamanan makanan benar-benar ditegakkan?
Peristiwa ini bukan sekadar angka. Di balik 725 korban, ada cerita tentang guru yang kehilangan tenaga, siswa yang ketakutan, dan orang tua yang resah. Mereka menunggu jawaban, bukan sekadar permintaan maaf.
Reporter: rso
Leave a comment