Komentar Narasumber Mana? Etika Jurnalistik dan Pentingnya Cover Both Sides dalam Pemberitaan Media Online

Kolom oleh Hero Akbar / Moses *)

 

Di tengah derasnya arus informasi digital, media online memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan setiap berita yang dipublikasikan tidak hanya cepat, tetapi juga akurat, berimbang, dan berpegang teguh pada etika jurnalistik.

 

Kecepatan bukan alasan untuk mengabaikan prinsip dasar jurnalistik. Salah satu pertanyaan penting yang semestinya selalu muncul sebelum sebuah berita diterbitkan adalah: “Sudahkah pihak yang diberitakan diberikan ruang untuk memberikan klarifikasi?”

 

Jika sebuah berita memuat tudingan, kritik, dugaan pelanggaran, atau pernyataan yang berpotensi merugikan nama baik seseorang maupun lembaga, maka prinsip cover both sides menjadi sangat penting.

 

Sebab, sebuah berita tidak boleh dibangun hanya dari satu sudut pandang.

 

Komentar narasumber mana?

 

Pertanyaan sederhana tersebut sebenarnya merupakan bagian penting dari proses jurnalistik.

 

Ketika seseorang atau sebuah lembaga menjadi objek pemberitaan, terlebih ketika terdapat tuduhan atau pernyataan yang dapat membentuk opini negatif publik, media idealnya memberikan kesempatan yang proporsional kepada pihak yang diberitakan untuk menyampaikan penjelasan.

 

Bukan berarti media harus membela pihak tertentu.

 

Justru sebaliknya, media harus berdiri pada kepentingan publik dengan menghadirkan informasi secara utuh.

 

Media bukan hakim. Media adalah penyampai informasi yang memiliki kewajiban melakukan verifikasi.

 

Karena itu, prinsip 5W+1H — what, who, when, where, why, dan how — bukan sekadar teori yang dipelajari wartawan. Prinsip tersebut merupakan fondasi agar sebuah berita tidak kehilangan konteks.

 

Berita yang hanya menampilkan satu sisi berpotensi membuat pembaca menerima kesimpulan sebelum seluruh fakta disampaikan.

 

Jangan menghakimi

 

Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah penggunaan narasi dalam pemberitaan.

 

Media boleh kritis. Media bahkan memiliki kewajiban melakukan kontrol sosial terhadap kekuasaan dan berbagai persoalan publik. Namun, kritik jurnalistik harus tetap dibedakan dengan penghakiman.

 

Kalimat yang menggiring pembaca kepada kesimpulan tertentu tanpa dukungan fakta yang memadai dapat menimbulkan persoalan serius.

 

Terlebih apabila sebuah berita menggunakan tudingan atau kesimpulan yang belum terverifikasi secara menyeluruh.

 

Dalam perspektif saya, pemberitaan seperti itu bukan hanya berpotensi merugikan objek pemberitaan, tetapi juga dapat menurunkan kualitas jurnalistik itu sendiri.

 

Sebab, ketika media terburu-buru membangun kesimpulan, publik akhirnya tidak mendapatkan informasi yang utuh.

 

Bayangkan jika nama baik kita yang disasar

 

Ada satu prinsip sederhana yang semestinya juga menjadi renungan bagi setiap insan pers:

 

Andai nama baik kita sendiri yang diberitakan secara sepihak, apakah kita tidak akan meminta hak untuk menjelaskan?

 

Tentu setiap orang akan ingin didengar.

 

Karena itu, memberikan ruang klarifikasi kepada pihak yang diberitakan bukanlah bentuk kelemahan media. Justru itu menunjukkan profesionalisme dan kematangan jurnalistik.

 

Jika terdapat tuduhan yang benar, beritakan berdasarkan fakta dan bukti.

 

Jika terdapat bantahan, berikan ruang bantahan.

 

Jika terdapat dua perspektif, tampilkan keduanya.

 

Biarkan masyarakat membaca, menilai, dan mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang lengkap.

 

Pers kritis, tetapi tetap beretika

 

Pers yang kuat bukanlah pers yang paling keras dalam menuduh.

 

Pers yang kuat adalah pers yang berani mengungkap fakta sekaligus bertanggung jawab terhadap setiap informasi yang dipublikasikannya.

 

Kritik terhadap pemerintah, pejabat, pengusaha, organisasi maupun masyarakat merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial. Tetapi kritik tersebut harus dibangun berdasarkan data, konfirmasi, verifikasi dan kepentingan publik.

 

Jangan sampai kebebasan pers dipahami sebagai kebebasan untuk menghakimi.

 

Di era media sosial dan digital seperti sekarang, satu judul berita dapat menyebar dalam hitungan menit. Dampaknya terhadap reputasi seseorang juga dapat berlangsung jauh lebih lama.

 

Karena itu, sebelum tombol publish ditekan, ada baiknya seorang jurnalis bertanya kepada dirinya sendiri:

 

Apakah berita ini sudah berimbang? Apakah narasumber sudah dikonfirmasi? Apakah fakta sudah diverifikasi? Apakah judulnya proporsional? Dan apakah pemberitaan ini benar-benar memberikan informasi kepada publik, atau justru menggiring opini?

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sederhana, tetapi sangat menentukan kualitas sebuah karya jurnalistik.

 

Pada akhirnya, pers harus tetap kritis terhadap kekuasaan, tetapi tidak boleh kehilangan etika. Pers harus berani mengungkap fakta, tetapi tidak boleh menghakimi. Dan pers harus membela kepentingan publik tanpa mengorbankan hak seseorang untuk mendapatkan pemberitaan yang adil dan berimbang.

 

Sebab, ketika media kehilangan keseimbangan, yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik narasumber, tetapi juga kepercayaan publik terhadap pers itu sendiri.

 

*)- Pendiri kupasmerdeka.com

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.