“Ilahi Anta Maqsudi”: Doa Para Wali yang Mengajarkan Cinta dan Makrifat kepada Allah
Oleh : Hero Akbar /Moses *)
(KM) — Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi hiruk-pikuk dunia, kalimat dzikir “Ilahi anta maqsudi wa ridhaka matlubi, a’thini mahabbataka wa ma’rifataka” kembali menjadi pengingat bahwa tujuan akhir seorang hamba bukanlah harta, jabatan, ataupun kemuliaan dunia, melainkan ridha Allah SWT.
Kalimat yang berarti, “Ya Allah, Engkaulah tujuan hidupku, ridha-Mu yang aku cari. Anugerahkanlah kepadaku cinta kepada-Mu dan makrifat kepada-Mu,” dikenal luas sebagai wirid dalam tradisi Tarekat Naqsyabandiyah. Dzikir ini menegaskan bahwa seluruh perjalanan spiritual seorang mukmin harus bermuara kepada Allah semata.
Dalam sejumlah riwayat dan literatur tasawuf, doa ini dinisbatkan kepada Syekh Abdul Khaliq al-Ghujduwani (wafat 1220 M), seorang ulama besar dari Ghujduwan, dekat Bukhara, wilayah Uzbekistan saat ini. Beliau dikenal sebagai salah satu mata rantai emas (Golden Chain) Tarekat Naqsyabandiyah dan tokoh yang mengembangkan prinsip-prinsip suluk, termasuk konsep Baz Gasht (kembali kepada Allah).
Di kalangan para salik juga berkembang kisah bahwa doa tersebut diajarkan secara ruhani oleh Nabi Khidir kepada Syekh Abdul Khaliq al-Ghujduwani. Namun, kisah ini merupakan bagian dari tradisi dan riwayat tasawuf, bukan riwayat hadis yang memiliki sanad sebagaimana hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Karena itu, ia dipahami sebagai warisan spiritual dalam lingkungan tarekat, bukan sebagai hadis.
Menariknya, Syekh Abdul Khaliq al-Ghujduwani hidup di kawasan Bukhara, Asia Tengah, sementara Syekh Abdul Qadir al-Jailani hidup dan berdakwah di Baghdad, Irak. Keduanya hidup pada masa yang berdekatan dan sama-sama menjadi tokoh besar dunia tasawuf, meski berasal dari wilayah dan jalur tarekat yang berbeda. Dalam literatur tasawuf, keduanya sering disebut sebagai dua matahari yang menerangi perjalanan ruhani umat Islam.
Bagi para pencari jalan menuju Allah, doa ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah deklarasi tauhid yang menempatkan Allah sebagai tujuan hidup, ridha-Nya sebagai cita-cita, serta cinta dan makrifat sebagai anugerah tertinggi yang tidak dapat diraih hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan penyucian hati.
Di era ketika manusia mudah terpesona oleh gemerlap dunia, munajat “Ilahi anta maqsudi wa ridhaka matlubi” menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya kepemilikan, melainkan pada dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya.
“Ya Allah, Engkaulah tujuan kami. Ridha-Mulah yang kami cari. Anugerahkanlah kepada kami cinta-Mu dan makrifat kepada-Mu.”
*) Penulis adalah Pendiri Media Kupas Merdeka
Leave a comment