Jerit Suara Hati Dan Tangis Nurani Anak Negeri
*Kolom oleh Hero Akbar /Moses
Di tengah gemerlap pembangunan, tingginya gedung-gedung pencakar langit, dan berbagai capaian yang sering dipamerkan kepada publik, masih terdengar jerit suara hati dan tangis nurani dari jutaan anak negeri yang hidup dalam kesulitan.
Mereka adalah rakyat kecil yang setiap hari berjuang mempertahankan kehidupan. Ada yang bangun sebelum matahari terbit untuk mencari nafkah, namun penghasilannya tak cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Ada yang berharap pendidikan mampu mengubah nasib, tetapi terhalang oleh keterbatasan ekonomi. Ada pula yang sakit namun kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.
Ironisnya, negeri yang kaya akan sumber daya alam justru masih menyisakan berbagai persoalan mendasar. Kekayaan alam yang melimpah seharusnya menjadi berkah bagi seluruh rakyat, bukan hanya dinikmati oleh segelintir pihak. Ketika rakyat terus dibebani berbagai kewajiban, sementara kesejahteraan belum merata, muncul pertanyaan yang lahir dari nurani: untuk siapa sesungguhnya pembangunan ini dijalankan?
Jerit hati rakyat bukanlah bentuk kebencian kepada negara. Sebaliknya, itu merupakan tanda cinta yang mendalam terhadap tanah air. Kritik yang disampaikan masyarakat sejatinya adalah panggilan moral agar para pemegang amanah tidak melupakan tujuan utama bernegara, yakni menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Lebih dari sekadar angka pertumbuhan ekonomi, rakyat membutuhkan kepastian hidup, lapangan pekerjaan yang layak, pendidikan yang berkualitas, pelayanan kesehatan yang mudah diakses, serta penegakan hukum yang adil tanpa pandang bulu. Sebab kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur, tetapi juga dari sejauh mana rakyat merasakan manfaat pembangunan tersebut.
Tangis nurani anak negeri juga menjadi pengingat bahwa kekuasaan adalah amanah. Jabatan bukanlah kemuliaan yang harus dibanggakan, melainkan tanggung jawab yang kelak akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan rakyat tetapi juga di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Saatnya semua elemen bangsa mendengar suara-suara yang selama ini mungkin terabaikan. Jangan biarkan jeritan rakyat tenggelam oleh hiruk-pikuk kepentingan politik. Jangan biarkan tangis nurani kalah oleh ambisi kekuasaan.
Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang mampu membungkam suara rakyatnya, melainkan bangsa yang mau mendengar, memahami, dan menghadirkan solusi bagi setiap penderitaan rakyatnya.
Jerit suara hati dan tangis nurani anak negeri hari ini adalah panggilan untuk kembali pada cita-cita luhur para pendiri bangsa: mewujudkan keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
*) Penulis adalah Aktivis Bogor , Pendiri Media Kupas Merdeka
Leave a comment