Gratis dan Berdampak, Rumah Belajar Sabilulungan Bandung Cetak Anak Prasejahtera Melek Literasi dan Berprestasi
BANDUNG (KM) – Rendahnya tingkat literasi dan numerasi di kalangan siswa prasejahtera menjadi keprihatinan yang mendorong lahirnya Rumah Belajar Sabilulungan di Kota Bandung. Lembaga pendidikan nonformal yang bernaung di bawah Yayasan Sabilulungan itu telah beroperasi selama hampir delapan tahun dan secara konsisten memberikan layanan belajar gratis bagi anak-anak dari keluarga berpenghasilan di bawah upah minimum regional (UMR).
Kepala Sekolah Rumah Belajar Sabilulungan, Dini Singadipoera, mengungkapkan bahwa lembaga ini mulai dirintis pada 2018 dan resmi beroperasi pada 9 Januari 2019. Gagasan awalnya muncul dari keprihatinan terhadap masih rendahnya angka pemahaman literasi dan numerasi peserta didik di Jawa Barat dibandingkan daerah lain di Indonesia.
“Banyak anak kelas 9 yang belum menguasai materi pelajaran dasar. Kalau anak-anak dari keluarga sejahtera bisa les di luar, anak prasejahtera tidak punya pilihan itu. Kami hadir untuk mengisi kekosongan itu,” kata Dini saat ditemui disela acara Penampilan Anak Rumah Belajar Sabilulungan di Pendopo Walikota Bandung, Senin (29/6/2026).
Untuk memastikan layanan tepat sasaran, Rumah Belajar Sabilulungan menerapkan proses seleksi ketat. Pihak yayasan mendatangi rumah calon peserta didik untuk memverifikasi kondisi ekonomi keluarga.
Hanya anak dari keluarga yang penghasilan orang tuanya benar-benar berada di bawah UMR yang diterima. Setiap tahun, lembaga ini hanya menerima maksimal 15 anak baru, menyesuaikan kapasitas pengajaran yang tersedia.
Kurikulum yang diterapkan mengikuti mata pelajaran sekolah formal, kecuali pendidikan agama yang diserahkan kepada orang tua. Untuk matematika kelas 1 dan 2, diterapkan metode Gasing yang dikembangkan Prof. Yohanes Surya.
Para pengajar dilatih secara khusus agar mampu menyampaikan materi secara efektif. Pembelajaran IPA juga diperkaya dengan praktik dan percobaan langsung, sedangkan seni budaya dilengkapi dengan kegiatan melukis. Aspek yang paling ditekankan oleh Rumah Belajar Sabilulungan adalah literasi fungsional, bukan sekadar kemampuan membaca teknis.

Keterangan foto: Kegiatan Penampilan Anak Rumah Belajar Sabilulungan di Pendopo Walikota Bandung (29/6).(Dok.KM/Drajat)
Dini menjelaskan, peserta didik dilatih secara bertahap: mulai dari mampu membaca, memahami isi bacaan, menceritakan kembali dengan kalimat sendiri, hingga pada tahap tertinggi yaitu menangkap ide dari bacaan dan menuliskannya kembali dengan gagasan orisinal mereka.
“Kami tidak ingin anak-anak sekadar bisa membaca. Kami ingin mereka menjadi anak yang paham literasi, tidak mudah dipengaruhi hoaks, dan mampu berpikir kritis,” ujar Dini.
Guna memperdalam kompetensi menulis, Rumah Belajar Sabilulungan kini membuka kelas literasi khusus dengan melibatkan sejumlah penulis dan pengarang berpengalaman sebagai pengajar tamu.
Anak-anak sudah mulai dibiasakan menulis jurnal harian, dan hasilnya mulai terlihat. Dini berharap kebiasaan menulis ini akan menjadi bekal jangka panjang bagi para peserta didik. Saat ini lembaga ini memiliki lima guru tetap berbayar dan sekitar 40 relawan yang merupakan lulusan perguruan tinggi terkemuka seperti ITB, UI, UNPAR, dan ITENAS.
Sistem pembelajaran bersifat semi-privat, yakni satu guru mendampingi beberapa anak sehingga perkembangan setiap peserta didik dapat dipantau secara individual. Total peserta didik aktif saat ini mendekati 70 orang, dari jenjang kelas 1 SD hingga kelas 2 SMP.
Hasil belajar peserta didik terbilang menonjol. Rata-rata anak bimbingan Rumah Belajar Sabilulungan menjadi juara kelas di sekolah masing-masing, bahkan ada yang meraih juara umum. Lulusan kelas 6 SD tercatat berhasil diterima di SMP Negeri. Dini meyakini bahwa anak-anak prasejahtera pun mampu berprestasi tinggi apabila mendapat kesempatan dan pendampingan yang setara.
Tantangan membangun motivasi belajar juga tidak luput dari perhatian. Ketika lembaga ini baru berdiri, sebagian besar peserta didik hanya bercita-cita mengikuti jejak pekerjaan orang tuanya. Melalui kunjungan edukasi ke museum, simulasi profesi, serta kunjungan dari pilot dan dokter, wawasan anak-anak meluas. Kini ada yang bercita-cita menjadi astronot.
Dini mengacu pada pengalaman lembaga serupa di Bintaro, Jakarta, yang telah berjalan lebih dari 15 tahun sebagai bukti bahwa model pendidikan gratis berbasis komunitas ini berhasil. Beberapa alumninya telah diterima di perguruan tinggi negeri, termasuk Institut Pertanian Bogor (IPB).
Terkait dukungan pemerintah, Dini menyampaikan bahwa Gubernur Jawa Barat dan wakilnya pernah berkunjung serta memberikan apresiasi. Rumah Belajar Sabilulungan juga telah terdaftar di Dinas Pendidikan.
Meski demikian, operasional lembaga selama ini berjalan secara mandiri, mengandalkan donasi dari relasi pribadi tanpa subsidi rutin dari pemerintah. Dini berharap ke depan ada dukungan yang lebih konkret agar lebih banyak anak prasejahtera dapat terlayani.
“Kami ingin menanamkan keyakinan kepada anak-anak bahwa dengan kerja keras dan semangat, tidak ada yang tidak mungkin. Anak prasejahtera pun bisa meraih cita-cita setinggi mungkin. Mudah-mudahan dari sini juga lahir wartawan-wartawan baru,” pungkas Dini.
Reporter: Drajat
Leave a comment