Rakyat Bukan Sekadar Nama, Rakyat Butuh Dibela Bukan Dijadikan Tameng

Oleh: Hero Akbar / Moses *)

(KM) – Di negeri ini, kata “rakyat” terlalu sering dipakai, tetapi terlalu jarang benar-benar diperjuangkan.
Setiap musim politik datang, rakyat mendadak menjadi kalimat sakral. Semua pidato dipenuhi atas nama rakyat, semua janji dibungkus demi kepentingan rakyat, dan semua kegagalan kerap ditutupi dengan alasan demi rakyat.

Namun setelah sorotan kamera padam, rakyat kembali menjadi penonton yang dipaksa sabar menghadapi kenyataan.
Rakyat bukan sekadar nama untuk dipajang di spanduk kampanye. Rakyat bukan slogan murah yang dijual saat butuh suara.

Rakyat adalah mereka yang setiap hari berjuang keras untuk hidup ,buruh yang diperas tenaga, petani yang dipermainkan harga, nelayan yang dihimpit biaya, guru honorer yang digaji tak manusiawi, hingga pedagang kecil yang terus terdesak oleh kebijakan yang tidak berpihak.

Ironisnya, banyak penguasa justru menjadikan rakyat sebagai tameng politik. Ketika kebijakan dikritik, mereka berlindung di balik narasi “demi rakyat.” Ketika program gagal, rakyat dijadikan alasan untuk meminta pengertian.

Ketika proyek bermasalah, nama rakyat dipakai untuk membungkam kritik. Padahal yang sering terjadi, rakyat hanya menjadi objek penderita, bukan subjek yang didengar. Kebijakan publik seharusnya lahir dari kebutuhan rakyat, bukan dari kepentingan elite.

Tetapi realitas menunjukkan banyak keputusan justru lebih ramah kepada pemilik modal dibanding kepada masyarakat kecil. Harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja sulit, pendidikan mahal, layanan kesehatan tak merata—sementara pejabat sibuk pencitraan dan saling berebut panggung.

Lebih menyakitkan lagi, kritik dari masyarakat sering dianggap ancaman, bukan masukan. Padahal suara rakyat adalah alarm demokrasi.

Ketika rakyat bersuara, itu bukan karena mereka membenci negara, tetapi karena mereka ingin negara hadir secara nyata, bukan hanya lewat baliho dan pidato seremonial.

Membela rakyat bukan soal memberi bantuan sesaat lalu dipublikasikan besar-besaran.

Membela rakyat berarti menghadirkan keadilan dalam kebijakan, keberanian melawan korupsi, keberpihakan pada yang lemah, dan kesungguhan memastikan negara bekerja untuk semua, bukan hanya segelintir orang.

Sudah saatnya para pemegang kekuasaan berhenti menjadikan rakyat sebagai tameng. Rakyat tidak butuh belas kasihan yang dibungkus pencitraan. Rakyat butuh keberanian pemimpin yang benar-benar berdiri di pihak mereka.

Karena pada akhirnya, ukuran kepemimpinan bukan seberapa sering menyebut kata rakyat, tetapi seberapa nyata keberpihakan kepada rakyat itu sendiri.

*) Penulis adalah Pendiri Media Kupas Merdeka

 

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.