Negara Lagi Butuh Uang, Kurban Jangan Dijadikan Celengan Kekuasaan

Oleh; Hero Akbar /Moses *)

(KM) – Di tengah kondisi ekonomi yang semakin menekan rakyat, wacana Menteri Agama yang mengusulkan agar dana kurban diserahkan ke BAZNAS untuk dikelola, justru memantik pertanyaan besar: apakah ibadah umat kini mulai dipandang sebagai sumber pemasukan negara?

Kurban adalah bentuk ketaatan spiritual, bukan instrumen fiskal pemerintah.

Ia lahir dari keikhlasan, bukan dari skema birokrasi. Ketika negara mulai terlalu jauh masuk ke wilayah ibadah personal umat, apalagi dengan narasi “agar lebih terkelola”, publik berhak curiga: ini soal efisiensi, atau soal negara sedang mencari sumber dana baru?

Rakyat hari ini sedang sesak. Harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja sulit, pajak makin menekan, dan berbagai beban ekonomi terus menghimpit kelas menengah ke bawah.

Dalam situasi seperti ini, wajar jika masyarakat mempertanyakan motif di balik ajakan agar dana kurban dipusatkan ke lembaga negara.

Jangan sampai muncul kesan bahwa pemerintah sedang menggeser makna kurban dari ibadah menjadi komoditas administrasi.

Umat selama ini sudah punya mekanisme sendiri melalui masjid, pesantren, panitia lokal, hingga komunitas sosial, yang berjalan bertahun-tahun dengan kepercayaan sosial yang kuat. Mengapa harus dipusatkan? Mengapa harus diarahkan ke lembaga formal negara?

Masalahnya bukan pada BAZNAS semata, tetapi pada cara pandang kekuasaan terhadap dana umat.

Ketika semua potensi sosial ingin ditarik ke pusat kendali negara, publik akan membaca ini sebagai gejala sentralisasi yang berbahaya. Hari ini kurban, besok mungkin sedekah, lusa mungkin semua ibadah sosial harus lewat restu birokrasi.

Negara seharusnya hadir sebagai fasilitator, bukan pengambil alih.

Pemerintah cukup mengawasi transparansi, bukan menjadi penentu utama ke mana umat harus menyalurkan ibadahnya.

Jangan ajari rakyat tentang keikhlasan sambil membawa proposal pengelolaan anggaran.

Karena jika ibadah pun mulai dibungkus dengan logika pemasukan negara, maka yang hilang bukan hanya kepercayaan publik, tetapi juga kesucian makna kurban itu sendiri.

Kurban bukan untuk menambal APBN. Kurban adalah pengorbanan kepada Tuhan, bukan setoran kepada kekuasaan.

*) Penulis adalah Aktivis dan Pemerhati Sosial, Pemred Media Kupas Merdeka

 

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.