Menghantar Pulang Indonesia Kembali Kepada Nusantara

Merestorasi Marwah Bangsa Menuju Imperium Konstitusional

Oleh: Kanjeng Senopati *)

(KM) – *GENERASI* saat ini sedang berada di titik nadir. Hancur lebur diterjang badai kapitalisme, liberalisme global dan sekulerisme yang dirancang sedemikian rupa dengan by design untuk menjauhkan kita dari akar sejarah dan jatidiri.

Kita melihat bangsa yang kaya akan nilai luhur peradaban ini kehilangan navigasinya sebagai kompas petunjuk arah sebagai cita-cita dan arah tujuan negara.

Bangsa ini sedang terjebak dalam pragmatisme materi yang menghamba pada sistem asing orentalis yahudi (republik – demokrasi).

Inilah saatnya kita berhenti sekadar mengeluh agar sadar kalau kita ternyata salah langkah dalam mengamalkan sebuah tatanan sistem orentalis yang akhirnya kita terjebak dalam doktrin “NKRI harga mati” sebagai dogma yang menyesatkan dan partai politik sebagai penguasa negara, sungguh naif bangsa ini.

Padahal sistem apapun tidak ada yang “harga mati” karena dalam sejarah tidak satupun sistem negara yang kekal didunia ini, entah itu kekhalifahan atau monarkhi apalagi sistem “republik” yang bermazhab “demokrasi.”

Inilah saatnya momentum untuk kita memutar haluan mengembalikan Indonesia kembali kepada Nusantara.

Merebut kembali fitrah, marwah dan jatidiri bangsa Nusantara sebagai bangsa yang bermartabat.

Langkah pertama yang harus kita ambil adalah keberanian untuk melakukan perubahan dan perbaikan yaitu “hard reset”.

Kita butuh perombakan, pembaharuan dan penataan ulang total building sistem tatanan negara bangsa. Bukan sekadar tambal sulam atau gali lobang tutup lobang birokrasi seperti yang sudah sering dilakukan oleh para elite rezim republik ini.

Kita harus mengembalikan tatanan negara pada khitah sejarahnya dengan secara konstitusi bertahap monarki non-absolut (Konstitusional).

Sebuah sistem di mana kedaulatan bukan di tangan para elite politisi yang lahir dari lobi-lobi modal, uang, sogok menyogok untuk membangun kekuasaan.

Melainkan pada figur sosok pemimpin yang memegang teguh amanah bukan membangun kekuasaan tapi membangun peradaban. Yang orentasinya kembali kepada titik budaya dan sejarah. Biasanya sistem ini tunduk pada konstitusi yang melindungi rakyat.

Kedaulatan wilayah harus dikembalikan kepada owner (awal pemilik Nusantara) sebagai pemegang hak waris wilayah teritorial dan pemegang funder (keuangan) yang mewariskan nilai spiritual, budaya, tanah ulayat dan kekayaan sumber daya alam.

Sejarah peradaban kerajaan dan kesultanan yang lebih dulu dan jauh sebelum batas-batas administratif kolonial yang berhasil memecah belah bangsa kita dengan sistem kolonial “republik”.

Ini bukan sekadar nostalgia, ini adalah upaya memutus rantai eksploitasi kapitalistik yang menguras bumi pertiwi tanpa sisa bagi masyarakat adatnya.

Mengembalikan tatanan tradisi budaya adiluhung di dalam sistem bermasyarakat dan bernegara ini termasuk dalam rangka nguri-nguri budaya adiluhung dan kearifan lokal bangsa Nusantara yaitu Imperium Kesultanan.

Bukan berarti kita anti tatanan modern (republik). Tapi tak kala tatanan moderen ternyata tidak bisa menjawab tantangan peradaban moderen itu sendiri dan republik (tatanan modern) tidak dapat memberikan kebaikan dan kemaslahatan jauh dari arah cita-cita dan tujuan negara itu sendiri.

Maka tatanan tersebut harus direset ulang harus kembali ke “titik nol” karena hanya membawa negara hancur dan rakyat terpuruk.

Karena dahulu didalam tatanan lama (monarkhi) para elite kerajaan kesultanan mereka jelas arah, cita cita tujuan negaranya yaitu untuk membangun sebuah PERADABAN.

Berbeda bila didalam tatanan modern saat ini. Para elite rezim republik itu arah, cita-cita dan tujuannya adalah untuk membangun KEKUASAAN.

Adanya restorasi ini harus dipersenjatai dengan teknologi paling mutakhir di peradaban manusia Nanoteknologi dan Komputasi Kuantum.

Kita membutuhkan sistem Base Biner yang tegas hitam atau putih, jujur atau hancur. Dengan bantuan Rekam Jejak Digital Nano, setiap tindak-tanduk pemangku kebijakan akan terekam secara atomik, mustahil dimanipulasi dan transparan secara mutlak.

Didalam tatanan lama sangat sulit dan takut untuk melakukan korupsi. Disana tidak ada lagi ruang abu-abu bagi korupsi dan manipulasi atau pengkhianatan terhadap kedaulatan bangsa karena langsung instan sanksinya dan hukumannya berat.

Lebih jauh lagi, saya harus membangun Quantum Base System. Sebuah sistem infrastruktur digital berdaulat yang menggunakan enkripsi kuantum untuk melindungi data hak waris kultur dan kekayaan negara dari serangan siber asing.

Dengan logika kuantum, keadilan adat bisa dijalankan secara presisi dan distribusi ekonomi rakyat bisa diatur secara otomatis melalui keterikatan sosial yang adil, tanpa campur tangan spekulan pasar global para elite global.

Perjuangan menuju perubahan dan perbaikan ini memang berat. Tapi ini harus dijalankan karena menuntut kita untuk menghancurkan mentalitas lama, tradisi lama yang hanya membikin rusak negara dan memperpuruk rakyat yaitu stag pada mempertahankan “status quo”.

Dengan membangun tatanan baru peradaban baru Indonesia baru yang memadukan kesucian spiritual dan tradisi budaya dengan kecanggihan teknologi.

Kita tidak boleh lagi menjadi penonton di tanah sendiri.

Mari kita rebut kembali marwah itu. Biarlah teknologi nano dan kuantum menjadi pedang dan perisai kita dalam menjaga titah tatanan luhur yang telah diwariskan dari para leluhur.

Sudah saatnya Nusantara bangkit sebagai kekuatan yang berdaulat secara spiritual agama dan budaya, mandiri secara ekonomi dan tak terkalahkan secara teknologi.

Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang kembali kepada titik sejarah.

Kembali kepada jejak ke titik sejarah adalah dengan membangun peradaban dan bukan membangun kekuasaan.

Bangun kembali peradaban.. Peradaban itu bukan ditunggu tapi harus dijemput dan dibangun..!

Saat ini momen emas untuk mengembalikan Indonesia kembali kepada Nusantara.._

 

*) Penulis adalah Pengamat Geopolitik Geostrategi dan Pengamat Sejarah dan Peradaban

 

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.