HJB ke-544: Bogor Jangan Hanya Hijau Hutannya, Tetapi Juga Hijau Harapan Rakyatnya

Pendiri kupasmerdeka.com- Hero Akbar N,M.M/ Moses

Kolom oleh: Hero Akbar/ Moses*)

 

Setiap tanggal 3 Juni, masyarakat Bogor kembali memperingati Hari Jadi Bogor (HJB). Tahun 2026 ini, Bogor memasuki usia ke-544 sebuah usia panjang yang seharusnya bukan hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga cerminan kedewasaan pembangunan dan keberpihakan terhadap rakyat.

 

Di berbagai sudut kota dan kabupaten, ucapan selamat bertebaran. Spanduk, baliho, panggung hiburan, hingga seremoni pemerintahan kembali menghiasi momentum tahunan tersebut. Narasi tentang kemajuan daerah, pembangunan berkelanjutan, dan kawasan hijau kembali digaungkan sebagai identitas Bogor.

 

Namun di balik semua itu, ada pertanyaan sederhana yang terus hidup di tengah masyarakat:

 

“Bogor ayeuna geus jadi naon keur masyarakatna? Naha ukur leuweungna nu hejo, tapi masyarakatna teu ngejo?”

 

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung kritik sosial yang sangat dalam. Sebab selama ini Bogor memang dikenal sebagai daerah yang hijau secara geografis. Hutan masih terbentang, pegunungan masih berdiri megah, dan kekayaan alam masih menjadi kebanggaan daerah. “Leuweung hejo” telah menjadi identitas yang terus dipertahankan.

 

Tetapi persoalannya, apakah masyarakatnya juga ikut “hejo”? Apakah rakyat benar-benar merasakan kesejahteraan yang tumbuh bersama pembangunan?

 

Pertanyaan ini penting, sebab ukuran keberhasilan sebuah daerah tidak bisa hanya dilihat dari estetika kota, jumlah proyek, atau pertumbuhan investasi. Pembangunan sejatinya baru dianggap berhasil ketika mampu menghadirkan rasa aman, keadilan, dan kehidupan yang layak bagi masyarakat kecil.

 

Realitas di lapangan justru menunjukkan bahwa masih banyak warga Bogor yang hidup dalam berbagai keterbatasan. Di sejumlah wilayah, jalan rusak masih menjadi persoalan bertahun-tahun. Akses kesehatan belum merata, terutama di daerah pelosok. Pendidikan masih menyisakan ketimpangan, sementara lapangan pekerjaan belum cukup mampu menyerap generasi muda yang terus bertambah setiap tahun.

 

Di wilayah Bogor Barat dan kawasan penyangga lainnya, masyarakat masih berhadapan dengan persoalan tambang, kerusakan lingkungan, longsor, hingga konflik agraria yang tak kunjung selesai. Ironisnya, masyarakat sering kali menjadi pihak yang paling terdampak tetapi paling sedikit didengar.

 

Petani masih kesulitan pupuk dan stabilitas harga hasil panen. Guru honorer masih hidup dalam ketidakpastian kesejahteraan. Anak-anak muda masih banyak yang harus meninggalkan daerahnya demi mencari pekerjaan di kota lain. Sementara sebagian masyarakat kecil masih merasa bahwa pembangunan hanya dekat dengan mereka yang memiliki akses kekuasaan dan modal.

 

Di titik inilah Hari Jadi Bogor seharusnya tidak hanya menjadi agenda seremoni, melainkan momentum evaluasi bersama. Pemerintah daerah perlu menjadikan HJB sebagai ruang refleksi yang jujur: sudah sejauh mana pembangunan benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat?

 

Sebab terlalu lama pembangunan sering diukur dari angka-angka di atas kertas. Pertumbuhan ekonomi naik, investasi meningkat, kunjungan wisata bertambah. Tetapi di saat yang sama, rakyat kecil masih bergulat dengan biaya hidup, pengangguran, dan ketidakpastian masa depan.

 

Bogor tentu membutuhkan pembangunan infrastruktur. Bogor juga perlu investasi dan modernisasi. Tetapi semua itu harus berjalan seiring dengan pembangunan manusia. Jangan sampai daerah terlihat maju secara fisik, tetapi masyarakatnya tertinggal secara sosial dan ekonomi.

 

Konsep “hijau” seharusnya tidak berhenti pada lingkungan dan tata kota semata. Hijau juga harus berarti harapan. Hijau berarti masyarakat memiliki kesempatan hidup yang lebih baik. Hijau berarti petani bisa sejahtera, pemuda mendapat pekerjaan, pendidikan terjangkau, layanan kesehatan mudah diakses, dan rakyat kecil merasa dilindungi oleh pemerintahnya.

 

Karena sejatinya, keberhasilan sebuah daerah tidak ditentukan oleh megahnya gedung pemerintahan atau indahnya kawasan wisata. Keberhasilan daerah ditentukan oleh seberapa banyak rakyat kecil yang mampu tersenyum tanpa dibebani kecemasan hidup setiap hari.

 

HJB ke-544 seharusnya menjadi pengingat bahwa sejarah panjang Bogor tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu. Sejarah itu harus diterjemahkan menjadi keberanian menghadirkan keadilan sosial di masa kini.

 

Masyarakat hari ini tidak hanya membutuhkan ucapan selamat dan panggung hiburan. Mereka membutuhkan bukti nyata bahwa pemerintah benar-benar hadir untuk mereka. Bahwa pembangunan bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dirasakan.

 

Jika hari ini masih terdengar suara masyarakat yang berkata, “Leuweung hejo, masyarakatna teu ngejo,” maka suara itu bukan kebencian terhadap daerahnya sendiri. Itu adalah alarm sosial. Sebuah tanda bahwa masih ada jarak antara pembangunan dan kenyataan hidup rakyat.

 

Dan alarm seperti itu tidak boleh diabaikan.

 

Di usia Bogor yang ke-544, harapan masyarakat sebenarnya sederhana: hidup yang lebih layak, kesempatan yang lebih adil, dan masa depan yang lebih pasti. Mereka ingin melihat Bogor bukan hanya hijau hutannya, tetapi juga hijau harapan rakyatnya.

 

Selamat Hari Jadi Bogor ke-544. Semoga Bogor semakin dewasa dalam pembangunan, semakin berani mendengar rakyat, dan semakin mampu menghadirkan kesejahteraan yang nyata bagi semua.

 

*) Pendiri kupasmerdeka.com

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.