“Bogor Beres”: Slogan atau Kenyataan?

Pendiri kupasmerdeka.com, Hero Akbar N/ Moses

Oleh: Hero Akbar /Moses *)

(KM) – Ketika pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bogor mengusung slogan “Bogor Beres, Bogor Maju”, publik tentu berharap lahirnya perubahan nyata, bukan sekadar rangkaian kata yang enak dipasang di baliho dan media sosial. Dengan tiga misi utama — Bogor Cerdas, Bogor Sehat Sejahtera, dan Bogor Lancar — pemerintah dituntut membuktikan bahwa jargon tersebut benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat.

Namun pertanyaannya sederhana: sudah seberapa “beres” Kota Bogor hari ini?

Di lapangan, masyarakat masih menghadapi persoalan klasik yang seolah tak pernah selesai. Kemacetan di sejumlah titik utama masih menjadi keluhan harian warga. Tata ruang dan parkir semrawut masih terlihat di banyak kawasan. Belum lagi persoalan banjir, sampah, hingga pelayanan publik yang dinilai belum sepenuhnya cepat dan responsif.

Jika “Bogor Lancar” menjadi misi, maka ukuran keberhasilannya bukan hanya pembangunan fisik atau seremoni peresmian proyek. Yang dilihat masyarakat adalah apakah mereka masih terjebak macet berjam-jam, apakah angkutan publik sudah nyaman, dan apakah pedestrian benar-benar aman digunakan warga.

Begitu pula dengan “Bogor Cerdas”. Kota cerdas bukan sekadar digitalisasi aplikasi atau slogan modernisasi birokrasi. Kota cerdas berarti pemerintah mampu menghadirkan pendidikan yang merata, ruang kreatif bagi anak muda, serta kebijakan yang berbasis kebutuhan masyarakat, bukan sekadar pencitraan administratif.

Sementara “Bogor Sehat Sejahtera” juga harus diukur dari kondisi riil masyarakat kecil. Harga kebutuhan pokok, akses kesehatan, lapangan kerja, hingga ketimpangan sosial menjadi indikator nyata. Sebab masyarakat tidak hidup dari slogan, tetapi dari kepastian ekonomi dan pelayanan yang mereka rasakan setiap hari.

Pemerintah Kota Bogor tentu membutuhkan waktu bekerja. Namun kritik publik juga tidak bisa dianggap sebagai gangguan. Justru kritik adalah pengingat bahwa masyarakat ingin slogan “Bogor Beres” dibuktikan dengan tindakan nyata, transparansi, dan keberanian menyelesaikan persoalan mendasar kota.

Jangan sampai slogan besar hanya berhenti menjadi identitas politik lima tahunan tanpa perubahan signifikan yang dirasakan warga. Karena pada akhirnya, masyarakat tidak akan menilai dari spanduk dan pidato, melainkan dari kenyataan yang mereka hadapi setiap hari di jalan, pasar, sekolah, hingga pelayanan pemerintahan.

“Bogor Beres” seharusnya bukan sekadar kalimat kampanye. Ia harus menjadi janji yang benar-benar ditepati.

*) Penulis adalah Aktivis Bogor, Pendiri Media Kupas Merdeka

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.