Ironi di Balik Megahnya Pembangunan di Tenjo: Warga Hidup di Gubuk Reot, Menanti Janji Rutilahu
BOGOR (KM) – Di tengah pesatnya pembangunan proyek hunian mewah seperti Podomoro di wilayah Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, potret kemiskinan ekstrem masih menghantui warga asli. Salah satunya dialami oleh Watni, warga Kampung Tegal RT 01 RW 02, Desa Cilaku, yang sudah belasan tahun bertahan di rumah tidak layak huni (Rutilahu).
Kondisi rumah Watni sangat memprihatinkan, atap bocor di berbagai sisi dan tembok rapuh yang sewaktu-waktu mengancam keselamatan jiwanya. Ironisnya, pemandangan gubuk reot ini berada di wilayah yang digadang-gadang sebagai penopang baru perekonomian Bogor bagian barat.
Kesenjangan mencolok ini memantik reaksi keras dari Forum Komunikasi Bumi Putra (FKBP) Bogor Barat. Bram, perwakilan pemuda FKBP, menyatakan bahwa kehadiran proyek-proyek raksasa di Tenjo seolah tidak memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat kecil di sekitarnya.
“Tah bang daerah barat Kecamatan Tenjo masih keneh aya imah modelan kieu (Lihat bang, di daerah barat Tenjo masih ada rumah model begini). Seharusnya menjadi perhatian publik dan pejabat di Pemkab Bogor,” ujar Bram dengan nada prihatin, Rabu (8/4).
Bram menambahkan, Watni yang kini hidup sebatang kara adalah bukti nyata kegagalan pemerataan pembangunan.
“Yang digembor-gemborkan peningkatan perekonomian di Kecamatan Tenjo dengan adanya Podomoro, ternyata tidak ada efek terhadap masyarakat sekitar,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, pihak Pemerintah Desa Cilaku mengklaim telah berupaya melakukan langkah administratif. Kepala Desa Cilaku menyebutkan bahwa pihaknya sudah berkali-kali mengusulkan rumah Watni untuk mendapatkan bantuan perbaikan.
“Saya cek dulu pak. Sudah diajukan pengajuan Rutilahu, sudah dua kali pak pengajuan Rutilahu,” jelas Kepala Desa saat dikonfirmasi via pesan singkat WhatsApp.
Meski sudah dua kali diajukan, hingga kini belum ada realisasi nyata dari pemerintah daerah. Kisah Watni kini menjadi pengingat pahit bahwa di balik gemerlap pembangunan kota mandiri, masih ada warga yang harus bertaruh nyawa di bawah atap yang hampir ambruk.
Reporter: Septiawan
Leave a comment