Rahmat Ramadan Jika Lapar Tak Menggugah Nurani Maka Puasa Hanya Formalitas

Pendiri kupasmerdeka.com, Hero Akbar N/ Moses

Kolom oleh Hero Akbar / Moses*)

Ramadan bukan sekadar seremoni tahunan umat Islam. Ia adalah panggilan langit untuk mengguncang kesadaran manusia.

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi merasakan derita mereka yang hidup dalam kekurangan setiap hari.

Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW , ibadah bukan berhenti pada ritual, melainkan melahirkan kepedulian sosial yang nyata.

Lapar dalam Ramadan adalah bahasa ALLOH SWT agar manusia belajar memahami penderitaan sesamanya. Jika sebulan penuh kita merasakan perut kosong namun tetap abai pada jeritan kaum miskin, maka ada yang keliru dalam cara kita memaknai puasa.

Ironisnya, setiap Ramadan meja-meja penuh hidangan tersaji berlimpah, sementara di sudut-sudut negeri masih banyak keluarga yang berbuka dengan apa adanya bahkan ada yang tak tahu bagaimana esok bisa makan. Ketimpangan ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga krisis empati.
Ramadan sejatinya adalah momentum revolusi batin.

Ia mengajarkan bahwa harta hanyalah titipan, jabatan adalah amanah, dan kekuasaan akan dimintai pertanggungjawaban. Bagi para pemimpin, Ramadan bukan hanya soal safari ke masjid dan pembagian simbolis bantuan, tetapi refleksi mendalam, sudahkah kebijakan berpihak kepada rakyat kecil?

Puasa melatih kesabaran, tetapi bukan berarti membungkam ketidakadilan. Puasa menundukkan hawa nafsu, tetapi bukan untuk meninabobokan nurani terhadap kemiskinan struktural.

Justru dari rasa lapar itu seharusnya lahir keberanian moral untuk memperjuangkan keadilan sosial.
Rahmat Ramadan bukan turun kepada mereka yang sekadar menahan diri dari makan dan minum.

Rahmat itu hadir bagi mereka yang menjadikan puasanya sebagai energi perubahan yang tangan dan hatinya ringan membantu, yang kebijakannya membela yang lemah, dan yang kekuasaannya tidak menindas.

Jika setelah Ramadan berlalu kemiskinan tetap dianggap biasa, ketimpangan dibiarkan, dan penderitaan rakyat dipandang angka statistik semata, maka puasa hanya menjadi rutinitas tanpa makna.
Ramadan datang setiap tahun.

Tetapi belum tentu setiap tahun kita benar-benar berubah.

 

*) –  Pendiri kupasmerdeka.com

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.