Ironi Pendidikan di Lingkar Tambang : Saat Kebijakan Penutupan Memutus Asa Siswa TK Lentera Jaya Makmur
BOGOR (KM) – Gelak tawa anak anak dan hangatnya suasana buka puasa bersama di TK Lentera Jaya Makmur, Kp. Kadaung, Desa Rengasjajar, Cigudeg, pada Jumat (6/2), seolah menutupi awan mendung yang sedang menggelayuti yayasan tersebut. Di balik kemegahan gedung dan rangkaian penutupan Pesantren Kilat (Sanlat) yang sukses digelar, tersimpan kecemasan mendalam akan keberlangsungan pendidikan grtis bagi warga sekitar.
Sekolah yang dikelola oleh Yayasan Darma Gunawan Mulia ini sejatinya adalah buah manis dari operasional perusahaan andesit PT Batu Jaya Makmur. Namun, kebijakan penutupan pertambangan di wilayah Cigudeg oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat beberapa bulan lalu kini mulai memakan korban, bukan hanya pekerja, melainkan juga masa depan anak usia dini.
Selama ini, TK Lentera Jaya Makmur menjadi oase bagi 40 siswa yang menimba ilmu tanpa dipungut biaya sepeser pun. Seluruh biaya operasional, mulai dari buku, alat tulis, seragam, hingga program pemberian makanan bergizi dan pemeriksaan kesehatan rutin (SDIDTKA) bersama Puskesmas Lebakwangi sepenuhnya ditanggung oleh CSR perusahaan.
Namun, sejak aktivitas tambang dihentikan paksa oleh regulasi, kucuran dana tersebut otomatis terhenti.
“Jelas dengan adanya penutupan tambang, sekolah ini terkena dampak. Pengajar juga belum mendapat gaji karena kami sadar pihak perusahaan yang menyokong biaya operasional sekarang sedang tidak beroperasi,” ungkap Nisa, salah satu pengajar yang tetap bertahan demi pengabdian.

Keterangan foto: Pengajar TK Lentera Jaya Makmur ketika menceritakan kondisi yang sedang dialami yayasan. Foto : Bayu/KM
Kebijakan penutupan tambang oleh Pemprov Jabar ini menimbulkan gejolak keuangan internal yang serius bagi yayasan. Para guru kini harus bekerja tanpa upah, berjuang meyakinkan wali murid agar anak-anak tidak ikut memikirkan beban finansial sekolah.
Ironisnya, kebijakan yang mungkin diambil atas nama regulasi atau lingkungan ini justru berpotensi menciptakan masalah sosial baru, ancaman putus sekolah.
“Kami akan tetap mengajar walau sampai saat ini belum mendapat gaji. Kami paham kondisi perusahaan tambang milik yayasan ini sedang tidak beroperasi,” tambah Nisa dengan nada getir.
Tanpa adanya solusi atau masa transisi yang jelas dari pemerintah, fasilitas pendidikan yang telah terbangun megah ini terancam menjadi monumen mati. Hak anak-anak untuk tumbuh optimal sesuai potensinya kini dipertaruhkan di meja kebijakan yang tampaknya kurang memperhitungkan dampak domino terhadap sektor pendidikan lokal.

Keterangan foto: Para murid TK Lentera Jaya Makmur ketika mengikuti acara buka bersama di ruangan belajar bersama para guru dan orang tuanya. Dok foto Bayu/KM
Kegiatan buka bersama dan pembagian makanan untuk warga sekitar kali ini mungkin menjadi salah satu sisa sisa napas terakhir dari kepedulian perusahaan yang terkesan sedang dilumpuhkan tersebut.
Jika pemerintah tidak segera meninjau ulang dampak kebijakan penutupan ini, pendidikan gratis di Cigudeg ini tinggal menunggu waktu untuk gulung tikar.
Reporter: Septiawan
Leave a comment