PSI Dinilai Sulit Menggeser Basis Massa PDIP
JAKARTA (KM) — Upaya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk merebut basis massa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dinilai tidak mudah. Sejumlah pengamat politik menilai PDIP masih memiliki basis pemilih yang kuat dan relatif stabil, sehingga sulit digeser oleh partai baru.
Executive Director Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, mengatakan bahwa kekuatan PDIP terletak pada stabilitas basis pemilihnya. Menurut dia, kondisi tersebut berbeda dengan partai-partai baru yang cenderung mengalami fluktuasi elektoral—mudah naik, tetapi juga cepat turun.
“Stabilitas pemilih menjadi persoalan serius bagi partai-partai yang ingin menembus dominasi PDIP,” ujar Dedi dalam diskusi public yang diselenggarakan oleh P3S, Selasa (3/2/2026).
Pengamat politik dari P3S, Jerry Massie, menilai strategi PSI yang sejak awal menyasar basis massa PDIP di wilayah Jawa Tengah, Bali, sebagian Sumatera Utara, dan DKI Jakarta sebagai langkah yang kurang realistis. Ia menekankan bahwa basis pemilih PDIP terbentuk melalui proses panjang yang bersifat historis dan ideologis.
“Basis massa PDIP itu sangat kuat. Tidak mudah direbut, apalagi oleh PSI,” kata Jerry.
Jerry bahkan mengibaratkan langkah PSI seperti “semut menantang gajah”. Ia menilai PSI terlalu percaya diri tanpa dukungan kekuatan elektoral yang memadai. Menurutnya, ketika basis pemilih telah dikuasai partai besar seperti PDIP, PKB, atau PKS, ruang kompetisi bagi partai kecil menjadi sangat terbatas.
Dalam diskusi tersebut juga disampaikan bahwa wilayah seperti Papua tidak dapat dijadikan tolok ukur utama dalam perhitungan politik nasional. Perebutan suara tetap bertumpu pada wilayah dengan jumlah pemilih besar, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera.
Para pengamat sepakat, tanpa strategi politik yang luar biasa dan diferensiasi yang jelas, peluang PSI untuk menggeser dominasi PDIP di basis pemilih tradisionalnya masih sangat kecil.
Reporter:rso
Leave a comment