Ironi Jalan Nasional Jasinga–Cigudeg: Pemuda Bogor Barat Kritik Kelalaian Pemerintah Dengann Tambal Lubang Pakai Alat Seadanya
BOGOR (KM) – Memasuki bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah, aksi heroik sekaligus memprihatinkan terjadi di ruas Jalan Raya Nasional Jasinga–Cigudeg, Kabupaten Bogor. Sejumlah pemuda yang tergabung dalam Komunitas Pemuda Bogor Barat turun ke jalan untuk menambal lubang-lubang besar yang mengancam nyawa pengendara, Sabtu (21/2).
Aksi ini dipicu oleh kondisi jalan yang kian rusak parah, namun tak kunjung diperbaiki oleh instansi terkait. Dengan peralatan seadanya, para pemuda menutup lubang-lubang yang kerap menyebabkan kecelakaan, terutama bagi pengendara roda dua.
Para relawan menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar kegiatan sosial biasa, melainkan sebuah protes keras terhadap pemerintah pusat.
“Ini adalah bukti telanjang bahwa negara absen. Jalan nasional yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dibiarkan rusak, sementara rakyat dipaksa mengambil alih peran yang bukan kewenangannya,” ujar mereka dalam pernyataan bersama.
Mereka menilai, pembiaran jalan rusak ini telah melanggar Pasal 16 ayat (1) UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, yang menegaskan bahwa perbaikan jalan nasional adalah kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui BPJN.
Kekecewaan para pemuda semakin memuncak mengingat masyarakat rutin membayar pajak kendaraan dan pajak lainnya. Namun, fasilitas publik yang mereka terima justru jauh dari kata layak.
“Pajak yang setiap hari dibayarkan warga seharusnya kembali dalam bentuk fasilitas publik yang layak, salah satunya jalan akses yang diperhalus. Kami berharap pemerintah segera hadir, sehingga kepercayaan rakyat kembali terbangun,” tegas para inisiator aksi tersebut.
Diketahui, Jalan Raya Nasional Jasinga–Cigudeg merupakan urat nadi vital bagi mobilitas ekonomi dan sosial warga Bogor Barat. Genangan air yang sering menutupi lubang aspal saat hujan turun dianggap sebagai “jebakan maut” bagi masyarakat yang melintas.
Aksi nyata ini melibatkan berbagai elemen, mulai dari KNPI, Karang Taruna, jurnalis, hingga penggiat sosial lingkungan. Mereka mendesak agar pemerintah tidak lagi bersembunyi di balik alasan birokrasi dan segera melakukan perbaikan menyeluruh sebelum lebih banyak nyawa melayang di jalur tengkorak tersebut.
Reporter: Septiawan
Leave a comment