SERUAN NURANI: KETIKA NEGARA KEHILANGAN CINTA
Oleh: Purn TNI Deni Heryanto *)
Saudaraku yang saya hormati,
Hari ini kita tidak sedang membicarakan sekitar judi online. Kita sedang membicarakan wajah nurani bangsa.
Sebab kejahatan yang paling berbahaya bukanlah yang tersembunyi, melainkan yang diterima sebagai kewajaran.
Ketika kejahatan tumbuh subur, itu bukan karena negara tidak mampu, tetapi karena kehendak moralnya telah dilemahkan.
Judi online hanyalah gejala.
Akar sesungguhnya adalah lunturnya rasa cinta dan kasih sayang dalam diri manusia yang memegang kekuasaan, serta sistem yang lebih sibuk menjaga stabilitas semu daripada melindungi jiwa-jiwa yang terluka.
Kita hidup di negeri yang penuh aturan, namun miskin keberanian untuk menegakkannya secara utuh. Pasal dibacakan, vonis dijatuhkan, tetapi kebenaran sering berhenti di batas yang aman bagi elite.
Hukum seharusnya menjadi pelindung yang lemah, namun ketika ia kehilangan cinta kasih sayang ia berubah menjadi alat tawar-menawar kepentingan.
Yang dikorbankan selalu sama: rakyat kecil, keluarga yang hancur, dan generasi muda yang terseret dalam lingkaran candu dan keputusasaan.
Sementara itu, kejahatan besar berganti nama, berganti wajah, dan berganti pelindung. Negara tidak runtuh karena kurangnya undang-undang. Negara runtuh ketika manusia di dalamnya berhenti mencintai kebenaran.
Saat uang haram lebih dipercaya daripada nurani, saat dosa dikelola alih-alih dihentikan, saat keadilan hanya berani menyentuh yang lemah, maka sesungguhnya kita sedang menyaksikan krisis moral, bukan krisis hukum.
Satu orang bisa dihukum, tetapi sistem yang membiarkannya tumbuh harus dipertanyakan. Jika tidak, maka hukuman hanya menjadi tontonan, bukan penyembuhan.
Perlawanan sejati bukanlah amarah tanpa arah. Perlawanan sejati adalah keberanian menjaga nurani tetap hidup di tengah sistem yang mengajarkan kompromi tanpa batas.
Keberanian untuk berkata: ini salah, meski semua orang diam. Ini melukai, meski menguntungkan. Ini harus dihentikan, meski mengguncang kenyamanan.
Server bisa diblokir, rekening bisa diganti, narasi bisa dikendalikan. Namun ada satu hal yang tidak bisa dibungkam: suara nurani manusia.
Selama kita masih peduli pada nasib sesama, selama kita masih percaya bahwa negara ada untuk melindungi, bukan memanen penderitaan, maka harapan belum sepenuhnya padam.
Mari kita rawat kembali cinta pada keadilan, kasih sayang pada sesama, dan keberanian untuk menegakkan kebenaran. Karena tanpa cinta, hukum kehilangan makna, dan negara kehilangan jiwa.
*) Penulis adalah Pengamat Sosial dan Analis Spiritual
Leave a comment