Tugu Kujang: Antara Identitas Budaya dan Tantangan Modernitas Bogor
Oleh : Hero Akbar/Moses )*
(KM) — Bogor kembali menjadi sorotan setelah simbol kebanggaannya, Tugu Kujang, muncul dalam sejumlah perbincangan publik mengenai pelestarian budaya lokal dan arah pembangunan Bogor, Ikon yang berdiri tegak dengan Tugu Panca Karsa di kawasan Sentul itu tidak hanya sekadar monumen, tetapi telah menjadi representasi identitas Sunda, khususnya masyarakat Bogor yang menjunjung tinggi sejarah Padjajaran.
Namun, dibalik kekokohan simbol tersebut, tersimpan pertanyaan penting: Apakah Tugu Kujang masih sekadar ornamen atau sudah menjadi bagian dari kesadaran budaya warga Bogor?
Kujang, sebagai senjata khas tradisional Sunda, memiliki makna filosofis yang dalam: keberanian, keteguhan, serta kedekatan manusia dengan alam. Tetapi, bagi sebagian masyarakat urban yang hidup dalam ritme modern, nilai-nilai tersebut tampaknya mulai terpinggirkan. Tugu Kujang sering dipandang hanya sebagai “spot foto” atau penanda arah, bukan sebagai pengingat jati diri.
Di sinilah muncul kritik bahwa pembangunan kabupaten Bogor selama ini terlalu mengejar estetika luar tanpa dibarengi penguatan edukasi mengenai makna simbol-simbol budaya.
Meski Tugu Kujang dipertahankan sebagai landmark, keberadaan simbol tersebut seharusnya dibarengi kebijakan pelestarian budaya Sunda yang lebih menyentuh masyarakat, misalnya melalui kurikulum lokal, pagelaran budaya, hingga revitalisasi situs-situs sejarah Padjajaran.
Tanpa itu semua, Tugu Kujang akan terus berdiri megah, namun maknanya tidak lagi mengakar.
Tidak dapat dipungkiri, Tugu Kujang telah menjadi magnet wisata. Banyak pendatang menjadikannya ikon Bogor. Namun, beberapa pihak menilai komersialisasi simbol ini harus diimbangi pelestarian nilai. Wisata budaya bukan hanya soal spot foto, tetapi tentang pengalaman dan pemahaman.
Pemerintah daerah dinilai perlu menata ulang kawasan ini agar tidak hanya menjadi pusat arus kendaraan, tetapi juga ruang yang mengundang masyarakat untuk mengenal sejarah dan budaya.
Ke depan, publik berharap Tugu Kujang bukan sekadar monumen visual, melainkan simbol yang benar-benar menghidupkan kembali kesadaran budaya Sunda di tengah masyarakat Bogor. Upaya memperkuat identitas lokal bukan untuk menolak modernitas, melainkan agar perkembangan Bogor tetap memiliki ruh budaya yang membedakannya dari daerah daerah lain.
Tugu Kujang akan tetap berdiri. Pertanyaannya: apakah maknanya juga akan tetap hidup?
)* Aktivis Bogor, Pendiri Media Kupasmerdeka.com
Leave a comment