Menjaga Marwah Jurnalisme dari Oknum Berkedok Wartawan
Kolom oleh Hero Akbar / Moses*)
Profesi wartawan sejak awal diletakkan sebagai kerja intelektual dan kerja etis. Ia lahir dari kebutuhan publik akan informasi yang benar, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, ukuran utama seorang wartawan bukanlah kartu pers, melainkan karya jurnalistik, integritas pribadi, dan keberpihakannya pada kepentingan publik.
Namun, dalam praktik di lapangan, marwah jurnalisme kerap tercoreng oleh kehadiran oknum yang mengaku wartawan tanpa pernah menghasilkan karya tulis yang dapat diuji publik.
Mereka hadir bukan untuk meliput, memverifikasi, atau memberi informasi, melainkan untuk menekan—terutama pedagang kecil, pelaku UMKM, atau aparat di level paling bawah. Identitas pers dijadikan alat intimidasi, bukan sarana kontrol sosial.
Fenomena ini patut menjadi keprihatinan bersama. Jurnalisme sejatinya bekerja dengan prinsip check and balance, bukan check and charge. Ia hadir untuk mengawasi kekuasaan, membela yang lemah, dan membuka ruang akuntabilitas.
Ketika atribut pers justru dipakai untuk mencari keuntungan pribadi, yang rusak bukan hanya nama baik profesi, tetapi juga kepercayaan publik terhadap media secara keseluruhan.
Dampak sosialnya tidak bisa dianggap sepele. Masyarakat menjadi curiga setiap kali melihat wartawan datang. Ketakutan dan prasangka tumbuh, karena sulit membedakan mana jurnalis profesional dan mana oknum berkedok pers.
Jika kondisi ini dibiarkan, ekosistem informasi akan tercemar, dan kebebasan pers—yang diperjuangkan dengan mahal sejak reformasi—akan kehilangan legitimasi sosialnya.
Karena itu, penegakan hukum terhadap praktik intimidasi dan pemerasan yang mengatasnamakan pers harus dilakukan secara tegas dan adil. Aparat tidak perlu ragu bertindak ketika ditemukan unsur pidana. Pada saat yang sama,
Dewan Pers dan perusahaan media memiliki tanggung jawab moral untuk memperketat verifikasi, memperjelas status wartawan, serta terus mengedukasi publik mengenai ciri-ciri jurnalisme profesional.
Menjadi wartawan bukan semata soal identitas, tetapi soal tanggung jawab. Tanpa karya jurnalistik yang terbuka untuk diuji publik, klaim sebagai wartawan layak dipertanyakan.
Membersihkan profesi dari oknum semacam ini bukanlah upaya membungkam pers, melainkan langkah penting untuk menjaga martabat jurnalisme dan memastikan pers tetap menjadi ruang aman bagi masyarakat, terutama mereka yang paling rentan.
*) – Pendiri kupasmerdeka.com
Leave a comment