Refleksi Pendidikan Setahun Pemerintahan Prabowo–Gibran, JPPI: Menuju Indonesia Emas atau Indonesia Cemas?
Kolom oleh Muhammad Fadli*)
Satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum penting untuk menakar arah kepemimpinan nasional di berbagai sektor. Bukan hanya politik dan ekonomi yang jadi sorotan, tetapi juga sektor pendidikan yang kini tengah menghadapi berbagai persoalan mendasar.
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyoroti penurunan porsi anggaran pendidikan dalam rancangan APBN 2026. Dari yang seharusnya 20 persen sebagaimana amanat konstitusi, realisasinya disebut hanya tersisa sekitar 14 persen. Sisanya, menurut mereka, justru dialokasikan ke program non-pendidikan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama untuk mencetak generasi emas, bukan justru dikorbankan demi program populis jangka pendek,” ujar salah satu peneliti JPPI, dikutip pada Senin (27/10).
Para pengamat menilai, kemajuan bangsa tidak cukup diukur dari pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi semata. “Negara disebut maju bukan karena materialnya, tapi karena kemajuan intelektual dan kualitas pendidikannya,” tambahnya.
Meski Presiden Prabowo kerap menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan guru, realitas di lapangan masih jauh dari harapan. Banyak guru di berbagai daerah masih mengeluhkan keterlambatan tunjangan profesi (TPG) triwulan III tahun 2025 yang semestinya cair pada September, namun hingga Oktober belum juga disalurkan.
“Bagaimana Indonesia mau maju kalau kesejahteraan guru saja masih digantung?” keluh seorang guru di Tangerang yang enggan disebutkan namanya.
Selain itu, angka putus sekolah di kalangan masyarakat miskin juga masih tinggi. Biaya pendidikan yang semakin tidak terjangkau membuat banyak anak berhenti sekolah sebelum menamatkan pendidikan menengah.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah satu tahun pemerintahan Prabowo–Gibran benar-benar sedang mengantar bangsa menuju Indonesia Emas 2045, atau justru menapaki jalan menuju Indonesia Cemas?
*)- Ketua HMI MPO Bogor Institute Nida El Adabi Parungpanjang
Leave a comment