Penutupan Pertambangan di Bogor, Warga Butuh Pekerjaan di Tengah Ancaman Kelaparan yang Menghantui

Keterangan Foto: Kasi Kesra Desa Cipinang ketika diwawancarai awak media (15/10). (Dok.Yoe/ KM)

BOGOR (KM) – Selain ribuan karyawan pertambangan yang di PHK akibat penutupan pertambangan di wilayah Bogor oleh Gubernur Jawa Barat, ternyata berdampak juga kepada warung warung kecil yang ada di sekitar pertambangan. Mirisnya ancaman kelaparan akan semakin nyata jika pemerintah tidak hadir memberikan solusi.

Hal itu seperti diucapkan oleh Usturi, Kepala Seksi Kesejahteraan (Kasi Kesra) Desa Cipinang, Rumpin, Bogor, kepada wartawan.

“Kelaparan sudah pasti menjadi ancaman di wilayah kami, bahkan data RT RW menunjukan banyaknya warga yang terdampak dari penutupan pertambangan karena mayoritas penduduk di sini bergantung terhadap pertambangan,” jelasnya dengan nada rendah (15/10).

Dirinya juga khawatir dengan dampak negatif yang muncul jika warga sudah merasa lapar dengan keterbatasannya.

“Kemarin sempat ada warga mengambil sisa material dari salah satu lokasi pertambangan, itu karena mungkin mereka sudah terdesak dengan keadaan dan juga bingung nyari kerja kemana sedangkan mereka perlu makan,” tambahnya.

Pihaknya mengaku selalu menyampaikan segala informasi yang didapat dari pemkab Bogor agar masyarakat bisa memahami apa yang sedang terjadi.

“Kami dari pemerintahan desa tentu selalu menyampaikan apa yang perlu disampaikan kepada masyarakat dari segala informasi yang kami dapat dari pemkab atau pemprov, tapi kami juga harus mendengarkan keluhan warga kami untuk kami laporkan kembali kepada pihak pemkab seperti pendataan yang sudah kami lakukan ini,” ungkapnya.

Usturi berharap masyarakat untuk sabar karena penutupan ini bersifat sementara.

“Sesuai dari surat edaran tersebut, kita selalu sampaikan untuk sabar karena ini sifatnya sementara, tapi kita tidak bisa menjawab jika mereka sudah berbicara perihal lapar dan mereka menegaskan butuh pekerjaan. Maka dari itu saya mewakili mereka (warga) berharap pertambangan kembali dibuka,” pungkasnya.

Di tempat berbeda, salah satu pemilik warung di wilayah Desa Cipinang, (sebut saja) Jay, merasa dampaknya makin nyata dengan menurunnya daya beli masyarakat.

“Rehe pak, timantos pertambangan ditutup anu belanja ogeh rehe. Mudah mudahan bae teu kebel, ayena mah iwal ti sabar ja teu bisa ku kumaha (dalam bahasa sunda). Yang berarti, (Sepi pak, semenjak pertambangan ditutup yang belanja juga sepi. Semoga tidak berlangsung lama, dan sekarang cuma bisa sabar karena tidak bisa berbuat apa apa),” jelasnya saat berbincang di warungnya (15/10).

Reporter: Septiawan
Editor: Drajat

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.