Komen Aktivis 98: Gus Imin Memukau, Mahfud Kurang Menguasai, Gibran Pakai Data Palsu

Aktivis 98, Andrianto A.

JAKARTA (KM) – Pengamat demokrasi dan aktivis Reformasi 98, Andrianto Andri turut mengomentari debat Cawapres, Minggu, 21 Januari 2024, terfokus kepada kedua figur yaitu Muhaimin Iskandar atau biasa disapa Gus Imin, yang tampil sempurna, dan Gibran Rakabuming yang norak, dan kekanak-kanakan.

 

“Saya nilai Gibran tidak sopan kepada orang tua. Penilaian saya sesuai dengan trending topic di media sosial viral menyudutkannya,” katanya.

 

Andri menilai Muhaimin Iskandar tampil par excellence, profil Gus Muhaimin di atas rata rata. Dia bisa secara jernih memaparkan permasalahan yakni kegagalan negara memberi kesejahteraan rakyat di pedesaan, yang terjadi cara jalan pintas seperti Food Estate, impor beras, dan lain-lain.

 

Gus Imin berjanji bila menang akan susun kembali peta kebijakan yang pro rakyat, beliau tegas akan batalkan Food Estate, dan IKN (Ibu Kota Nusantara). “Ini didukung oleh sebagian besar rakyat,” katanya, Selasa (23/2/2024)

 

Dia menilai,G us Imin makin memperjelas posisinya yang diameteral dengan rezim ini. Agenda Perubahan terlihat jelas dilontarkannya dalam closing statement.

 

Adrianto mengatakan Gibran masih terjebak pola lama seperti yang dilakukannya di debat pertama, yakni mendestruksi lawan debat, menjatuhkan personal. Tujuannya supaya publik melihat dia superioritas.

 

“Akibatnya publik tidak miliki cukup waktu , menelaah visinya jika kelak memerintah,” ujarnya.

 

Andri menilai Gibran berlindung di retorika, padahal ini bukan debat menang- kalah. Karena itu makna subtansi dari ucapannya tidak ada sama sekali.  Di samping itu Gibran pun banyak menunjukkan data palsu misal soal nikel, apa benar Indonesia diuntungkan?

 

“Faktanya rakyat tetap miskin terutama di Sultra, tempat asal nikel itu. Yang makmur hanya kroni rezim yang menikmatinya. KPK sudah merilis ada 5 juta ekspor ilegal nikel ke Tiongkok,” ujarnya.

 

Andri mengatakan Gibran pun berbohong ketika membahas masalah agraria. Rezim Jokowi membagikan sertifikat. Tetapi yang dibagi itu memang sudah punya pemilik lahan. Dia tidak memberi lahan kepada rakyat. Sedang individu seperti Prabowo Subianto bisa dapat 500.000 hektare.

 

“Gaya urakannya pun sangat tidak pantas dilakukan bahkan di level debat Pilkades sekalipun. Apalagi di debat capres yang akan menentukan nasib bangsa, dan negara di masa depan,” katanya.

 

Sedangkan Prof. Mahfud MD, tambah dia, nilainya terlihat kurang menguasai bahan, meski kita maklumi beliau latar belakang pendidikannya adalah Hukum.

 

“Namun sayangnya, beliau akui masih banyak pelanggaran hukum dan impor gila gilaan, sedang beliau masih Menkopolkam. Akibatnya, beliau jadi bullying seorang Gibran yang sekolah SMA-nya pun di ragukan,” ujarnya.

 

Reporter: AA/ rso

Editor: red

 

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*