Raja Sapta Oktohari Diprediksi Pamornya Makin Suram Akibat Skandal Skema Ponzi 7,5 Triliun

Raja Sapta Oktohari (duduk santai) didampingi Juristo (diduga oknum advokat RSO)

JAKARTA (KM)- Raja Sapta Oktohari (RSO), Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) awalnya mempunyai karir cemerlang sebagai pejabat negara mengingat posisi ayahnya sebagai Ketum Partai.

Namun, karirnya terpaksa hancur karena terlibat skandal PT MPIP dan OSO Sekuritas dengan kerugian Rp7.5 triliun dengan korban kurang lebih 7000 orang.

“Awalnya RSO di gadang-gadang menjadi Menpora karena jabatannya sebagai Ketua KOI. Namun Jokowi mendengar kiprah negatif RSO dalam skema ponsi sehingga RSO harus hilang kesempatan menjadi Menpora. Kami memprediksi karir RSO akan makin suram karena kasus Mahkota,” ujar Kadiv Humas LQ Indonesia Lawfirm, Selasa (9/5).

“RSO salah prediksi dan sesumbar, kiprahnya dalam menolak membayar kewajiban para investornya akan mengakibatkan rusaknya citra dan reputasi RSO dan rusaknya bisnis dia. Semua akibat ulahnya sendiri,” ujarnya.

“Dengan tidak membayar kewajibannya maka para korban berhak dan akan selalu berteriak sehingga pemerintah tidak mungkin akan memilih pejabat yang berisik atau “noisy”. Bisa dibilang karir RSO berakhir sudah. Menurut saya pribadi ini adalah sebuah kebodohan dimana uang sesaat merusak masa depannya.” ucap Advokat Bambang Hartono dengan tersenyum.

LQ Indonesia Lawfirm sebagai firma hukum yang paling aktif berteriak, tidak akan stop berjuang dan menyuarakan sebagaimana semboyan ‘No Viral, No Justice’.

“Akibatnya adalah Sosial Punishment akan berjalan, RSO bisa saja kebal hukum terhadap oknum POLRI yang tidak berani menghadapi penjahat kerah putih, tapi masyarakat akan menghakimi dan berakibat rusaknya citra dan reputasi RSO seumur hidupnya,” ujar Bambang.

“Disaat penjahat kerah putih berpikir mereka menang dan kebal hukum, mereka lupa disaat sesumbar mereka bagaikan berdiri diatas batu karang yang licin, setiap saat bisa jatuh. Camkan kata-kata saya RSO akan jatuh lebih keras dan lebih sakit jika tetap ngotot tidak membayar kewajibannya kepada para korbannya,” katanya.

“Dunia berputar dan karir politiknya akan jatuh, kekuasaan ayahnya juga ada batas waktunya. Saat kekuasaannya berakhir, maka amarah korbannya dan masyarakat akan terlambat baginya untuk berubah,” tutupnya.

Reporter: Marss

Editor: redaksi

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*