KUPAS KOLOM : Rakyat Bukan Domba dan Bukan Bebek

Drs Suprayitno, Aktivis Hukum Semarang & Ketua LSM Lembaga Konsultasi dan Perlindungan Konsumen (LKPK) Prov. Jateng

Oleh : Drs Suprayitno
Aktivis Hukum Semarang & Ketua LSM Lembaga Konsultasi dan Perlindungan Konsumen (LKPK) Prov. Jateng

(KM) – Akhir-akhir ini berita manuver para politisi untuk menghadapi pilpres dan pileg hampir mendominasi berita di koran-koran.

Saya melihat mereka lagi pada ngences atau ngiler melihat berbagai menu masakan yang sudah terhampar dan tersaji di depan meja makan.

Mereka semua ngiler, pingin segera ngabisin menu masakan yang terhampar dihadapan mereka.

Siapa dapat apa, dan bagaimana mendapatkannya? itulah hari-hari menjelang pileg dan pilpres yang kurang beberapa bulan kedepan.

Lalu di mana posisi rakyat?

Posisi rakyat ya hanya sekedar bisa memberikan mereka tiket untuk bisa berebutan menu yang sudah terhampar di atas meja makan.

Mereka (para politisi) tidak akan bisa berebut menu masakan yang sudah terhampar dihadapan mereka ketika RAKYAT TIDAK MEMBERIKAN TIKET kepada mereka.

Namun, bagaimana nasib rakyat yang telah memberikan tiket untuk berkuasa itu?

Rakyat hanya dijadikan “kayu bakar” diadu domba, digiring seperti bebek dan dipaksa menyaksikan “pamer harta” dan kemewahan para pejabat.

Rakyat hanya dijadikan sebagai panjatan saja seperti anak tangga, setelah mereka berhasil memanjat dan mendapatkan kekuasaan, maka anak tangga itu dibuang untuk kemudian dipungut lagi saat akan ada pilpres, pileg dan pilkada.

Terus saja berulang seperti itu sehingga yang namanya “keadilan sosial dan kesejahteraan” bagi seluruh rakyat Indonedia itu HANYA GOMBALAN AMOH saja.

Faktanya, yang hartanya bertambah miliaran rupiah setiap tahunnya ya hanya para pejabat dan penguasa. Dan mungkin yang hartanya bertambah triliunan hanya para pengusaha papan atas.

Rakyat banyak yang malah tambah susah karena kena PHK atau putus kontrak dan sebagainya. Korban dari UU CIPTAKER.

Jadi bagaimana sikap rakyat menghadapi pemilu?

Pesan saya jangan mau diadu domba, karena rakyat bukan domba, rakyat adalah manusia yang bermartabat dan cerdas.

Jangan mau digiring-giring seperti bebek, karena rakyat bukan bebek, tetapi manusia yang bisa menentukan sikap.

Tetap semangat dan tetap mencintai Indonesia.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.