Direktur PT AMKA Penggarap Bukit Algoritma Sukabumi Terjerat Korupsi

Proyek Bukit Algoritma

“Manajemen perusahaan saat ini yang telah menggantikan pejabat direksi pada periode tahun 2017-2020 akan terus berkomitmen dan mendukung penuh program antikorupsi serta bersikap terbuka dan kooperatif kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam pengusutan kasus dugaan tindak pidana korupsi,” tulis siaran pers.

PT AMKA meyakinkan kepada para pemangku kepentingan bahwa proses bisnis perusahaan tetap berjalan sebagaimana mestinya, dengan terus meningkatkan penerapan prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) dan selaras dengan AKHLAK sebagai core values perusahaan. “Kasus ini menjadi pembelajaran bagi perusahaan di dalam tata kelola perusahaan yang baik, sehingga diharapkan PT AMKA menjadi perusahaan yang bersih, sustainable, dan memiliki daya saing,” lanjutnya.

Kabar Bukit Algoritma

Bukit Algoritma merupakan proyek yang digagas PT Kiniku Nusa Kreasi dan PT Bintang Raya Lokalestari. Keduanya membuat perusahaan Kerja Sama Operasional bernama PT Kiniku Bintang Raya yang ketua pelaksananya diisi Budiman Sudjatmiko, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sekaligus Komisaris PT Perkebunan Nusantara V. Budiman menyatakan kasus korupsi tersebut tak ada kaitannya dengan proyek Bukit Algoritma.

“Ini kan proyek swasta (Bukit Algoritma) jadi tak terkait dengan kasus korupsi direksi BUMN,” kata Budiman kepada sukabumiupdate.com melalui WhatsApp pada Sabtu, 13 Mei 2023.

Diketahui, groundreaking proyek pengembangan industri dan teknologi 4.0 serta sumber daya manusia seperti Silicon Valley di Amerika Serikat ini telah dilakukan pada 9 Juni 2021. Bukit Algoritma akan dibangun di lahan seluas 888 hektare yang mencakup tiga desa di Kecamatan Cikidang: Cicareuh, Pangkalan, dan Tamansari. Sementara satu desa di Kecamatan Cibadak adalah Desa Neglasari. Proyek ini terbagi tiga tahap dengan masa pengerjaan tiga tahun tahap pertama, tiga tahun tahap kedua, dan empat tahun tahap ketiga.

Budiman mengatakan saat ini pengerjaan Bukit Algoritma masih berfokus pada renovasi kecil-kecilan, khususnya gedung-gedung yang sudah ada. “Masih fokus ke renovasi kecil-kecilan dulu. Khususnya gedung yang sudah ada. Insya Allah setelah Agustus (2023) akan fokus ke perbaikan jalan,” ujar dia yang pada Februari 2023 mengungkapkan proses investasi Bukit Algoritma masih berjalan. “Masih jalan proses investasinya kok,” katanya.

Groundbreaking di Cikidang pada 9 Juni 2021, menjadi awal dimulainya pengerjaan tahap pertama selama tiga tahun oleh PT AMKA selaku main contractor. Adapun lahan seluas 888 hektare lokasi Bukit Algoritma adalah milik PT Bintang Raya Lokalestari.

Dalam laporan Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) tahun 2018, perusahaan itu tercatat mengusulkan tanah tersebut untuk menjadi KEK Sukabumi dengan kegiatan utamanya: pariwisata, fusi sains, dan teknologi.

Saat groundbreaking, Budiman menginformasikan perkembangan investasi yang masuk ke Bukit Algoritma. Dia menyebut ada investor baru dari beberapa negara Asia yang menanamkan modalnya untuk pengembangan riset sensor pencari ikan bagi nelayan di Indonesia. “Untuk bidang ini nilainya Rp 1,7 triliun,” kata Budiman usai peletakan batu pertama.

Angka tersebut menambah nilai investasi yang sebelumnya telah lebih dulu masuk ke proyek Bukit Algoritma yakni Rp 18 triliun dari Kanada untuk pembangunan klaster fase pertama yang digarap PT AMKA berupa pembangunan infrastruktur. Kemudian ada pula investasi ekosistem energi terbarukan yang berasal dari Jerman sebesar Rp 1,4 triliun–yang kata Budiman pengerjaan investasi energi terbarukan ini dilakukan di luar Sukabumi. (Sumber berita)

Rep: Marss

Editor: redaksi

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*