Baru 5 Tahun Berkiprah, Yayasan Pamong Asthabrata (PAMASTHA) Berhasil Salurkan Bansos Lebih Dari Satu Milyar

Ketua Yayasan Pamong Asthabrata, Asep Firdaus saat diwawancarai KM di Aula Gedung Perpustakaan Balaikota Depok (14/2/2023)

DEPOK (KM) – Yayasan Pamong Asthabrata (PAMASTHA) merupakan lembaga yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan yang berdiri sejak tahun 2017.

Yayasan ini pada awalnya hadir dari semangat para generasi milenial yang notabene adalah para alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan dengan nama awal Pamong Foundation.

Hal tersebut diungkapkan oleh Asep Firdaus selaku ketua Yayasan Pamastha saat diwawancarai oleh tim media di Aula Gedung Perpustakaan Balaikota Depok, pada Selasa, (14/2).

Menurut penuturannya, berkat perjuangan seluruh pihak dari lintas generasi, pada tahun 2018 Yayasan Pamastha berdiri secara resmi dan sah diakui oleh negara berdasarkan SK Menteri Hukum dan Ham RI Nomor AHU-0001557.AH.01.04 Tahun 2018 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Pamong Asthabrata.

Asep Firdaus sendiri saat ini masih aktif sebagai ASN di Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) dan merupakan alumni IPDN angkatan 2012.

Sebutan Asthabrata sendiri merupakan ciri khas yang melekat dari lulusan IPDN yang memiliki arti 8 sifat kepemimpinan. Astha berarti wolu (delapan), sedangkan brata berarti prasetya/ kesetiaan (Poerwadarminta, 1399: 21, 59).

Jadi Asthabrata adalah delapan sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin berdasarkan sifat atau watak delapan dewa yaitu Indra, Yama, Surya, Candra, Bhayu, Kuwera, Baruna, dan Agni. Dari delapan dewa tersebut, maka dikenal istilah Asthabrata, yaitu sifat, watak, atau perilaku delapan dewa.

“Dalam pewayangan ada 8 sifat kepemimpinan yang meliputi unsur angin, matahari, bulan, air, api, tanah dan lain sebagainya. Dan Pamong Asthabrata artinya kepala wilayah/ pemimpin/ pengemong/ pengayom yang punya 8 sifat kepemimpinan,” jelas Asep Firdaus.

“Komunitas ini awalnya hanya beberapa orang saja, kemudian kita inisiasikan gerakan ini agar lebih masif lagi untuk membantu alumni IPDN (dulu STPDN) yang mengalami musibah sakit dan lain-lain. Jadi Komunitas ini bergulir sejak 2017 kemudian tahun 2018 kita inisiasi dibentuk menjadi satu badan legal yayasan karena ini sifatnya sosial,” ungkapnya.

Asep juga mengatakan pihaknya juga masih belajar bagaimana agar roda yayasan bisa berjalan baik, khususnya dari segi pendanaan.

“Kalau kami pelajari kesini sini ternyata yayasan itu berdiri dan bisa eksis karena ada donatur tetap, donatur yang sifatnya insidentil dan lain sebagainya,” ungkapnya.

“Kami saat ini lebih banyak adanya donatur insidentil, contohnya alumni si fulan sakit atau adanya bencana alam di Pandeglang, lalu kita open donasi dan kemudian kita salurkan,” terang ayah 3 dari orang anak ini.

Adapun struktur kepengurusan saat ini berasal dari alumni angkatan 2012, 2013, dan 2015. Untuk pembina dan pengawas berasal dari alumni angkatan 2003 dan 2008. Sosok pembina saat ini adalah direktur pengelolaan perbatasan daerah dan pengawas adalah salah satu direktur di Kemendagri.

Yayasan Pamong Asthabrata memiliki visi misi sebagai wadah bagi alumni IPDN dalam memberi peran sosial kemasyarakatan dan pendidikan kepada masyarakat luas.

Dalam perjalanannya selama 5 tahun terakhir, yayasan ini cukup eksis dalam membantu kegiatan kemanusiaan dalam cakupan nasional dan sudah menyalurkan bantuan senilai lebih dari 1 milyar dengan mayoritas donatur dari alumni IPDN sendiri karena belum memiliki donatur tetap.Guna menunjang pertanggung jawaban keuangan yayasan, saat ini sedang dilakukan audit keuangan oleh salah satu kantor akuntan publik yang ada di kota Depok untuk laporan keuangan periode 2018, 2019, 2020, 2021.

“Kewajiban untuk audit keuangan merupakan proses akuntabilitas dari kami sebagai yayasan, termasuk bagaimana cara menggunakan uang yayasan untuk membayar akuntan publik. Berkaca dari kasus ACT, kami mendapat pengetahuan baru bahwa memang ada persentasi dari dana yang terhimpun yang dapat digunakan untuk operasional yayasan yaitu 5-10% untuk sosial umum dan kalau sosial islam bisa sampai 20%. Dana operasional tersebut sudah termasuk gaji dan lainnya,” bebernya.

“Nah untuk di Pamastha belum menerapkan gaji, karena dari persentasi 5-10% tersebut diakumulasikan untuk membayar jasa akuntan publik yang biayanya diatas Rp6 juta pertahun,” lanjutnya.

Terkait sudah adakah bentuk bantuan/perhatian dari pemerintah atas eksistensi Yayasan Pamastha selama ini, Asep Firdaus mengatakan bahwa secara umumnya belum ada, seperti bantuan dari dana CSR pemerintah baik BUMN maupun swasta.

Ia pun berharap di kepengurusan selanjutnya bisa mendapatkan itu mengingat gerakan sosial kemanusiaan ini perlu dukungan dari berbagai pihak agar dampak kemanfaatannya pun semakin luas lagi.

Namun untuk afiliasi kegiatan, Asep mengaku sudah pernah bekerja sama dengan Dinas Sosial Kota Depok saat pandemi covid-19 lalu, di mana yayasan Pamastha turut menjadi bagian dalam penyaluran bansos.”Kedepan tentunya kami berharap bisa terus berkolaborasi dengan pemda setempat.

Saya yakin kedepan Pemkot Depok bisa menjadi role model betapa luar biasanya dampak dari berkolaborasi antara komunitas/aktivis sosial, ormas, yayasan dan pemda itu sendiri. Bila dilihat dari pengalaman covid lalu, di mana kita semua bisa survive dan bahu membahu satu dengan lainnya dan itu sangat luar biasa apabila bisa terus dilakukan kedepannya,” imbuhnya.

Menurut Asep Firdaus, Pemda tidak perlu menyediakan dana, cukup menyampaikan program dan kumpulkan ormas dan elemen masyarakat lainnya untuk bekerjasama mewujudkan program tersebut.

“Karena kita pernah melewati covid bersama- sama, dan saya yakin pasti bisa untuk seterusnya,” tegasnya.

Serah terima bantuan sosial saat pandemi covid19 (istimewa)Keterangan foto: Serah terima bantuan sosial saat pandemi covid19 (istimewa)

Asep melanjutkan, dari catatan pihaknya selama 5 tahun terakhir, dengan mengandalkan pengurus yang rata-rata berusia 30- 33 tahun serta keberadaan yayasan yang juga baru berdiri dengan jangkauan nasional, tentunya masih memiliki harapan besar agar kedepan yayasan Pamastha bisa semakin eksis dan mampu memberikan manfaat yang lebih besar lagi kepada bangsa dan negara dalam bidang sosial kemasyarakatan.

“Dan kami mohon doa nya agar proses regenerasi dan suksesi organisasi yang sedang berjalan saat ini diharapkan menghasilkan pengurus baru yang lebih baik lagi, lebih komitmen dan konsisten dalam menjalankan amanah organisasi,” harapnya.

“Untuk kota Depok, semoga kedepan kita bisa semakin berkolaborasi dalam kegiatan sosial, edukasi, dan pemberdayaan kemasyarakatan yang lebih baik,” pungkasnya.

Reporter: Sudrajat

Editor: Redaksi

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.