KUPAS KOLOM: Perlawanan untuk Pembebasan Palestina  Adalah Poros Bagi Semua Perlawanan di Dunia

Oleh KOSPY (Komite Solidaritas untuk Palestina dan Yaman)

Ketegangan kembali pecah di kawasan Masjidil Aqsa di Al-Quds (Yerusalem). Aparat pendudukan rezim zionis “Israel” dalam rangkaian serangannya terhadap jemaah masjid menewaskan sedikitnya 5 warga sipil tidak berdosa dan melukai 152 lainnya.

Video-video yang beredar di media massa dan media sosial memperlihatkan kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan rezim zionis “Israel” yang bersenjata lengkap memukuli kaum wanita dan anak-anak, serta jemaah salat yang tengah khusyuk beribadah.

Seandainya peristiwa ini terjadi di Ukraina, dengan tentara Rusia sebagai pelaku kekerasan dan jemaat gereja sebagai korbannya, tentulah bakal heboh. Peristiwa itu niscaya  akan mengundang histeria dan hujan kecaman dari berbagai penjuru dunia, khususnya negara-negara Barat. Mereka akan menyerukan resolusi di Sidang Umum PBB dan sebagainya demi mengecam dan diajdikan untuk menjatuhkan sanksi atas Rusia. Sementara negara-negara anteknya akan langsung mengekor dan mengamini.

Namun, peristiwa ini terjadi di Palestina. Kendati kekerasan yang dilakukan oleh aparat kolonial zionis “Israel” itu terjadi di masjid tersuci ketiga bagi umat Islam, yaitu di Masjidil Aqsa, tidak ada yang menyerukan sidang darurat di PBB dan tidak ada yang menyerukan agar rezim ilegal zionis “Israel” dijatuhkan sanksi atau embargo berlapis-lapis. Ketidakberdayaan komunitas internasional terhadap rentetan pelanggaran HAM berat yang dilakukan rezim pendudukan zionis setiap harinya membuat mereka semakin besar kepala untuk terus mendongkrak intensitas penindasan mereka terhadap warga Palestina, yang hidup di bawah rezim apartheid sehingga diperlakukan layaknya warga kelas pariah.

Realitas itu bukan tuduhan kosong, alias sudah dikonfirmasi oleh lembaga-lembaga HAM internasional, termasuk Amnesty International, Human Rights Watch, dan lembaga HAM internal mereka sendiri, seperti B’tselem.

Sebagai tambahan, kecongkakan rezim kolonial zionis “Israel” juga ikut bertanggung jawab dalam membesarkan arus Islamofobia, juga Muslimofobia di banyak belahan dunia, khususnya di tengah masyarakat Barat. Salah satunya yang mutakhir adalah kasus pembakaran al-Quran di Swedia beberapa waktu lalu oleh seorang penggede kelompok ekstrimis di sana yang punya karakter sama biadabnya dengan rezim ilegal zionis “Israel”.

Perlawanan bangsa Palestina terhadap penjajahan dan penindasan, termasuk perlawanan bersenjata, adalah hak yang dilindungi oleh hukum internasional. Karenanya, segala bentuk perlawanan, mulai dari tangan kosong, lempar batu, hingga menembakkan roket dan rudal, adalah bentuk resistensi yang absah dari bangsa Palestina terhadap penjajah mereka. Bangsa Indonesia, yang merdeka dan terbentuk berkat perjuangan gigih melawan penjajahan dan apartheid serupa, seharusnya menjadi pihak yang terdepan dan paling memahami perkara kemanusiaan ini, untuk kemudian paling getol mendukung perlawanan bangsa Palestina.

Advertisement

Tentu dukungan yang dimaksud bukan semata-mata mengungkapkan rasa simpati dan mengirimkan sumbangan dan doa, tapi juga menjalankan upaya-upaya nyata demi mencegah dan mengakhiri sejarah panjang penjajahan dan penindasan rezim palsu zionis “Israel” terhadap rakyat Palestina. Semua upaya terbaik wajib dikerahkan untuk itu, mulai dari tekanan politik hingga dukungan ekonomi dan bahkan militer terhadap kelompok-kelompok perlawanan di Palestina. Ini bukanlah sesuatu yang aneh. Uni Eropa dan NATO sendiri melakukan hal yang sama, bahkan secara terang-terangan dan besar-besaran terhadap pemerintahan Volodymyr Zelensky di Ukraina, dengan alasan yang sebangun, yaitu melawan “penjajahan” Rusia.

Kalau negara-negara Barat boleh melakukannya untuk memajukan agenda mereka, maka negara-negara Islam dan bangsa-bangsa yang cinta keadilan juga seharusnya tidak bimbang atau takut untuk melakukannya. 

Sayangnya, sebagian negara Muslim malah memilih untuk bertingkah abnormal dengan melakukan “normalisasi” hubungan dengan rezim kolonial zionis “Israel”, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko. 
Namun, sikap para elit politik pada faktanya tidak mewakili rakyatnya, apalagi merepresentasi gerakan-gerakan perlawanan terhadap penindasan dan penjajahan. Ini terlihat dari meningkatnya intensitas perlawanan rakyat Yaman terhadap agresi militer koalisi Arab Saudi, perlawanan rakyat Irak terhadap pendudukan Amerika Serikat, dan semakin meluasnya penolakan serta kecaman terhadap rezim ilegal zionis “Israel” di kalangan akar rumput di seluruh dunia.

Jika ditelusuri, semua gerakan yang gagah dan gigih melawan imperialisme, penindasan, dan penjajahan di dunia memiliki kesamaan, yaitu mendukung pembebasan Palestina dan pembubaran rezim apartheid zionis “Israel”. Ini lantaran di masa kini, perjuangan membebaskan Palestina adalah perlawanan paling murni, tanpa agenda dan kepentingan eksternal, dari rakyat yang lemah melawan rezim penindas yang disokong sebuah negara berlagak adidaya, yaitu rezim mafia Amerika Serikat. Sehingga, semua gerakan perlawanan lainnya di dunia menjadikannya sebagai inspirasi dan “poros”, yang mendasari sikap penentangan semua bangsa tertindas di dunia melawan imperialisme dan penjajahan.

Semangat itulah yang mendorong pemimpin Revolusi Islam di Iran, Ayatullah Khomeini, untuk mencanangkan Hari Al-Quds Sedunia pada setiap hari Jumat terakhir bulan Ramadan demi menyuarakan solidaritas terhadap perjuangan bangsa Palestina dan penentangan terhadap penjajahan rezim ilegal zionis “Israel” yang didukung Amerika Serikat dan sekutunya. Beliau mencetuskannya di tengah kecamuk revolusi dan menjadikan perjuangan membebaskan al-Quds sebagai poros. Solidaritas itu menjadi pemersatu dalam melawan segala bentuk penindasan, penjajahan, dan imperialisme.

Anda menentang penjajahan? Kesampingkan kepentingan politik dan sektarian, dan jadikan al-Quds sebagai poros!

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: