Tagihan Air PAM Tidak Masuk Akal, Ibu Ini Syok

Salinan tagihan air PAM

TANGERANG (KM) – Seorang ibu rumah tangga berinisial SS merasa syok melihat tagihan air PAM mencapai lebih dari empat juta dalam sebulan. Karena jumlah tagihan itu dianggap ganjil, SS mendatangi kantor pembayaran PAM di Jalan Toha, Tangerang, Rabu 1/12.

Dari keterangan petugas PAM diperoleh keterangan tagihan tersebut adalah tagihan tunda selama pandemi. “Tagihan ini adalah pembayaran atas pengurangan tagihan yang berlangsung selama pandemi, yang ditagihkan pada bulan Oktober, sebanyak Rp4 juta lebih,” kata petugas.

Ibu SS mengaku tidak mendapatkan informasi perihal pembayaran masa pandemi yang ditagihkan pada Oktober 2021 ini. Petugas mengatakan kalau sudah mengumumkan di papan pengumuman di kantor pembayaran.

“Sangat tidak masuk akal jumlah tagihannya, rumah tangga biasa tagihan sampai lima juta lebih sebulan. Sementara rata- rata pembayaran air PAM berkisar 250 hingga 300 ribu rupiah per bulan. Sementara kami tidak ada usaha laundry, atau kolam ikam atau masjid, yang memerlukan banyak air,” katanya dengan kesal.

Dari keberatan tersebut, petugas mengatakan melakukan reduksi dengan pengurangan tagihan 50% dan diangsur selama 4x. Namun Ibu SS tetap keberatan karena tidak sesuai dengan pemakaian rata-rata per bulan.

Advertisement

Mengutip keterangan Humas Perumdam TKR dalam klarifikasi tertulisnya menyatakan pada masa pandemi covid-19, pihak TKR menjalankan sistem penyesuaian pelayanan kepada pelanggan salah satunya berupa penghentian pembacaan meter air guna penerapan social distancing dalam rangka menjaga kesehatan dan keselamatan petugas pembaca meter dan pelanggan.

Sementara Direktur Utama Perumdam Tirta Benteng Kota Tangerang Sumarya mengatakan pembayaran pelanggan yang pelayanannya dialihkan dari Perumdam Tirta Kerta Raharja Kabupaten Tangerang ke Perumdam Tirta Benteng Kota Tangerang mulai dilakukan mulai 1 Oktober 2021.

Sumarya menyebut, petugas Perumdam Tirta Benteng selalu melakukan pembacaan tagihan bulan secara door to door atau dari pintu ke pintu pelanggan. “Ya karena itu ada peralihan tentunya dari pencatatan- pencatatan per meter yang mungkin tidak sesuai. Artinya menurut masyarakat penggunaan tidak segitu. Tapi kita lakukan pembacaan door to door,” jelasnya di Sitanala, Kota Tangerang, Kamis (7/11/2021) lalu.

Reporter: Marsono

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: