KUPAS KOLOM:  10 Pernyataan Sikap Budayawan Bogor dan Jawa Barat Terkait Kebun Raya Bogor

Budayawan Bogor dan Jawa Barat

Oleh Gabungan Elemen Budayawan Bogor

Assalamu’alaikum Warochmatullohi Wabarokatuh

Sampurasun…  

Kepada saudara-saudaraku dimanapun berada yang baik hatinya, kami dari Budayawan Bogor dan Jawa Barat yang peduli juga mencintai Kebun Raya Bogor (KRB) merasa kecewa dan keberatan atas pengelolaan KRB yang tadinya oleh LIPI (sekarang BRIN) dan sekarang diserahkan kepada pihak swasta, yang ternyata semakin jauh dari marwah pengelolaannya.

Di antaranya diadakan acara-acara di malam hari, merubah tatanan yang ada seperti jalan-jalan yang sengaja dibuat dari bebatuan agar tetap sebagai resapan air hujan ditutup oleh semen, terutama menggunakan sound sistem yang memecah keheningan di waktu malam serta penggunaan lampu-lampu berlebihan yang bahkan diarahkan ke beberapa tempat yang medianya adalah tanaman juga pohon-pohon yang ada di KRB.

Seperti tertulis dalam sejarah, Kebun raya Bogor (KRB) pada mulanya merupakan bagian dari “Samida”, hutan buatan atau taman buatan yang setidaknya sudah ada pada saat pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi 1474 – 1513) dari kerajaan Sunda, sebagaimana tertulis dalam prasasti Batutulis yang berlokasi di Kota Bogor juga.

Hutan buatan ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih-benih kayu yang langka. Hutan ini kemudian dibiarkan setelah kerajaan Sunda takluk dari kesultanan Banten, hingga Gubernur Jendral Van der Capellen membangun rumah peristirahatan di salah satu sudutnya pada pertengahan abad ke 18.

Pada awal 1800an Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles yang mendiami Istana Bogor dan memiliki dan memiliki minat besar dalam botani, tertarik mengembangkan halaman istana Bogor menjadi sebuah kebun yang cantik. Dengan bantuan para ahli botani, W. Kent yang membangun Kew Garden di London, Raffles menyulap halaman istana menjadi taman bergaya Inggris klasik, inilah awal mula Kebun Raya Bogor yang ada sekarang.

Ide pendirian Kebun Raya bermula dari seorang ahli biologi yaitu Abner yang memohon kepada Gubernur Jenderal G.A.G Philip Van der Capellen, meminta sebidang tanah untuk dijadikan kebun tumbuhan yang berguna, tempat pendidikan guru dan koleksi tumbuhan bagi pengembangan kebun-kebun yang lain. Abner dibantu Prof. Casper George Karl Reinwardt, seorang ilmuwan botani dan kimia yang juga menteri bidang pertanian, seni dan ilmu pengetahuan di Jawa dan sekitarnya, tertarik menyelidiki berbagai tanaman yang digunakan untuk mengobati dan mengumpulkan semua tanaman tersebut di sebuah kebun botani di Kota Bogor, yang saat itu disebut Buitenzorg (yang artinya “tidak perlu hawatir”). Reinwardt juga menjadi perintis di bidang pembuatan herbarium, ia kemudian dikenal sebagai seorang pendiri Herbarium Bogorienses.

Baru pada 18 Mei 1817, Kebun raya Bogor diresmikan oleh Gubernur Jenderal G.A.G Philip Van der Capellen yang untuk pertama kalinya diberi nama Lands Plantentuin te Buitenzorg. Dengan perjalanan waktu akhirnya semua itu dikelola oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Sayang, akhirnya kebun raya-kebun raya ini (Kebun Raya Bogor, Cibodas, Purwodadi dan Bali) diam-diam menyerahkan pengelolaannya kepada pihak swasta pada sejak awal tahun 2020 yang pada saat itu dikepalai oleh Bapak Laksana Tri Handoko.

Saat ini PT. Mitra Natuna Raya mitra yang mengelola kebun raya–kebun raya tersebut, mungkin pada saat awal apa yang mereka lakukan baik untuk menata dan merapikan KRB ini agar terlihat indah apabila dipandang pengunjung. Tapi ke sininya banyak hal-hal yang akhirnya menyalahi aturan dan keluar dari marwah Kebun Raya Bogor itu sendiri sebagai kebun untuk konservasi, pendidikan dan budaya, di mana di dalam KRB itupun terdapat makam dan makom leluhur juga karuhun kita yang semenjak dulu mempengaruhi tatanan hidup dan kehidupan Bogor. Apalagi saat ini KRB sedang dalam proses untuk ditetapkan menjadi Situs Warisan Dunia (World Heritage Site / WHS).

Untuk itu kami budayawan dan masyarakat Bogor merasa wajib menegur dan mengingatkan kepada pihak-pihak terkait terhadap kondisi KRB saat ini, beberapa hal yang dari banyaknya masukkan-masukkan akan kami sampaikan.

1. Keluarkan pihak swasta dan investor dari KRB untuk dikembalikan kepada institusi semula.

2. Kembalikan fungsi KRB kepada marwah semula, yaitu sebagai area penelitian, area edukasi, dan area rekreasi alam bagi seluruh lapisan masyarakat yang terjangkau oleh semua kalangan.

3. Kami menolak keras segala bentuk komersialisasi yang berkaitan dengan eksploitasi KRB, karena akan berdampak pada rusaknya tatanan originalitas yang sudah terbentuk selama berabad-abad.

4. Mengedepankan Kebun Raya Bogor sebagai Hutan Kota, serapan air, jantung oksigen kota, jaga kelestarian ekosistem 15 ribu jenis tumbuhan dan pohon.

05. Tidak boleh ada hotel ataupun homestay di dalam KRB, karena kawasan sakral ada maqom leluhur/orang tua Bogor Mbah Japra dan masuk ziarah gratis.

6. Jangan jadikan Kota Bogor kota metropolis, segala bentuk penamaan harus menggunakan Bahasa Sunda.

07. Ambil alih manajemen teknis dari pihak swasta menjadi Aset Pemkot Bogor.

8. Mendesak Wali Kota dan DPRD untuk menerbitkan PERDA agar merawat , menata dan mensakralkan patilasan leluhur (Raja, olot sunda) di Kota Bogor , agar tidak di ambil alih oleh pihak manapun.

9. Kembalikan fungsi KRB sebagai lahan hijau dan Situs Sejarah Bogor

10. KRB adalah milik warga BOGOR, berikan fasilitas kepada warga BOGOR.

Demikian yang bisa kami sampaikan, semoga apa-apa yang kita niatkan selalu mendapatkan petunjuk, keberkahan, lindungan serta ridhoNya Aamiin…YRA

Wassalamu’alaikum Warochmatullhi Wabarokatuh

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: