Buku Mulok Tuai Protes, Sejarawan Tanjungbalai Angkat Bicara

Haura Syah saat memberikan keterangan kepada wartawan Kupas Merdeka (dok. KM)
Haura Syah saat memberikan keterangan kepada wartawan Kupas Merdeka (dok. KM)

TANJUNGBALAI (KM) – Buku muatan lokal yang mengangkat tema budaya Tanjungbalai menuai protes dari keluarga Kesultanan Asahan, seperti yang dilansir media online yang ada di Tanjungbalai, karena diduga mengandung banyak kekeliruan.

Wartawan Kupas Merdeka (KM) mencoba menelusuri penyebab protesnya keluarga Kesultanan Asahan dengan mendatangi salah satu narasumber yang ada di dalam buku itu, Haura Alamsyah.

Haura Alamsyah, yang lebih dikenal dengan nama Haura Syah adalah sosok pemuda kreatif yang menggeluti seni budaya Asahan, khususnya pembuatan tengkulok, yaitu topi khas Asahan dan Tanjungbalai. Haura mengatakan kepada KM bahwa memang benar kalau penulis buku mulok tersebut pernah mendatangi dirinya dan menyampaikan akan membuat buku tentang budaya Asahan. Dan dirinya memberikan beberapa masukan dan literatur budaya Asahan kepada penulis.

Akan tetapi, dalam pembuatan buku tersebut, dirinya tidak pernah dihubungi. Dan penulis tidak pernah memberikan naskah buku tersebut sebelum dicetak, dan tidak menyangka buku yang dimaksud penulis akan menjadi buku muatan lokal dan akan diajarkan kepada generasi muda melalui sekolah yang ada di kota Tanjungbalai. Juga dirinya mengatakan pernah menolak dicantumkan sebagai narasumber dengan profesi sejarawan dan budayawan, sebab kapasitasnya hanya sebagai penggiat seni budaya Tengkulok.

“Penulis, saudara EB, pernah mendatangi dan menghubungi saya akan niatnya membuat buku. Sebagai orang yang beradab dan berbudaya, saya menjawab setiap pertanyaannya dan membantu sebisa mungkin untuk memberikan informasi dan literatur yang saya punya,” katanya.

Advertisement

“Saya memberi apresiasi kepada saudara EB akan buku ini, tetapi sebelum terbit, seharusnya saudara EB mengadakan bedah buku serta mengundang kerabat kesultanan dan pemangku adat kesultanan Asahan Tuanku Dr. Kamal Abraham. Dan tidak semena-mena membuat saya sebagai sejarawan dan budayawan. Profesi yang disematkan kepada saya dalam buku itu membuat saya malu,” katanya.

Masih menurutnya, banyak kekeliruan dalam buku tersebut. Jenis makanan khas Tanjungbalai, penulisan, nama-nama pemimpin yang pernah memimpin di Asahan Tanjungbalai. Yang paling keliru menurut Haura Alamsyah adalah judul buku tersebut.

“Saya meminta kepada guru-guru yang ada di Tanjungbalai agar tidak mengajarkan buku itu kepada generasi muda, karena banyak kekeliruan di dalamnya. Saya kuatir sejarah dan budaya yang sebenarnya akan dilupakan. Dan meminta saudara EB menarik dan merevisi buku tersebut sebelum diedarkan.”

“Itu bukan novel, bukan juga biografi. Tetapi sejarah yang harus jelas, agar tercipta generasi pelurus bukan generasi penerus yang salah,” harapnya.

Reporter: Hanif
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: