Peringati Hari Batik Nasional, Pembatik Depok Ajak Masyarakat Pandang Batik Sebagai “Kekayaan Jiwa

Tokoh batik Ratna Septiana Wulandari (dok. KM)
Tokoh batik Ratna Septiana Wulandari (dok. KM)

DEPOK (KM) – Bertepatan dengan Hari Batik Nasional, tokoh batik Kota Depok, Ratna Septiana Wulandari mengajak masyarakat agar melihat batik sebagai suatu “kekayaan jiwa”.

Ratna yang merupakan pendiri Komunitas Batik Depok menyampaikan hal tersebut kepada awak media di kediamannya, Griya Telaga Permai, Tapos, Kota Depok Jumat 2/10.

Ratna mengatakan bahwa Kota Depok telah memiliki ciri khas batiknya tersendiri dengan berbagai motif dan di dalam setiap motifnya terkandung filosofi masing-masing motif tersebut.

Ratna mengungkapkan jika batik Depok sudah ada pada tahun 2007, namun pada saat itu motif batiknya masih dalam bentuk printing dan sempat tenggelam di tengah jalan.

“Batik Depok ini sebenarnya sudah ada dari tahun 2007 di saat pak Nur Mahmudi menjadi Wali Kota Depok. Istrinyalah yang menginspirasi untuk dibuatnya batik Depok,” ujar Ratna.

Setelah vakum beberapa waktu, Ratna berhasil menerbangkan batik khas Depok hingga ke Eropa pada kegiatan pameran Wonderful Indonesia yang diselenggarakan di Ukraina. Dalam momen tersebut, motif batik Depok berhasil mencuri perhatian para pengunjung yang hadir.

Dari hal tersebutlah, Ratna berinisiatif berkunjung ke Pemerintah Kota Depok di Dinas Koperasi dan UMKM agar Batik Depok kembali dapat diperkenalkan dan langsung direspon positif oleh Pemerintah Kota Depok.

“Alhamdulillahnya Pemkot merangkul kita dengan cepat dan menjadi mediator kami untuk menyampaikan ke publik,” terang Ratna.

Ratna juga menjelaskan bahwa pemerintah sangat membantu dalam upaya pelestarian batik Depok.

Advertisement

“Sekarang kan di Pemkot sendiri banyak yang menggunakan batik Depok. Banyak sekali upaya yang diberikan oleh Pemkot,” jelasnya.

Ratna memaparkan bahwa saat ini terdapat 25 motif batik Depok di antaranya motif belimbing, motif gong Si Bolong, motif topeng Cisalak, motif Benggol (mata uang zaman Belanda), motif ikan hias, motif Tugu Sawangan, dan lain-lain.

“Keunggulan dari batik Depok adalah batik yang mengemas sarat filosofis, sehingga benang merah dari nenek moyang kita itu tetap tersambung. Karena dari dulu nenek moyang kita membuat batik itu ada harapan dan doa di sana,” ungkap Ratna.

“Seperti motif gong Si Bolong dan di sana juga ada motif daun sirih. Di sebagian daerah daun sirih adalah sebagai ucapan selamat datang dan juga sebagai penyembuh. Artinya untuk pemakai agar bisa diterima dimana saja,” tambah Ratna.

“Pandanglah batik sebagai suatu kekayaan jiwa, sehingga dalam kondisi apapun bisa dikenakan dan melambangkan jiwa kita, ketika sesuatu ada di hati insya Allah akan selalu nyaman membersamai kita, jadi cintalah akan budaya bangsa sendiri,” pungkasnya.

Bagi pecinta batik, aneka ragam motif batik khas Kota Depok tersebut bisa diperoleh di ‘Ratna Batik and Craft’ dengan variasi harga berkisar dari Rp150 ribu hingga Rp5 juta.

Reporter: Sudrajat
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*