Terdakwa Kasus Jiwasraya Keberatan Didakwa dengan Pasal Korupsi, Klaim Dakwaan “Terkait Pasar Modal”

Enam terdakwa kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya menjalani sidang dakwaan di PN Tipikor Jakarta Pusat, Rabu 3/6/2020 (dok. Hari Setiawan Muhammad Yasin/KM)
Enam terdakwa kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya menjalani sidang dakwaan di PN Tipikor Jakarta Pusat, Rabu 3/6/2020 (dok. Hari Setiawan Muhammad Yasin/KM)

JAKARTA (KM) – Penasihat hukum Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Heru Hidayat, Soesilo Aribowo menyesalkan dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) pada Kejaksaan Agung (Kejagung). Dia menilai, jeratan hukum yang menyeret kliennya merupakan ranah pasar modal, bukan tindak pidana korupsi.

“Sudah sejak awal saya katakan, ini persoalan pasar modal. Hampir 100 persen dakwaan adalah terkait pasar modal. Sehingga, sangat tepat kalau UU yang digunakan adalah UU pasar modal dan OJK. Keduanya, yang punya kewenangan,” kata Soesilo di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu 3/6.

Soesilo menyebut, penerapan Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 UU Pemberantasan Korupsi Juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 Jo. Pasal 65 ayat 1 KUHP. Serta Pasal 3 dan Pasal 4 UU Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) tidak tepat.

Dia memandang, penerapan pasal tersebut kurang tepat karena sejumlah data dan fakta “tidak sesuai” dalam dakwaan tersebut. Salah satunya, surat dakwaan tak secara jelas menguraikan perbuatan materiil apa yang dilakukan, sehingga dituduh korupsi sejak 2008 sampai 2018.

“Kami sangat mengapresiasi Kejaksaan Agung yang membuka kasus ini agar menjadi terang benderang. Namun, kami harapkan agar pasal yang didakwakan sesuai,” ujar Soesilo.

Oleh karena itu, Soesilo menegaskan pihaknya akan mengajukan nota keberatan atau eksepi terhadap dakwaan Jaksa. Tim penasihat hukum akan membacakan eksepsi pada sidang selanjutnya.

“Kami keberatan atas dakwaan Jaksa, kami akan ajukan nota keberatan terhadap dakwaan penuntut umum,” tukas Soesilo.

Dalam perkara ini, Komisaris Utama PT Trada Alam Minera, Heru Hidayat, bersama dengan Direktur Utama PT Asuaransi Jiwasraya Hendrisman Rahim, Direktur Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro, serta Direktur Keuangan Jiwasraya periode Januari 2013-2018 Hary Prasetyo, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan dan Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto didakwa melakukan korupsi pengelolaan dana dan pengunaan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya (AJS) sebesar Rp16,8 triliun.

Advertisement

Sejak 2008 sampai dengan 2018 Hendrisman Rahim, Hary Prasetyo dan Syahmirwan telah menggunakan dana-dana hasil produk PT. AJS berupa produk non savings plan, produk savings plan, maupun premi korporasi yang keseluruhan bernilai kurang lebih Rp. 91.105.314.846.726,70.

Dalam kurun waktu tersebut, Jaksa menduga Hendrisman Rahim telah bersepakat dengan Hary Prasetyo dan Syahmirwan agar pengelolaan dana PT AJS diserahkan kepada Terdakwa Heru Hidayat dan Benny Tjokrosaputro melalui Joko Hartono Tirto untuk mengatur pengelolaan dana PT. AJS.

Menurut Jaksa, Hendrisman Rahim bersepakat dengan Hary Prasetyo dan Syahmirwan menyerahkan pengaturan pengelolaan investasi saham dan reksadana PT. AJS kepada Terdakwa Heru Hidayat dan Benny Tjoktosapuro melalui Joko Hartono Tirto, dengan melakukan pengaturan dan pengendalian saat pembelian dan penjualan kembali saham-saham termasuk subscription dan redemption pada reksadana serta mengatur pihak lawan transaksi (counterparty).

Hal ini menyebabkan kerugian negara atas investasi saham dari nilai perolehan saham yang dibeli oleh PT AJS yang tidak sesuai dengan ketentuan, karena yang diatur oleh pihak-pihak terafiliasi Heru Hidayat dan masih berada dalam portofolio PT AJS pada 31 Desember 2019.

Atas perbuatannya, keenam terdakwa didakwa melanggar Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 UU Pemberantasan Korupsi Juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 Jo. Pasal 65 ayat 1 KUHP.

Sementara itu, Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Heru Hidayat juga turut didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU) atas korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya yang merugikan keuangan negara senilai Rp16,8 triliun. Heru disebut membelanjakan uang hasil tindak pidana korupsi untuk membeli tanah dan bangunan.

Atas perbuatannya, Heru juga didakwa melanggar Pasal 3 Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Reporter: HSMY
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*