Uji Cepat COVID-19 di Jakarta Gumakan Metode Pengujian Serum, Diperkirakan Lebih Akurat

Pemprov DKI Jakarta melakukan rapid test covid-19 menggunakan dengan serum dengan menyasar warga yang berisiko tibggi tertular (dok. KM)
Pemprov DKI Jakarta melakukan rapid test covid-19 menggunakan dengan serum dengan menyasar warga yang berisiko tibggi tertular (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih terus melakukan rapid test COVID-19 sebagai proses deteksi dini massal dengan menyasar serta memprioritaskan orang-orang yang berisiko tinggi tertular COVID-19. Rapid test yang diterapkan di DKI Jakarta adalah dengan menggunakan serum, yakni cairan di atas bekuan darah yang mengandung antibodi atau sistem pertahanan tubuh. Diperkirakan bahwa uji cepat dengan menggunakan serum akan memberikan hasil yang lebih akurat daripada sistem uji cepat yang menggunakan tetesan darah.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, menjelaskan mengenai proses rapid test COVID-19 yang diterapkan di Jakarta. Cara menggunakan alat rapid test pun berbeda-beda tergantung pada merknya. Saat ini, Pemprov DKI Jakarta memiliki alat rapid test yang penggunaannya memakai darah dari lipatan siku yang kemudian diputar dan dipisahkan serumnya.

“Proses yang kami terapkan dalam rapid test adalah pengambilan darah dari lipatan siku. Darah tersebut perlu diputar di dalam tabung centrifuge dengan menunggu selama 15 menit, sehingga menghasilkan serum. Kemungkinan positif terhadap penyakit pun lebih tinggi daripada darah yang diteteskan langsung,” jelasnya kepada wartawan, Rabu 1/4.

Hingga Selasa 31/3 kemarin, tercatat sebanyak 18.077 orang telah menjalani rapid test, dengan persentase positif COVID-19 sebesar 1,7 persen. Sebanyak 299 orang dinyatakan positif COVID-19 dan 17.778 orang dinyatakan negatif.

Widyastuti menjabarkan lebih lanjut terkait sasaran dan prioritas rapid test, yaitu orang-orang yang berisiko tinggi menularkan ataupun tertular COVID-19, seperti tenaga medis dan orang-orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus Pasien Dalam Pengawasan (PDP), orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus pasien konfirmasi atau probabel COVID-19, dan Orang Dalam Pemantauan (ODP), yakni seseorang yang mengalami demam >38°C atau riwayat demam, gejala gangguan sistem pernapasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk, serta memiliki riwayat tinggal di luar negeri dan melakukan perjalanan di area terdampak COVID-19.

Advertisement

Terdapat 2 prosedur pelaksanaan rapid test, yaitu aktif oleh Puskesmas kepada orang-orang yang berisiko tinggi terinfeksi COVID-19 dan pasif oleh Puskesmas yang mana pasien datang berobat ke Puskesmas namun kriteria pasien untuk dapat rapid test ditentukan petugas. Sehingga, perlu digarisbawahi bahwa tidak semua orang dapat melakukan rapid test.

Apabila hasil tes tersebut positif, maka langkah selanjutnya adalah dilakukan pengambilan swab, isolasi mandiri atau dirujuk ke shelter (sesuai kriteria) selama menunggu hasil PCR. Bila kondisi memburuk sebelum hasil PCR diperoleh, maka pasien akan dirujuk ke RS.

Sedangkan, jika hasilnya negatif, pasien diinformasikan untuk isolasi mandiri 14 hari dahulu. Bila kondisi memburuk, dirujuk ke RS dan dilakukan pemeriksaan PCR. Kalau tidak, maka pasien akan diperiksa ulang rapid test satu kali pada hari ke 7-10 setelah tes awal.

Pemprov DKI Jakarta pun akan tetap memprioritaskan peningkatan kapasitas laboratorium untuk PCR test, yaitu metode tes yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnostik apakah seseorang terpapar COVID-19 atau tidak.

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta telah mendistribusikan sekitar 164.000 alat rapid test COVID-19 ke lebih dari 100 fasilitas kesehatan dan Rumah Sakit di seluruh DKI Jakarta. Alat rapid test ini diberikan oleh Gugus Tugas Nasional COVID-19 ke Balai Kota Jakarta pada 23 Maret 2020.

Reporter: HSMY
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*