Freeport dan YPMAK Sumbangkan Rp5 miliar untuk Penanganan Covid-19, Aktivis Pertanyakan Nasib Masyarakat Tembagapura yang Dievakuasi
TIMIKA (KM) – Febian Magal, Direktur YPMAK menyerahkan bantuan secara simbolis kepada Marthen Paiding, Penjabat Sekda Mimika yang juga sebagai Ketua Umum Tim Gugus Percepatan Pengendalian Covid-19 Kabupaten Mimika di gedung MPCC Jalan C Heatubun, Senin 30/3 lalu.
Bantuan dalam bentuk uang tunai senilai Rp 5 miliar itu akan didistribusikan sebesar Rp2 miliar ke Kabupaten Mimika, Rp 1,5 miliar ke Provinsi Papua, dan Rp 1,5 miliar ke Pemerintah Pusat. Bantuan tunai untuk Pemkab Mimika disalurkan melalui rekening bank dari masing-masing gugus tugas penanganan Covid-19 di wilayah Mimika.
Selain bantuan tunai, YPMAK menyerahkan masker sebanyak 100 dus, 2050 set APD dalam bentuk baju biohazard, 4.850 unit mesin alat semprot mist blower yang digunakan untuk penyemprotan cairan disinfektan area indoor dan outdoor, serta 39 karton setara 250 dan 500 liter cairan disinfektan merek Bayer.
Menyikapi sumbangan tersebut, mahasiswa eksodus Reymond Nirigi menanyakan mengapa PT. Freeport Indonesia dan YPMAK tidak memperhatikan masyarakat Tembagapura yang dievakuasi ke Timika dalam ana Rp5 miliar tersebut. “Sebab mereka ini adalah hak pemilik Gunung Nemangkawi yang seharusnya diperhatikan serius dalam penanganan evakuasi masyarakat Tembagaura ke Mimika,” kata Reymond.
“Mengapa masalah covid saja harus mengeluarkan dana sebesar ini? Apakah masyarakat Tembagapura tidak punya hak, dan dimana mereka tinggal dan dimana mereka makan serta beraktivitas? PTFI dan YPMAK gagal dalam penanganan evakuasi masyarakat Tembagapura,” tegasnya.
“Kemudian yang jadi pertanyaan adalah mengapa PTFI mengeluarkan dana Rp. 5 miliar dalam penanganan covid 19 melalui YPMAK? Penembakan yang terjadi di area PTFI, di Banti dan Opitawak itu adalah area PTFI dan harus diperhatikan penuh serta mengluarkan dana hingga miliaran demi kenyamanan dan kesehatan mereka.”
“Covid 19 masuk ke tanah Papua lebih dulu kejadian penembakan dan akhirnya masyarakat evakuasi ke Timika. Harusnya dana 5 milyar tersebut dialihkan kepada masyarakat Tembagapura yang mengevakuasi ke Timika bukan covid 19,” katanya.
“Sehingga saya mengatakan PTFI gagal dalam memperhatikan Sumber Daya Manusia dari pada lebih mementingkan apa yang sampai detik ini dikuras habis oleh PTFI,” ketusnya.
Sementara itu Ketua Posko Pelajar dan Mahasiswa Eksodus Kabupaten Mimika Henky Omabak mengatakan bahwa pihaknya “benar-benar sangat tidak terima” dengan bantuan ini.
“Ketika rakyat kami saat dievakuasi PT. Freeport tidak bantu senilai uang 5 miliar kepada rakyat kami. Ini hal yang sangat tidak terima. Untuk itu kami dengan tegas PT. Freeport, YPMAK dan Pemerintah Daerah Mimika segera melihat kembali rakyat kami,” tegasnya.
“Sekarang mereka sedang membutuhkan perhatian dan bantuan jangan biarkan mereka hidup terlantar. Bila perlu segera kembalikan rakyat kami ke tempat asalnya di Tembagapura,” lanjutnya.
“Jika tidak kami pelajar dan Mahasiswa eksodus Kabupaten Mimika miminta dengan tegas memberikan bantuan senilai 5 miliar yang sama kepada Rakyat kami. Dengan ini PT. Freeport, YPMAK dan Pemerintah Kabupaten Mimika segera mengutamakan rakyat kami, segera bertanggungjawab,” tegasnya.
Reporter: Ernest
Editor: HJA
Leave a comment