Honor Sukwan Puskesmas Pagaden Barat Diduga Disunat oleh Oknum TU hingga 70%, Karyawan Mogok Kerja

Kepala UPTD Puskesmas Pagaden Barat, Mahdi Kasman yang didampigi Kasubag TU Erni Sukaesih (dok. KM)
Kepala UPTD Puskesmas Pagaden Barat, Mahdi Kasman yang didampigi Kasubag TU Erni Sukaesih (dok. KM)

SUBANG (KM) – Sukarelawan (sukwan) di Puskesmas Pagaden Barat mengeluhkan kejanggalan dalam manajemen Puskesmas Pagaden Barat, Kecamatan Pagaden Barat, Kabupaten Subang. Mereka menduga ada pemotongan honor sukwan sebesar 60 hingga 70 persen, dipotong oleh Kabag TU, Erni, sedangkan honor sukwan per bulannya hanya Rp 400 ribu.

Menurut sumber KM yang enggan disebut namanya, uang honor itu sudah dimasukkan dalam amplop oleh bendahara, tapi dengan sengaja salah satu TU membukanya lalu uang yang ada di dalam amplop itu dipotong atau dikurangi.

Ia juga menuding bahwa uang program diduga dimakan oleh Kepala Puskesmas, Mahdi, lantaran program yang seharusnya direalisasikan, tidak direalisasikan.

Ia juga mengungkap bahwa pemasukan hasil dari pemeriksaan rawat jalan diperkirakan per hari 500 hingga 600 ribu rupiah, tapi yang disetorkan ke bendahara hanya Rp 60 ribu oleh RHU, anak dari oknum TU itu.

Pemotongan honor tersebut menyebabkan sebagian karyawan mogok kerja.

“TU Puskesmas Pagaden Barat sering memotong hak karyawan dan baru-baru ini honor sukwan diduga dipotong lagi, padahal honor sukwan setiap bulannya cuma Rp 400 ribu dipotong sampai 60, 70 persen sehingga sekarang karyawan mogok kerja,” katanya.

“Selain itu uang-uang program pun dengan nilai ratusan juta juga tidak direalisasikan. Diduga uang tersebut dimakan oleh kepala Puskesmas berinisial MK dan seorang TU berinisial RN,” lanjutnya.

“Selain itu juga, ada uang rawat jalan itu dipegang sama anaknya TU, setor ke bendahara seolah-olah seenaknya saja, tidak transparan dan tidak ada pembukuan. Diperkirakan pemasukan/hasil dari pemeriksaan rawat jalan per harinya sekitar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu, ternyata yang disetor ke bendahara diduga cuma Rp60 ribu saja,” tambahnya.

Advertisement

Masih menurut sumber itu, karyawan merasa “sudah terintimidasi bertahun-tahun” dikarenakan tidak ada transparansi, sehingga karyawan Puskesmas tersebut menuntut supaya TU dipindahkan. “Tapi sampai saat ini belum ada tanggapan dari Dinas Kesehatan dan Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) dan masalah ini diperkirakan sudah terjadi sekitar 7 tahunan,” terangnya.

“Bahkan 2 tahun kebelakang sudah demo ke Dinas Kesehatan (DINKES) Kabupaten Subang untuk memindahkan TU tersebut tapi sampai saat ini tidak ada tanggapan dan juga sampai sudah melayangkan tandatangan semua karyawan.”

“Ini mungkin udah membludak/kesal dan sampai-sampai yang sudah gak tahan dengan keadaan tersebut lebih baik memilih pindah kerja,” ungkapnya.

Salah satu PNS yang tidak mau disebut namanya yang berada di Puskesmas Pagaden Barat saat dimintai keterangan membenarkan kabar tersebut. “Ya benar sukwan di sini banyak mengeluhkan [pemotongan] honor, bahkan ada juga yang pindah,” ujarnya.

Kepala Puskesmas Pagaden Barat, Mahdi, yang didampingi Kasubag TU, Erni, saat dimintai keterangan oleh tim kupasmerdeka.com Sabtu 7/3 lalu mengatakan bahwa tenaga sukwan di Puskesmas ini berjumlah sebanyak 22 orang, mereka tidak menerima upah atau honor.

“Karena pada waktu mau menjadi tenaga sukwan/magang di sini mereka membuat surat pernyataan mengenai tidak diberikannya upah/honor,” kata Mahdi.

Sementara itu mengenai anggaran program, Mahdi hanya mengarahkan untuk memeriksa langsung ke sebuah “situs web”, yang tidak disebut alamatnya.

“Mengenai anggaran Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan bantuan yang lainnya, coba saja dibuka di website, di situ ada,” tegasnya.

Reporter: Sunardi, mulyadi, udin
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*