Dorong UMKM Di Kabupaten Cianjur “Naik Kelas”, Universitas Prasmul Jakarta Gelar “Saung Rahayat”

(dok. KM)
(dok. KM)

CIANJUR (KM) – Sebanyak 84 usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bidang kuliner khas Puncak menjadi mitra binaan Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul) Jakarta dalam Saung Rahayat yang dilakukan sebagai agenda rutin program Community Development (Comdev) dalam upaya mengembangkan usaha mikro agar “naik kelas” di Puncak, Bogor hingga Cipanas, Cianjur, Minggu pagi 1/3.

“Iya ini agenda rutin, selain pembelajaran mahasiswa buat mengembangkan dari mikro ke menengah dan selalu hadir di ‘saung rahayat’. Dan ini bukan hanya di Puncak Cianjur melainkan di Kuningan juga,” kata Direktur Business Studies Universitas Prasetiya Mulya Fathony Rahman di Lapangan Istana Cipanas usai kegiatan berlangsung.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, untuk tahun ini Commdev Universitas Prasetya Mulya melibatkan 554 mahasiswa di Cianjur dan 192 di Kuningan dengan mitra binaan 82 UMKM di Cianjur dan 28 di Kuningan.

“Kita juga pernah melaksanakan di Sukabumi dan Purwakarta dalam pelaksanaannya, tentu kita harus bermitra juga dengan pemerintah daerah,” katanya.

Ia menjelaskan, program ini sudah dilakukan sejak 2008 secara konsisten dengan dengan kemasan saung rahayat. “Rencananya kita akan melebarkan sayap di daerah lain seperti Sumedang namun butuh kajian-kajian,” jelasnya.

“Alasan kedepannya memilih Sumedang, selain sudah ada kerjasama dan disana banyak yang bisa dikembangkan apalagi Commdev ini bukan sebatas sektor usaha mikro saja namun dari sisi digital juga bisa dikembangkan sehingga manfaat buat masyarakat jadi lebih besar,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Cianjur Herman Suherman mengapresiasi peran Universitas Prasmul Jakarta yang secara rutin memberikan pendampingan wirausaha kepada masyarakatnya.

“Alhamdulillah sekarang semakin maju, saya doakan juga mahasiswa agar hasil studi lapangan Commdev ini bisa dimanfaatkan dalam pekerjaannya. Tentunya selain bermanfaat untuk mahasiswa juga otomatis ada benefit bagi masyarakat sekitar dari segi ekonomi dari 5 sampai 10%,” katanya.

Ia menambahkan, kontribusi ratusan mahasiswa Universitas Prasmul mengadakan program Commdev sebagai studi lapangan di wilayahnya, khususnya di wilayah Cipanas ini berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“PAD kita tiap tahun naik, dan kontribusi dari Cipanas dengan adanya kegiatan mahasiswa yang digelar setahun sekali dalam kurun waktu sebulan membina UMKM di Cipanas ini sebesar 5-10 persen,” tambahnya.

Advertisement

Sementara itu, Ketua Pelaksana Saung Rahayat 2020 Universitas Prasmul Javier Junorian mengatakan konsep awal menggelar acara ini pihaknya hanya melihat khas Cianjur yakni beras pandan wangi dan tema lukis.

“Intinya kita ingin mewadahi potensi daerah sehingga nantinya bisa bermanfaat dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Selain itu, kita ingin menonjolkan adanya kebersamaan,” tuturnya.

Ia menyebutkan, tema konsep Saung Rahayat tahun ini adalah kegiatan yang menghasilkan perekonomian dan bila ini digabungkan maka bisa mendapatkan kebersamaan yang bisa dirasakan oleh masyarakat itu sendiri.

“Kita ingin Saung Rahayat ditebalkan dari sektor pariwisata. Sebab selain UMKM ternyata ada potensi besar di pariwisata, bukan sebatas kekayaan jasa saja melainkan ada destinasi yang bisa dilembangkan seperti curug atau air terjun, makanan, apalagi sekarang era ecotourism,” sebutnya.

Dalam kesempatan yang sama, manager Pusat Pengembangan Usaha Kecil (PPUK) Universitas Prasetiya Mulya Jakarta mengatakan, selama menjalankan program Commdev ini umumnya bukan tanpa kendala.

“Kendala ada saja, umumnya lebih kepada motivasi dari masyarakat, meski demikian kita akan monitoring secara berkelanjutan setelah 30 hari (dibina mahasiswa) maka 6 bulan ke depan kita harus melihat perkembangan masyarakat dan mitra harus memiliki mimpi baru yang otomatis bisa semakin besar,” ujarnya.

Alasan pihaknya memilih sektor usaha mikro karena dinilai “unik”. “Apalagi sebagaimana diketahui UMKM itu merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, sehingga pengembangan UMKM bukan hal yang mudah namun minimal harus ada spirit dari masyarakat,” tuturnya.

“Dalam memilih daerah sasaran, kita biasanya punya standar penilaian diantaranya melihat potensi daerah ini jadi nilai utama, selain itu dari sisi akses yang harus bisa ditempuh [maksimal] 6 jam perjalanan kemudian dari sisi pelaku usaha, lalu soal izin mudah atau tidak, selain itu dilihat pelaku mikro atau pelaku kecil dari sisi motivasinya bagaimana,” ungkapnya.

Reporter: HSMY
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: