Anggap Toleransi Masyarakat Parungpanjang Kurang Maksimal, Komunitas Katolik Gelar Seminar “Indahnya Toleransi”

BOGOR (KM) – Komunitas Umat Katolik Parungpanjang menggelar seminar bertajuk “Indahnya Toleransi” di SMK Bina Putera Mandiri, Kecamatan Parungpanjang, Minggu pagi 16/2 kemarin.

Tampak hadir peserta dari lintas agama, komunitas, ormas, pelajar, Karang Taruna, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), serta sejumlah tokoh masyarakat maupun tokoh pemuda Parungpanjang.

Ketua Komumitas Umat Katolik Parungpanjang Frederikus Fios mengatakan, seminar ini dibuat untuk meningkatkan rasa toleransi antar umat beragama yang ada di Parungpanjang dengan membuka wawasan, dan cara berpikir yang pluralis.

“Saya melihat toleransi masyarakat Parungpanjang kurang maksimal, seminar ini untuk membuka wawasan dan cara berpikir yang lebih pluralis terbuka untuk menghargai perbedaan itu. Masyarakat Parungpanjang memiliki perbedaan yang sangat luar biasa, oleh karena itu, ini merupakan perubahan yang begitu luar biasa, ada orang yang pola berpikirnya maju bisa terbuka, tapi ada yang pola berpikirnya itu tertutup, itu susah untuk menerima hal-hal baru perbedaan-perbedaan sosial itu,” tegas Fios kemarin.

Selain itu, Fios mengharapkan seminar “Indahnya Toleransi” di Parungpanjang itu bisa meningkatkan toleransi antar umat beragama.

“Saya berharap dengan seminar ini Parungpanjang lebih baik, toleransi semakin tinggi, penghormatan itu semakin dihidupi dalam kegiatan sosial masyarakat, sehingga nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai kerukunan itu bisa semakin bagus untuk perbaikan Parungpanjang lebih baik kedepan,” kata Fios.

Salah satu pembicara, pakar sosiologi Yustinus Suhardi Ruman, yang merupakan Dosen Sosiologi di Universitas Bina Nusantara Jakarta mejelaskan, di Parungpanjang perlu ditingkatkan pendidikan pemahaman kewarganegaraan dengan tujuan masyarakat Parungpanjang bisa hidup bersama orang lain yang berbeda pemeluk agama.

“Menurut saya yang paling penting itu pendidikan kewarganegaraan atau Pancasila itu harus dilakukan oleh masyarakat sipil itu sendiri pada level masyarakat, karena bila dilakukan oleh masyarakat itu sendiri itu pembangunan, pengembangan, penguatan, kesadaran kolektif sebagai satu bangsa itu lebih cepat menyebarnya dan jauh lebih memembentuk kepribadian masyarakat itu sendiri,” jelas Yustinus.

Menurut akademisi itu, jika pemahaman kewarganegaraan terus diberikan kepada masyarakat, maka berbagai masalah di lintas agama akan mudah terselesaikan.

“Jika pemahaman kewarganegaraan itu dilakukan oleh masyarakat itu sendiri, maka berbagai macam persoalan-persoalan yang dialami oleh masyarakat itu sendiri lebih cepat terselesaikan, ketimbang menunggu program-program yang berasal dari negara. Oleh karena itu perlu didorong, perlu dibantu, para inisiator-inisiator yang ada di masyarakat untuk mengembangkan pendidikan kewarganegaraan itu sendiri untuk mengembangkan toleransi, jadi kepada mereka harus diberi apresasi yang tinggi, pemberian pemahaman kewarganegaraan itu dari pihak sekolah, tingkat RT, tingkat karang taruna dan lain sebgainya, dan jika ada masalah agama pasti akan mudah terselesaikan,” tuturnya.

Dalam hal bersamaan Egi Gunadhi Wibawa, salah satu tokoh pemuda Parungpanjang, mengapresasi seminar tersebut, dan menurutnya perlu diadakan terus ke seluruh desa yang ada di Parungpanjang.

“Saya sangat apresasi, menyambut baik dan saya sangat mendukung penuh kegiatan ini bahkan jika kita adakan lagi lebih bagus lagi, ke wilayah-wilayah, ke desa-desa gitu, dan kita bergotong royong melakukannya, karena kita ini di Indonesia, khususnya di Parungpanjang ini harus melakukan hal yang ini, untuk membangun sebuah pemahaman bahwa kita harus menyatu dengan berbagai perbedaan, karena perbedaaan itu sudah keniscayaan, gak bisa kita menghindar dari itu, karena memang sudah menjadi takdir kita, beda agama, beda suku, beda budaya, jadi mari kita bersatu dalam perbedaan itu dan yang paling penting saling menghormati,” ucap Egi.

Menurutnya, untuk saat ini Parungpanjang “sangat toleransi”, tetapi perlu ditingkatkan pemahaman prinsip dan teknis mengenai toleransi.

“Parungpanjang inin sangat toleransi, hanya saja di bagian-bagian tertentu perlu ada peningkatan […] misalnya dibangun perumahan namun tidak dibangun tempat ibadah, akhirnya muncul persoalan itu karena tidak keluarnya izin, karena memang sarananya ga ada gitu, dan harapannya Parungpanjang damai, kebutuhan ekonomi ada, kebudayaan, agama dan Parungpanjang tetap toleransi yang tinggi, hanya perilu ditingkatkan dengan perlu adanya upaya prinsip dan teknis,” harap Egi.

Reporter: HSMY
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*