“Rumah Cinwa” Jadi Pusat Edukasi Pengenalan Wayang Potehi
DEPOK (KM) – Aneka ragam seni budaya serta banyaknya suku, agama, ras yang berpadu dalam bingkai NKRI menjadi sumber kekuatan yang tidak ternilai harganya. Keberagaman tersebutlah yang menjadikan NKRI menjadi salah satu negara besar dan diperebutkan potensinya oleh banyak negara dari berbagai belahan dunia.
Menjaga dan merawat kelestarian seni budaya tentu menjadi sangat penting dalam rangka terus memperkuat nasionalisme dan kecintaan warga negara terhadap ibu pertiwi. Hal inilah yang dilakukan oleh Komunitas Rumah Cinta Wayang (Cinwa) yang aktif menjalankan kegiatannya di Taman Kaldera, Setu Jajar, Kota Depok.
Bersama-sama dengan komunitas pecinta wayang lain seperti Asia Wangi dan komunitas seni budaya lainnya, Rumah Cinwa secara konsisten terus berupaya mengenalkan kekayaan budaya warisan nenek moyang melalui penyelenggaraan edukasi informal dalam bentuk pengenalan beraneka jenis wayang dengan berbagai filosofi ketokohannya kepada generasi milenial.
“Khusus di minggu ke-4 setiap bulannya, kita mengadakan kegiatan mewarnai wayang yang diikuti oleh anak-anak siswa sekolah, berapapun yang datang apakah 10, 20, 30 atau 100 orang, kegiatan tetap dilaksanakan,†ujar Dwi Woro Retno Mastuti, pendiri Rumah Cinwa saat diwawancarai KM di kediamannya.
Lebih lanjut, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) ini menjelaskan awal keberadaan Rumah Cinwa yang didirikannya tersebut. “Awal Rumah Cinwa idenya setelah saya menulis buku tentang wayang potehi pada 2012, diawali riset tentang potehi sejak 2004 saat di Jerman,†katanya.
“Lalu buku terbit dengan kesimpulan penutup bahwa wayang potehi sudah hampir punah dan saya merasa harus punya upaya untuk bagaimana menjaga keberlangsungannya. Dalam perjalan riset tersebut, saya membeli wayang potehi sebanyak 20 buah hingga ada yang menawarkan panggungnya untuk saya beli karena pemiliknya sudah meninggal dunia. Akhirnya saya panggil mahasiswa saya untuk dikenalkan wayang-wayang potehi tersebut, saya ajarkan cara memainkannya berdasarkan dari hasil pengetahuan yang saya dapat saat riset,†lanjut Dwi Woro.
“Pertama kali main di Klenteng sebagai dalang wanita, selanjutnya diundang lagi di Klenteng daerah Tangerang. Ada ritme-ritme musiknya, dan kami kembangkan ritmenya sesuai perkembangan jaman yang lebih milenial tanpa keluar dari pakem utamanya,†jelasnya lagi.
“Kemudian baru bertemu dan berkolaborasi dengan Komunitas Asia Wangi (anggotanya dari seluruh karyawan Bank BCA Jabodetabek) serta komunitas wayang lainnya baik wayang kontemporer dan milenial,†terang Dwi Woro.
Cinwa sendiri, menurut Dwi Woro, merupakan kependekan dari risetnya, Cina-Jawa, yang meneliti tentang tradisi lisan dan tertulis yang terdapat pada cerita Tiongkok klasik namun ditulis dalam aksara Jawa dan semua kisah tersebut ada di pulau Jawa.
“Akhirnya Rumah Cinwa menjadi sebuah gerakan untuk mencintai, memahami, mengerti, dan mengenal wayang. Makna wayang menurut saya bisa dari lahir dan fisik, kalau fisik hanya gambaran tokoh, baik dalam kisah Ramayana dan Mahabarata, sementara dari sisi lahir (filosofinya) dapat menjadi the way of life jika sudah mengenal 1 saja tokoh wayang seperti pandawa,†terangnya lagi.
“Kejayaan negara kita tergantung pada keluhuran budaya kita, di sini pelatihan wayang diawali dengan mewarnai untuk membangun softwarenya agar dilatih tenang dan dapat mengagumi keindahan, setelah itu berlanjut pada kegiatan mendayung di setu,†pungkasnya.
Reporter: Sudrajat
Editor: HJA
Leave a comment