KUPAS KOLOM: Awas ada Hantu!

hanu
Ilustrasi hantu

Oleh Marga Putra

Ada hantu yang sedang berkeliaran di kampus dan telah menguasai kehidupan kampus, sedang membayangi diri anda, berjaga-jagalah. Hantu apakah itu? Dalam suatu mitologi keluarga hantu, hantu tidak memiliki wujud tapi dapat menjadi wujud-wujud tertentu. Semua tergantung si hantu ketika memilih mengekspansikan pada sasaran yang telah dikehendaki. Setiap hantu memiliki tingkat kecerdasan masing-masing, pada umumnya tingkat kecerdasan hantu lebih tinggi daripada kecerdasan seorang manusia. Adalah suatu keunikan bila hantu mampu mengontrol atau mengendalikan sasarannya. Namun jangan khawatir sahabat pembaca, ada satu kelemahan hantu tersebut yang tidak terelakkan, dan ini bukan di dalam internal hantu tersebut tapi pengaruh faktor eksternal dari hantu yakni objek sasarannya memiliki suatu tingkat pemahaman atau perspektif revolusioner yang telah teruji karena militansinya. Syarat ini sungguh menakutkan bagi hantu tersebut. Hantu itu disebut dengan ‘Demoralisasi’.

Bagian ini penulis menyarankan kepada sahabat pembaca untuk sekedar mengambil inisiatif mencari terlebih dahulu arti kata demoralisasi. Setelah menemukan artinya, penulis akan melanjutkan lagi bagian ini. Jika dari sebagian pembaca merasa sudah mengenal diksi ini maka berbahagialah karena bagian selanjutnya ini penulis tidak akan membahas panjang lebar pengertiannya melainkan penulis berinisiatif mengeksplor lebih mendalam bagaimana ‘hantu’ ini menjamah mayoritas manusia. Cara kerja hantu tersebut adalah datang secepat kilat, perginya selambat mungkin. Proses mengusir hantu tersebut akan penulis kupas tuntas di bagian akhir tulisan ini. Tulisan ini cukup subjektif karena berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis. Jika ada yang merasa tidak penting silahkan berhenti membaca sekarang. Jangan khawatir bagi yang ingin melanjutkan membaca, karena penulis akan bertanggung jawab memenuhi rasa keingintahuan sahabat pembaca. Penulis akan menyajikan kepada sahabat pembaca bagaimana seseorang mengalami sebuah ‘kegenitan’ ketika terkena demoralisasi.

Saat ini Bangsa Indonesia sedang mengalami suatu demoralisasi yang hebat (masyarakat yang mudah cemas dan depresi, situasi yang tak beraturan, krisis kepercayaan dan lain sebagainya) merupakan beberapa hal yang nampak di permukaan masyarakat. Tingkat degradasi juga kemerosotan di berbagai lini kehidupan seperti aspek ekonomi, pendidikan, sosial politik, budaya, dan moral. Dari segi ekonomi, kita dihadapkan pada lintasan kesenjangan, kesejahteraan dan disparitas keadilan terhadap masyarakat kelas bawah. Tidak semua orang yang bekerja sebagai buruh, tani dan nelayan serta masyarakat miskin kota dapat menikmati hasil kerjanya sendiri. Kendali tuas-tuas ekonomi berada pada segelintir orang, menciptakan jurang kemiskinan di lain sisi dan di sisi lain kekayaan munumpuk di tangan minoritas orang.

Tidak kalah buruk lagi soal pendidikan, dimana ada gap antara pendidikan dan orientasi pendidikan. Paradigma pendidikan dengan prinsip ekonomi telah menggerogoti hakikat pendidikan itu sendiri. Pendidikan telah bergeser makna dari value menjadi profit oriented. Dalam hal aksesibilitas, belum semua warga bangsa dapat mengeyam pendidikan yang baik. Keluarga dengan tingkat ekonomi rendah tidak boleh berharap banyak dapat menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah yang berkualitas bahkan paling buruknya tidak lagi bermimpi menikmati mengenyam pendidikan. Masalah ekonomi dan pendidikan saling merasuki dalam setiap perjalanan kehidupan umat manusia. Keduanya turut memberikan andil besar dalam mempengaruhi perilaku sosial politik masyarakat.

Misalnya dengan jam kerja yang lama bagi seorang karyawan kantor dan buruh pabrik yang bekerja selama 7-8 jam kerja belum terhitung kerja lembur bisa lebih yang diatur dalan Undang-Undang no 13 tahun 2003 pasal 77 sampai pasal 85 tentang ketenagakerjaan. Secara implikasi sedikit banyaknya berpengaruh kepada kehidupan sosial masyarakat khususnya keluarga. Seorang karyawan atau buruh misalnya bagi yang berkeluarga memiliki keterbatasan waktu bersama keluarganya. Juga berpengaruh kepada yang belum berkeluarga misalnya mengurangi jam bermainnya. Dengan sedikit waktu bermain bersama anaknya memiliki efek yang buruk pada moral anak karena kurang pengawasan. Akibatnya sekolah-sekolah menjadi bertambah bebannya untuk mengurusi perilaku anak disamping mencerdaskan anak murid secara akademik. Penulis tidak tergesa-gesa menyimpulkan apakah masalah diatas berpengaruh pada tingginya angka kriminalitas, perilaku tidak wajar dan melawan norma, tawuran antar pelajar sehingga memberikan pekerjaan berat bagi pihak kepolisian untuk menangani kasus-kasus tersebut. Seberapa banyak laporan yang masuk ke databese kepolisian terkait kasus-kasus diatas dan sudah berapa kasus yang telah berhasil ditangani setiap tahun, semoga sahabat budiman bisa membantu penulis mencaritahu angkanya. Dilain pihak, ‘teralienisasinya’ rakyat pekerja dari pekerjaannya membuat sebagaian besar pekerja tidak mampu mengeksplor lebih jauh diri dan kreatifitasnya dalam bidan seni, budaya dan lainnya.

Bagian paling menarik adalah moralitas. Kenapa menarik? Nah sambil membaca sembari ngopi, penulis akan melanjutkan membahasnya.
Tingkat paling krusial adalah demoralisasi yang terjadi di sebagian kalangan masyarakat baik pada kalangan pejabat tinggi, wakil rakyat, pemuka agama juga tidak lupa, mahasiswa dan pemuda serta pelajar dan kalangan masyarakat lainnya menyusup secara cepat seperti kilat lalu menggerogoti paradigma dan sikap pribadi seseorang. Hampir semua layar televisi dan media informasi baik online maupun cetak menayangkan bagaimana krisis moral ini telah merambah dan menggerogoti semua lapisan masyarakat termasuk pemuda sebagai generasi penerus bangsa di hari-hari depan.

Derasnya arus globalisasi dibawa oleh lautan sistem kapitalisme memberikan efek positif dan negatif, tergantung bagaimana kita menyikapinya bukan mencoba merubah frase terhadapnya. Sejauh mana kita dapat mengambil peran dan ikut aktif sebagai warga bangsa Indonesia yang baik. Sebagaimana telah tertuang dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 alinea ke empat (4). Tidak hanya menjadi tugas dan wewenang pemerintah akan tetapi mejadi tugas dan kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia. Perlu kerjasama antar pemerintah dan warga masyarakatnya secara visi dan misi sesuai asas pancasila dan disemangati oleh kemahasiswaan.

Peran penting mahasiswa dan pemuda sangat diharapkan kiprahnya tidak hanya dalam ruangan kelas (menuntut ilmu) tetapi jauh dari pada itu terlibat dan berpihak kepada kaum tertindas dengan semangat solidaritas sesama mahasiswa. Agen of change dan agen of control tidak hanya lantang diteriakan tapi harus dipupuk dan dibekali dengan banyak membaca buku dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh baik didalam maupun kehidupan luar kampus. Melatih diri, keberanian dan bersosialisasi dengan pihak lain khususnya masyarakat adalah salah satu cara mengukur kadar militansi mahasiswa. ‘Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri’ kata Pramoedya Ananta toer. Menjadi mahasiswa dan sekaligus pemuda merupakan suatu kesempatan emas. Bonus demografi di tahun 2045 adalah suatu anugrah atau bencana? Tergantung seberapa siapkah kita mengahadapinya atau buruknya terhempas dari peradaban. Menjadi potensi apabila kita berusaha. Menurut data BPS 2018, jumlah generasi milenial berusia 20-35 tahun mencapai 24 persen, setara dengan 63,4 juta dari 165 juta jiwa penduduk Indonesia. Usia produktif 14-64 tahun.

Sebagai bagian dari generasi milenial, penulis merasa perlu mengajak para sahabat pembaca untuk berani meninggalkan kebiasaan lama dan mulai mengurangi sikap apatis dan autis dalam kehidupan kampus. Mencari dan mengumpulkan informasi terbaru agar terbiasa. Pilih-pilah bahan bacaan dan bacalah buku dengan tema yang berbeda-beda. Seringlah meleburkan diri dalam kelompok diskusi. Jika hambatannya negara melalui alat pemaksanya masih melarang orang membaca dan membuka perpustakaan maka tetaplah membaca dan berdiskusi, so easy kan? Membaca adalah jendela dunia, begitu kata bijaknya.

Ini adalah suatu jalan untuk menghalau hantu tersebut dari diri anda jika anda tidak mau terkena syndrom demora (penurunan pola pikir dan tindak seketika pada manusia). Tutuplah jejak-jejak hantu itu. Kenakanlah jubah mahasiswa, bukan jubah hantu itu.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*