Sidak Kejari Bangka ke Jembatan Baturusa, PJU Kini Sudah Menyala

PJU solar cell pada saat malam hari di Jembatan Baturusa, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka (dok. KM)
PJU solar cell pada saat malam hari di Jembatan Baturusa, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka (dok. KM)

BANGKA (KM) – Menyusul ramainya perbincangan masyarakat di media sosial Facebook serta pemberitaan di media beberapa pekan lalu mengenai matinya lampu penerangan umum di Jembatan Baturusa, kini penerangan jalan umum (PJU) Jembatan Baturusa sudah kembali hidup semuanya. Hal ini juga tidak lepas dari buah hasil sidak Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bangka, Jeffry Huwae bersama timnya ke lokasi jembatan tersebut.

Pantauan KM dengan beberapa awak media lainnya Jumat 29/3 malam sekira pukul 21.00 WIB, sebanyak 18 unit lampu PJU sudah berfungsi lagi, sehingga Jembatan Baturusa yang sebelumnya gelap gulita kini sudah terang benderang.

Kajari Bangka Jeffry Huwae bersama Kasi Intel Andri Mardiansyah dan beberapa stafnya, didampingi manager pelaksana dari PT RZK, Thoib serta staf PJN Wilayah I Babel, langsung melakukan pengecekan terhadap pergantian peralatan PJU Jembatan Baturusa tersebut.

“Kita semua sudah melihat kondisi barang-barang ini, jadi tidak ada lagi keragu-raguan saya, karena ini sudah SNI [Standar Nasional Indonesia]. Maka kalau besok masih ditemukan kerusakan itu bukan lagi soal pekerjaan, melainkan ada faktor-faktor lain, bisa saja karena suhu, alam dan lain sebagainya,” ungkap Jeffry.

Kajari juga menambahkan, dalam suatu pekerjaan yang terpenting adalah soal mutu dengan ketentuan barang berlabel SNI.

”Yang paling penting adalah kita menjamin mutu saat pekerjaaan dan jika seandainya setelah dipasang ini ternyata masih juga ada yang belum menyala hendaknya dicek lagi apa masalahnya. Kalau seumpama dibilang ada yang rusak jangan di bilang kontraktornya yang salah tetapi pertanyaannya yang meletakan standar ini, yang perlu kita tanya, sebab terdaftar di SNI dan sudah disertifikasi. Jadi kalau di standarkan ternyata masih juga tidak menyala patut diduga yang memberi standar ini yang salah,” imbuhnya.

Advertisement

Kajari Bangka kembali menegaskan bahwa jaksa bukan ahli dalam bidang ini akan tetapi bisa melihat dari mekanisme dan manajemen pengadaan barang-barang bermutu.

“Saya tegaskan jaksa bukan ahli tetapi kita bisa lihat dari mekanisme manajemennya. Contonya kalau kita banyak merk kita butuh banyak ahli sehingga kalau rusak maka kita juga butuh banyak ahli. Tapi kalau satu merk kita lebih mudah mengendalikannya,” terang Kajari Bangka menanggapi temuan beberapa komponen PJU dari berbagai merk sebelumnya.

Lebih lanjut Jeffry juga menjelaskan perihal kejaksaan yang cepat merespon keluhan masyarakat terkait tidak berfungsinya PJU Jembatan Baturusa sebelumnya. Menurutnya, itu karena kejaksaan “milik rakyat”.

“Jadi kalau rakyat menangis tugas saya untuk menghapus air matanya dan kalau mereka muram tugas saya untuk membuat mereka tersenyum. Jadi tidak ada tendensi negatif di proyek ini tetapi yang ada adalah tanggung jawab moral supaya yang kita kerja bukti bakti bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.

Reporter: Dedy wahyudy
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: