Sidang Penipuan dan Penggelapan Tanah UNTAG, Saksi Klaim Diteror

Tedja Widjaja saat menjalani persidangan kasus penggelapan dan penipuan di PN Jakarta Utara, 28/11/2018 (dok. KM)
Tedja Widjaja saat menjalani persidangan kasus penggelapan dan penipuan di PN Jakarta Utara, 28/11/2018 (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Sidang perkara penipuan dan penggelapan tanah milik Yayasan Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) dengan terdakwa Tedja Widjaja kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Utara 28/11, dengan agenda sidang keterangan saksi.

Bambang Prabowo, yang menjadi saksi fakta dalam perkara pidana no.1087/ Pid.B/2018/Pengadilan Negeri Jakarta Utara itu mengajukan surat kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) karena mengaku mendapat ancaman dan teror dari “pihak yang tidak bertanggung jawab”.

Menjelang persidangan yang digelar hari ini, Bambang mengaku “sudah tidak tenang” diganggu ancaman dan teror, baik ke rumah maupun di kantor tempat dia bekerja. Bambang menjadi saksi fakta dalam perkara 378 dan 372 KUHP yang menjerat Tedja Widjaja, pemilik Sekolah Lentera Kasih Sunter Jakarta Utara.

Bambang pun mengajukan surat permohonan kepada Kejari Jakarta Utara dan kepada Ketua Majelis Hakim untuk dapat didengar keterangannya lebih dahulu dari saksi pelapor Rudi Rudyono.

Tedja Widjaja didakwa oleh JPU Frederik Adhar telah melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan terhadap tanah milik Yayasan UNTAG Jakarta. Akibat perbuatannya, Yayasan UNTAG telah kehilangan tanah yang cukup luas. Saksi Bambang Prabowo juga telah melaporkan terdakwa Tedja Widjaja ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu yang lalu terkait kasus pemalsuan sertifikat tanah milik Yayasan UNTAG Jakarta yang melibatkan oknum PNS di Pemda Jakarta Utara.

Sementara itu, di luar ruang sidang, sekelompok warga yang mengatasnamakan organisasi “Solidaritas Merah Putih” (SOLMET) menggelar aksi damai menuntut agar hakim memutuskan perkara “seadil-adilnya”.

Reporter: Nurhadi
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*