KUPAS KOLOM: Kata Sri Mulyani Negara Untung, tapi Lemahnya Rupiah Nyatanya Bikin PLN Rugi, Sembako Naik
Oleh Adri Zulpianto*
Di hadapan DPR pada Juni lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan melemah pada tahun 2018 sebesar Rp. 13.400 dan hingga kisaran Rp 13.700-14.000 di 2019. Namun, belum habis tahun 2018, rupiah sudah melampaui kisaran Rp. 14.000 – Rp. 14.400.
ALASKA (Aliansi Lembaga Analisis Kebijakan dan Anggaran) yang terdiri dari Lembaga Kajian dan Analisis Keterbukaan Informasi Publik (Kaki Public) bersama Center for Budget Analysis (CBA) menilai bahwa dib alik melemahnya rupiah yang terus keluar melampaui batas kisaran yang dikatakan Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan, dan membuatnya keluar dari batas kesadaran dirinya yang mengatakan bahwa di balik lemahnya rupiah, Negara untung sebesar Rp8 triliun. Tapi sebetulnya PLN rugi dan harga sembako naik melampau batas, seperti harga telur.
ALASKA menilai bahwa untung Negara yang dikatakan menteri keuangan tersebut membuktikan tingkat kecerdasan Sri Mulyani kali ini melampaui batas, sehingga kecerdasan tersebut seperti menghilangkan fakta bahwa Negara berada pada kerugian yang nyata.
Pada kenyataannya, meskipun lemahnya rupiah berdampak pada penambahan pendapatan Negara, namun akibat melemahnya rupiah membuat BI pun turut turun tangan mendorong agar rupiah kembali menguat dengan menggelontorkan uang sebesar Rp18 triliun untuk intervensi pada pasar sekunder, sementara di pasar primer yang bukan dalam konteks intervensi BI telah mengeluarkan dana sebesar Rp.42 triliun. Sedangkan, Cadangan Devisa (Cadev) Negara sejak tiga bulan terakhir mengalami penurunan sebanyak USD 5,1 miliar dari bulan April sebesar USD 124,9 miliar dan pada akhir Juni menjadi sebesar USD 119,8 miliar.
Parahnya, akibat pelemahan rupiah yang melampaui kisaran Menteri Keuangan, PLN justru merugi sebesar Rp6 triliun karena biaya operasional yang tembus hingga Rp10 triliun. Hal ini terjadi karena di setiap pelemahan rupiah sebesar Rp100, maka biaya produksi PLN meningkat sebesar Rp 1,3 triliun.
Konsekuensinya, laba yang didapatkan oleh PLN akan berkurang, sehingga bukan tidak mungkin apabila berkurangnya laba PLN, maka tarif listrik bagi rakyat pun akan kembali dinaikkan seperti yang terjadi pada tahun sebelumnya ketika laba PLN merosot 71,67% dari sebesar Rp. 15.6 triliun menjadi Rp. 4,42 triliun.
Dari kemerosotan laba PLN, ALASKA menilai bahwa pelemahan rupiah pun berimbas pada biaya untuk bertahan hidup yang terus meningkat. Kenaikan harga telur pun sudah mengawali efek lemahnya rupiah yang kemudian akan kuat berimbas pada kenaikan harga di sektor industri makanan. Kemudian menyusul pada kenaikan sektor manufaktur dan ritel dalam negeri yang mengandalkan bahan produksinya dari impor.
Maka dari itu, ALASKA menilai bahwa Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan telah gagal menjaga perekonomian dalam negeri, karena selama ini Sri Mulyani terlalu fokus berhutang dan mengimpor dari luar negeri ketimbang mengembangkan ekonomi dalam negeri dengan menggencarkan ekspor barang jadi dan mengembangkan sumber daya alam dalam negeri dengan harga yang tidak diberi murah kepada Negara lain.
Selain itu, kami menilai bahwa kegagalan Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan selama ini ditengarai karena terlalu fokus membuat kebijakan ekonomi dalam negeri yangvlebih menguntungkan bagi negara lain ketimbang menguntungkan sektor ekonomi dalam negeri yang dapat menguntungkan bangsa dan Negara Indonesia.
*Koordinator ALASKA
Leave a comment