KUPAS KOLOM: Teror, Gaya Komunikasi Politik Para Elite dan Tawaran Sufisme

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Nusantara, Rizki Permana, S.E., M.M.
Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Nusantara, Rizki Permana, S.E., M.M.

Oleh Rizki Permana, S.E., M.M.*

Brian McNair, dalam bukunya Introduction to Political Communication, menulis bahwa teror adalah sebuah bentuk komunikasi politik yang dilakukan di luar prosedur konstitusional.

Para teroris mencari publisitas untuk membawa tujuan psikologis mereka. Para teroris menggunakan kekerasan untuk menghasilkan berbagai efek psikologis seperti demoralisasi musuh, mendemonstrasikan kekuatan gerakan mereka, mendapatkan simpati publik dan menciptakan ketakutan dan chaos.

Untuk mencapai tujuan ini, para teroris harus mempublikasikan aksi mereka.

Sebagai sebuah tindakan pidana, bahkan tergolong transnational crime (kejahatan lintas negara), kita serahkan penanganannya kepada aktor-aktor keamanan (Polri, TNI, BIN dan pihak-pihak terkait), termasuk “profesional sunyi” Densus 88 Anti-Teror.

Ini disebut sebagai hard approach (pendekatan keras) untuk menghalau jatuhnya banyak korban.

Maka diperlukan tindakan cepat dan tepat. Penegakan hukum, pendekatan keamanan dan pada batas tertentu lewat operasi militer non-perang mestilah tetap dalam koridor demokrasi, HAM, dan non-diskriminasi.

Tak ada salahnya juga kita menengok beberapa kritikan dari sejumlah pihak menyoal penanganan Densus 88 Anti-Teror sebelumnya, terkait pembumihangusan teroris tanpa menimbang ‘asas praduga tak bersalah’.

Namun melihat kebrutalan teroris akhir-akhir ini, secara faktual telah menabuh genderang perang terhadap bangsa dan negara kita tercinta ini. Stadium berat.

Karena itu, sambutan kita terhadap kaum irhabis (teroris) itu – apa boleh buat – lantaran selera mereka pengen menantang perang, ditambah kepandiran (tidak) berpikir, maka kebrutalan teroris harus diatasi dengan ketegasan aparat di lapangan.

Di balik pendekatan keras itu, sebenarnya negeri zamrud khatulistiwa ini punya sumber daya spiritual untuk mengembalikan kelompok ekstremis-teroris yang dipenuhi gumpalan nafsu lawwamah dan nafsu amarah ini ke dalam nafsul mutma’innah (jiwa yang tenang).

Tak ada cerita kaum yang tenang bertabur cinta dan kasih membunuh orang lain.

Gerakan tarekat sufi dengan berbagai varian yang sangat besar di Indonesia dengan pengarus-utamaan keberagamaan yang cinta damai, toleran, dan berdimensi esoterik-spiritual, mestilah diberdayakan sebagai wadah deradikalisasi (soft-approach: pendekatan lunak).

Pendekatan lunak dalam pengertian terhadap kelompok teroris yang tumbuh bersemai dari bibit-bibit radikalisme dan mal-praktek jihad, kemudian dikembalikan ke jalan cinta, saling memanusiakan antarsesama (lintas agama, suku, ras dan golongan), seraya mempraktikkan jihad secara sahih: misalnya kerja keras, belajar yang rajin, bermanfaat bagi orang lain, sekaligus menghancurkan penyembah “berhala kekerasan”, sebab itu “musyrikun” yang nyata.

Sebelum lebih jauh membedah anatomi gerakan tarekat sufi untuk menjinakkan ideologi teror, kita kembali dulu ke komunikasi politik kelompok teroris tadi, dan bagaimana akrobatik elite (politisi) menunggangi isu radikalisme-terorisme ini melalui konstruksi komentarnya di berbagai channel media.

Seperti yang dibahas kawan-kawan jamaah pengguna Facebook, betapa berkecambahnya penganut aliran teori konspirasi, yang menyelundupkan fakta korban (yang mestinya diberi atensi dan empati).

Termasuk dukungan moril kepada pemerintah beserta jajaran aparat negaranya untuk bersama-sama mengatasi ancaman terorisme, namun mereka mencuri perhatian khalayak dengan menyeret tragedi ini ke komedi: menertawakan dirinya sendiri bersama spesiesnya.

Dengan kecanggihan pemikiran pandirnya, mereka menuduh ceceran darah dan air mata itu sebagai settingan, konspirasi dan jauh dari iktikad baik untuk mengevaluasi diri dan barangkali juga kehendak untuk meluruskan para pemeluk ideologi maut (bunuh diri sekaligus bunuh orang lain).

Dengan narasi-narasi yang mencerahkan. Kalau memang menemukan sesuatu lewat “nalar tingkat tinggi” itu sambil ketawa-ketawa dengan aura yang sebegitu arogan, laporkan ke pihak berwajib wahai para pemberani!

Penyalahgunaan Medsos dari para pemakai “sianida” teori konspirasi ini tentu saja bakal memberikan testimoni yang supportive bagi kelompok teroris.

Bersahutan degan tahun politik pula, tak ketinggalan sengkarut persoalan terorisme menghadirkan respons elite yang tentu saja disesuaikan dengan selera habitatnya, menenangkan selera konstituen sesuai tingkat kognisinya.

Sebab kalau melawan arus, mau dapat dukungan dari mana lagi? Kekuatan opini publik sangat esensial dalam demokrasi langsung.

Dilema bagi politisi adalah bagaimana menyeimbangkan antara “strategi komunikasi politik” dengan pencerdasan khalayak lewat edukasi dan pernyataan yang bersifat membangun, melampaui dari sekadar golongannya sendiri, tapi untuk semua.

Kalau cuma kalkulasi elektoral, maka jangan harap ruang publik kita menjadi produktif.

Maka, logika politik, etika politik dan estetika politik mestilah seiring sejalan dalam lakon politisi hari ini agar kompetisi demokrasi berbasis pada komunikasi pemasaran politik tanpa mengabaikan akhlak berpolitik. Itulah puncak kebahagiaan politik.

Terhadap manuver gerakan teroris ini, korban dan motif pelaku serta beragam opini publik yg menyertainya, intinya terorisme (barisan sakit jiwa) adalah fakta, bukan remang-remang. Sel-sel tidur sudah bangun kembali, yang kemudian bersekutu dengan barisan sakit hati (saling mengeksploitasi) menambah eksistensi mereka di dunia yang fana ini.

Apalagi dibumbui dengan gincu-gincu agama lalu merasa membawa pesan langit, padahal membuat kerusakan di muka bumi.

“….dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS.Al-Fushilat(28):77).

Nah, kita kembali lagi ke dunia sufi. Sebagai sumber daya spiritual yang sangat potensial untuk menabur hikmah kebijaksanaan ke orang-orang yang terkena opium kekerasan, yang khas dari sufisme sebagai paham, adalah kecenderungannya untuk bercakap-cakap seputar cinta dan kasih sayang, berdimensi batin.

Sehingga, tidak terjebak dalam perdebatan lahiriyah, mazhab, yang memicu perpecahan.

Malahan berupaya untuk mencari titik temu dan common platform(kalimatun sawa) untuk merajut keberagaman lintas agama terutama.

Juga sebagai titik konvergensi lintas Ormas Islam.

Kemudian yang khas dari tarekat sebagai lembaga adalah sistematika dan metode-metodenya yang terarah dalam mengamalkan praktik tasawuf-sufi guna menghancurkan ego (malamatiyah), ketimbang jalan popular dan ujub.

Namun tidak berarti organisasi lain tidak lebih baik, ini hanya tawaran saja. Ketimbang saling menegasikan, maka mari kita sama-sama saling menyumbang sedikit pemikiran dan harapan untuk negeri yang kita pijaki ini.

Harapan pula kepada jangkar NKRI dan rumah besar kaum muslim moderat: NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah agar konsisten sebagai promotor Islam yang berwajah keindonesiaan, yang menjaga Bhineka Tunggal Ika bersama elemen bangsa lain untuk membangun gerakan semesta melawan terorisme, sebab tidak hanya fungsi aparat keamanan tapi juga memerlukan keterlibatan masyarakat sipil.

*Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Nusantara

Leave a comment

Your email address will not be published.


*