KUPAS KOLOM: Elektabilitas Presiden Jokowi Menuju Agustus Unggul 65%

Oleh Gumilar Abdul Latif*

Survey Kompas terakhir mencatat elektabilitas Jokowi berada di titik 55,9%, naik 9.6% dari hasil sigi 6 bulan sebelumnya. Semua calon kompetitor nyungsep. Saya tidak tahu apa yang jadi penyebab.

Tak ada kejadian berarti selama 6 bulan terakhir. Kurs Rupiah melemah. Pemerintah ‘terpaksa’ melakukan blunder dengan mengimpor beras di saat petani sedang panen. Tagar “Ganti Presiden” menggila pada 2 pekan sebelum masa sigi Kompas.

Artinya, kalau elektabilitas Jokowi adalah sesuatu yang fragile, dan kapabilitas serta ruang bermanuvernya berada di kawasan futile, Jokowi butuh sebuah sentakan untuk mengangkat keterpilihannya melampaui garis psikologis 50%, Beliau butuh kabar baik, butuh “kecelakaan”, butuh sesuatu yang membuatnya naik derajat. Tapi, tidak.

Fakta tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa secara perlahan pekerjaan beliau selama 4 tahun mulai membuahkan hasil. Artinya, ada grafik yang memang disusun rinci dan matang bagi pertumbuhan elektabilitas. Artinya, basis pertumbuhan tersebut sudah dibangun oleh Presiden Jokowi mendaki pertumbuhan sejati. Meski tak ditemukan berita “sekonyong-konyong”, Presiden Jokowi memasuki masa panen.

Untuk membandingkan Presiden Jokowi dengan kompetitornya, kita masih meraba-raba, kalau Pak Prabowo yang kemudian tampil di panggung menantang Presiden Jokowi, pertandingan sudah selesai sebelum dimulai. Fadli Zon boleh saja bikin puisi tiap hari, atau kuda Pak Prabowo beranak tiga setiap minggu.

Tapi Pak Gatot Nurmantyo juga belum menemukan jalan menuju panggung, beliau masih terhalang para pedagang cendol yang memadati lingkar pinggir arena. Pak Gatot memandang ke kejauhan, berharap ada orang di atas sana yang mengenali kehadirannya. Modal 2 trilyun rupanya tak bikin mereka silau. Mantan panglima itu mulai putus asa. Apalagi mendapati Jokowi memreteli barisan, yang sekian tahun dibangun untuk meletup di hari terjanji.

Fahri Hamzah memberi kita petunjuk: akan ada pasangan yang mendaftar ke KPU pada tengah malam. Kita diingatkan pada pasangan Anies-Sandi yang mendaftar menjelang tenggat pendaftaran Pilkada DKI setelah Cikeas dan Hambalang saling bicara dan dengan Pak Jusuf Kalla sebagai perantara. Kelihatannya Anies akan maju. Kemarin Pak Amien Rais hadir di Balai Kota, membekali para ustadzah untuk bersuara di masa kampanye bagi pasangan Islam. Dengan siapa Pak Anies berpasangan?

Pak SBY memberi kita petunjuk berikutnya: “Partai Demokrat akan menghadirkan pasangan pemimpin baru yang cerdas, amanah, dan mengerti kainginan rakyat.” Kita lalu paham bahwa menjelang tengah malam penutupan pendaftaran pasangan pilpres 2019, Demokrat akan datang membawa pasangan Jokowi-AHY atau Pasangan Jokowi-TGB ke meja KPU. Ini juga bagus.

Advertisement

Pak SBY mungkin masih percaya pada jaringan Majelis Pengajian yang beliau bangun selama 10 tahun masa kepemimpinannya, tapi sekian juta nomor telpon sudah diputus para provider. Mereka berserakan tak jelas, dan kemarin mereka itu hadir di Istana Bogor bertemu Jokowi. Anggota PDIP yang terbang menemui Rizieq di Mekkah rupanya pulang membawa hasil.

Pada tanggal 13 Mei 2018 mendatang akan berlangsung parade Asian Games. Seperti berbagai kirab yang pernah diselenggarakan untuk Jokowi, parade ini akan berlangsung gemebyar. Kebesaran Nusantara, kemegahan, kegemilangan, sekaligus dengan modernitas yang telah dengan ramah dirangkul Indonesia, akan mengemuka. Rakyat negeri ini diajak berbangga dengan negerinya, bersiap bagi Indonesia-Satu yang sebentar lagi menghampiri siapa pun.

Setelah itu papan-papan elektronik, halaman media daring, kilatan cahaya di media televisi dan radio, hamburan warna di lembar surat kabar, akan memampangkan kejayaan Indonesia selama 2 bulan mempersiapkan Asian Games, dengan gintang-gemintang yang mereka pancarkan. Pada saat itu, bahkan comberan pun tak sudi menampung kaus #GantiPresiden yang sudah dihamburkan.

Lalu kita masuk ke pekan Agustusan. Seluruh kampung berpesta merayakan Indonesia 73 tahun. Jokowi berpidato di Gedung MPR pada tanggal 16 Agustus. Dan perayaan 17 Agutus menjadi puncak teriakan meriah Indonesia.

Maka kita tiba di tanggal 18 Agustus, pembukaan Asian Games. Itu adalah momen agung ketika Indonesia menerima kiriman enerji maha dahsyat dari milyaran penduduk Asia yang mengarahkan mata ke Gelora Bung Karno Senayan. Lelaki yang pernah dinista bertahun-tahun di pertengah 60an bangkit dari tidur panjangnya. Dia berjalan mendampingi lelaki Solo, menaiki panggung, dan membuka pesta terbesar orang-orang Asia.

Di titik itu Indonesia dikembalikan ke fitrahnya setelah separuh abad, ya: 50 tahun persis, hidup dalam perhambaan, perbudakan, penistaan, penghancuran kemanusiaan, dan dusta berkepanjangan. Di momen itu Indonesia menyalak. Asia gemetar. Dunia bersimpuh.

Sia-sia menantang kesejatian. Indonesia kali ini adalah negeri yang membangun sendiri pertumbuhannya dengan bermodal ketulusan, cinta kepada rakyat, dan keberanian menakar risiko. Utang 4,000 trilyun bukan bencana. Itu adalah angka sejati yang memberimu gambaran tentang berkah yang bakal kamu nikmati kelak.

Elektabilitas 65% di bulan Agustus sebetulnya terlalu sopan. Tapi kita bermaksud memberi peringatan kepada lawan politik Presiden Jokowi Tak satu kebohongan punya lagi masa depan di negeri ini.

*Penasehat Redaksi KupasMerdeka.com

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*