Mantan Ketua MUI Kota Bogor Apresiasi Kebijakan Insentif Guru Ngaji oleh Bima Arya, Harap Ditingkatkan

Calon Walikota dan Wakil Walikota Bogor Bima Arya - Dedie Rachim saat gerilya di daerah Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor 9/4/2018 (dok.KM)
Calon Walikota dan Wakil Walikota Bogor Bima Arya - Dedie Rachim saat gerilya di daerah Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor 9/4/2018 (dok.KM)

BOGOR (KM) – Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor KH Ahmad Sanusi Azhari mengapresiasi program pemberian insentif bagi guru ngaji yang digagas oleh pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bogor nomor urut 3, Bima Arya – Dedie A Rachim.

Menurutnya, program yang digagas pasangan petahana ini “baik dan sangat perlu ditingkatkan”.

“Peran strategis guru ngaji merupakan garda terdepan terhadap pembangunan akhlak dan mental pada generasi milenial. Itulah mengapa perlu adanya peningkatan insentif bagi guru ngaji,” kata KH. Ahmad.

“Insentif guru ngaji perlu ada peningkatan… karena saat ini masih banyak guru ngaji yang berstatus honorer. Sampai saat ini Departemen Agama belum membuka lowongan bagi guru honorer agar bisa menjadi reguler. Jadi perlu ada peningkatan,” ungkap Ahmad Sanuzi saat disambangi Bima-Dedie di kediamannya di Gg Pala, Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor pada Senin (9/4/2018) kemarin.

Bagaimanapun, sambung dia, peran serta guru ngaji “sangat penting” sebab pendidikan agama menjadi faktor inti dalam perkembangan dan kesejahteraan bangsa, khususnya generasi muda.

“Kesejahteraan bangsa itu masalahnya finansial. Tapi kalau batinnya tidak sejahtera jangan harap bisa sejahtera. Jadi revolusi mental itu sebetulnya harus menuju pada pendidikan agama,” kata Ahmad Sanusi.

Dengan begitu, dia membubuhkan harapan kepada pasangan Bima-Dedie agar selalu dekat dengan masyarakat serta memperhatikan segala apa yang diinginkannya. Selain itu, ia juga memaklumi jika saat ini masih terdapat program yang belum tuntas.

“Harapan saya, pemimpin itu yang dekat dengan masyarakat. Bisa memperhatikan segala kebutuhan masyarakat. Untuk yang belum terpenuhi mudah-mudahan kalau beliau dua periode, semoga bisa dilanjutkan apa yang belum dituntaskan,” harapnya.

Menurutnya, memang sulit untuk menjalankan banyak program hanya dalam waktu satu periode. Selain waktu yang sempit, anggaran yang minim pun kerap menjadi kendala utama.

“Memang sulit sekali untuk menjalankan program dalam satu periode, selain waktu yang sedikit, terutama menyangkut masalah anggaran yang sangat terbatas. Sekalipun program banyak, itu gak mungkin bisa terlaksana dalam satu periode saja,” paparnya.

Advertisement

Guna menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera, lanjut dia, pasangan Bima-Dedie perlu memberikan perhatian ekstra bagi masyarakat. Dia mencontohkan beberapa program yang sudah maupun belum dirasakan oleh masyarakat.

“Masukan dari saya apa yang diminta oleh masyaraktat misalnya upaya menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera, mungkin sekarang sudah dirasakan oleh masyarakat seperti penerangan jalan umum dan jalan lingkungan. Tapi mungkin masih banyak juga yang belum dirasakan seperti RTLH masih banyak, UMKM yang belum berkembang, terutama yang paling dibutuhkan masayarakat ialah masalah kesehatan dan pendidikan,” tandasnya.

Kedekatan Bima Arya dengan Drs KH Ahmad Sanuzi Azhari bermula saat suami dari Yane Adrian itu duduk di bangku sekolah. Bima kala itu berteman dengan anak kedua dari mantan Ketua MUI Kota Bogor.

“Saya kenal dengan Kang Bima itu sejak beliau masih sekolah. Karena dia satu sekolah dengan anak saya. Jadi sering main ker umah. Bima anak yang sopan dan ramah,” kata dia.

Selain kepada Bima, Ahmad Sanusi juga memiliki harapan khusus kepada Dedie A. Rachim. Meski tak terlalu mengenalnya, akan tetapi ia sangat berharap mantan pejabat KPK itu bisa menata dan membersihkan nama baik Aparatur Sipil Negara (ASN) yang kerap kali tersandung kasus korupsi.

“Harapan saya terhadap Kang Dedie bisa membina aparatur sipil negara. Jangan sampai nanti dipanggil KPK, jadi bagaimana Kang Dedie ini berupaya untuk membersihkan birokrat, jangan sampai nanti berurusan dengan KPK. Kan gak enak kalau nanti anak buahnya ada yang terlibat korupsi,” pesannya.

Di samping itu, dalam kesempatan gerilya kemarin terdapat suasana menarik, diantaranya saat pasangan petahana ini membagikan seikat petai kepada warga masyarakat Loji. Keceriaan terjadi kala itu. Bahkan, warga yang didominasi oleh ibu-ibu itu saling berebut. Selain petai, berbagi keceriaan bersama warga juga diakhiri dengan menyantap durian.

Reporter: Dody
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: