Polusi dari Pengolahan Sawit Dikeluhkan Warga, PT. SOCFINDO: “Pabrik Ini Ada Lebih Duluan Daripada Warga”

Pabrik kelapa sawit milik PT. Socfindo di Desa Sei . Liput, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang (dok. KM)
Pabrik kelapa sawit milik PT. Socfindo di Desa Sei . Liput, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang (dok. KM)

ACEH TAMIANG (KM) – Menanggapi laporan pihak masyarakat kepada sejumlah para pihak wartawan terkait polusi asap dan abu ketel dari proses industri perusahaan pengolahan buah kelapa sawit PT. SOCFINDO di Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, yang dinilai telah meresahkan masyarakat Desa Sei Liput, sejumlah wartawan langsung mendatangi pimpinan perusahaan itu, Senin 5/3/2018.

Teknik I PT. SOCFINDO, Hendro Kuswanto, saat dikonfirmasi oleh sejumlah wartawan mengaku bahwa selama ini pihak perusahaan sudah memperbaiki kerusakan dari cerobong asap dan sudah memberi tutup penyaring sehingga asap yang keluar dan disertai abu ketel tidak menyebar luas ke masyarakat di Desa Sei Liput.

“Cukup di lingkungan Perusahaan saja apabila abu ketel itu keluar dan tidak terimbas kepada masyarakat di wilayah Desa Sei Liput apabila ada kebocoran terhadap saringan abu ketel,” katanya.

Namun ketika ditanyakan terkait polusi yang meresahkan masyarakat setempat, Hendro nampak tidak mampu menjawab dan menunjuk kepada seorang oknum wartawan dengan nada mengancam.

“Dia juga adalah seorang wartawan media cetak yang bertugas di wilayah Aceh Tamiang, kenal kan?” kata Hendro

“Apa masalahnya, dan kalau tidak ada solusi ajak berantem aja!” ujar oknum wartawan itu menyahut.

“Kalau berantem dengan wartawan ya kalahlah kita, dan tetap kalah kita,” jawab Hendro.

Menyusul ketegangan yang sempat terjadi itu, Hendro menjelaskan kembali terkait dengan adanya abu ketel dan asap yang dikeluhkan masyarakat dan kembali mengklaim bahwa pihak perusahaan telah mengatasinya. “Bahkan upaya-upaya untuk mengatasi timbulnya abu ketel terus dilakukan sehingga tidak ada lagi abu ketel yang menjadi keresahan masyarakat,” ujarnya.

“Antipasi asap pabrik sekarang ini lebih bagus daripada awal-awal pabrik ini didirikan, bahkan pabrik PT. SOCFINDO lebih awal berdiri yaitu 1928 sebelum ramainya penduduk seperti sekarang,” ungkapnya seraya mengatakan juga, ramainya masyarakat di sekitaran pabrik karena adanya perputaran ekonomi dari operasional perusahaan.

Lebih lanjut ditegaskannya, setiap adanya keluhan masyarakat akan ditampung dan segera ditindaklanjuti, termasuk laporan per triwulan tentang lingkungan tetap ada. “Tapi inilah nasib perusahaan kami yang lahir duluan sehingga terkesan sekarang bahwa perusahaan membangun pabrik di kawasan penduduk, padahal banyak masyarakat yang mendekati perusahaan,” ucap Hendro.

Ditambahkannya, kasus asap dan abu bukan hanya sering ditimbulkan pabrik SOCFINDO.

“Kalau PT. Sisirau juga lebih parah dan malahan PT. Sisirau lepas ke atas dan naik ke atas dulu baru turun ke bawah debunya. Saya tegaskan lagi kami selalu atasi setiap adanya laporan masyarakat,” pungkasnya.

Reporter: Andi KM
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*