Akademisi: “Bima Arya Pantas untuk Memimpin Kembali”

Calon Walikota Bogor petahana Bima Arya dan calon wakilnya Dedie Rachim (dok. KM)
Calon Walikota Bogor petahana Bima Arya dan calon wakilnya Dedie Rachim (dok. KM)

BOGOR (KM) – Komitmen Bima Arya untuk melanjutkan kepemimpinan di Kota Bogor disambut positif sejumlah pengamat politik dan akademisi di Kota Bogor. Dari empat pasangan Walikota Bogor yang hadir dalam acara dialog politik bertajuk Membedah Visi Misi Calon Bupati/Walikota Bogor 2018-2022 yang digelar Radar Bogor siang ini, penampilan Bima Arya mendapat apresiasi lebih dari sejumlah pengamat.

Dosen IPB yang juga merupakan salah satu panelis diskusi, Sofyan Sjaf menyebut pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Bogor nomor urut 3, Bima Arya-Dedie Rachim, “pantas” untuk memimpin kembali. Menurut dia, hal itu terlihat dari penjelasan visi misi yang telah dipaparkan oleh para paslon.

“Saya melihat yang paling mendekati penjabaran visinya adalah paslon nomor 3 jika dibandikan paslon lain. Jika dipersentase sekira 30 persen. Kalau paslon lain belum mengarah dari penjelasannya,” ucap Sofyan seusai acara dialog politik di aula Graha Pena, Radar Bogor, Selasa (13/03/2018) siang.

Sofyan melanjutkan, mayoritas paslon yang memaparkan visi misi pada acara dialog tersebut terkesan sumir, tidak fokus membahas mengenai subjeknya. Seperti halnya pembahasan mengenai kemiskinan dan pengangguran.

“Subjeknya belum jelas, misal pembahasan kemiskinan dan penggangguran. Perlu penyelesaian, ada sistem yang dibangun, misalnya sosial sekuriti. Ya seperti persoalan hajat hidup orang banyak begitu,” katanya.

Dia memprediksi bahwa kegiatan debat paslon kedepan, para paslon akan lebih fokus terhadap subjek materi. Dia berharap para paslon dan tim lebih giat untuk menjaring aspirasi dari masyarakat.

“Saya berharap para paslon nantinya lebih memahami tentang materi pada subjek pembahasan. Selain itu para paslon dan tim perlu juga menjaring aspirasi sebanyak mungkin. Itu dilakukan untuk mengentaskan persoalan penggangguran dan kemiskinan,” tuturnya.

Sementara itu, masih kata Sofyan, baik petahana dan di luar petahana tidak fokus dalam mengaitkan variabel-variabel permasalahan yang seharusnya diselesaikan.

“Permainan data dan angka yang disajikan saya kira tidak dapat menjawab apa yang harus dilakukan para paslon nantinya,” tandasnya.

Selain Sofyan Sjaf, turut hadir pula Rektor Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Ending E Bahrudin, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB Aji Hermawan, Pengamat Tata Kota dari Universitas Pakuan Budi Arief dan Wakil Ketua Bidang Teknis Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Bogor Agus Lukman serta ketiga paslon lainnya.

Reporter: Dody
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*