KUPAS KOLOM: Dua Eyang Di Bukit Menyan Sarengseng dan Geulis

Oleh: Abdul Hafid

Dua gerbang berdiri dengan anggun saling berhadap-hadapan sebagai penanda pintu masuk dua kawasan berbeda di tiga bukit yang telah dibedah menjadi kawasan peternakan dan kawasan pendidikan, dapat kita lihat di lintasan jalan yang membentang dari Cemplang hingga Cibunian Kecamatan Cibungbulang dan Pamijahan Bogor.

Apakah dibangunnya dua gerbang yang saling berhadapan ini ada kaitan dengan kedekatan dua “eyang” sebagai perintis pembangunan dua kawasan ini? Khalayak umum mengenal dua eyang ini pada masanya adalah dua sosok yang punya pengaruh kuat dalam perjalanan bangsa ini.

Gerbang yang pertama terletak di bukit sarengseng dan Bukit geulis, disini kami lebih akrab menyebutnya dengan “gunung geulis” dan “gunung sarengseng”, dua gunung ini disulap menjadi kawasan peternakan ketika “eyang Suharto” sedang kuat-kuatnya menggenggam kekuasaannya.

Dua gunung dalam kenangan masa kecilku adalah tempat yang sangat menyenangkan ketika musim buah telah datang. Kecapi, kupa, kemang, juga durian adalah yang paling mudah didapat ketika dua gunung ini masih menjadi milik warga, dan yang tak boleh dilupakan jika pulang dari mengambil buah ini sepikulan kayu bakar harus dibawa untuk menyenangkan nenek buyutku yang punya tempat di gunung itu.

Selain untuk mencari buah-buahan, di gunung geulis terdapat sebuah kolam kecil yang kalau kami bermain disini serasa menjadi orang kaya yang banyak uang, kami menyebut kolam kecil ini dengan: “situ duit”, cukup dengan mencelupkan kepala kedalam kolam, disitu akan nampak bertebaran uang logam yang begitu banyak, setelah kepala diangkat diatas air ternyata semua hanyalah fatamorgana belaka, hingga saat inipun belum pernah terdengar kajian ilmiahnya, kenapa pasir dan bebatuan di “situ duit” ini seolah-olah seperti uang logam jika dilihat dibawah air.

Sedangkan di gunung sarengseng paling menyenangkan jika sampai ke puncaknya karena hamparan persawahan dan perkampungan akan terlihat sangat jelas dan eksotis dari ketinggian gunung ini, suasana yang berbeda akan didapat jika mendekati daerah yang bercadas, yang dikenal dengan “cadas jantung”.tempat yang memang ngeri-ngeri sedap.

Kini segalanya telah banyak berubah, ketika sebuah rencana atas nama pembangunan di era orde baru digulirkan untuk membangun sebuah kawasan peternakan sapi, “Jer besuki mawa bea” adalah tuah orde baru yang jadi panglima, bahwa modal dan kaum bermodal harus diberi kesempatan seluas-luasnya dan meraih keuntungan yang sebesar-besarnya.

Pembangunan peternakan inipun dipaksakan ditengah kawasan masyarakat yang tidak punya latar belakang peternak sapi, tapi apalah daya jika sang “smiling general” eyang Suharto sudah mengarahkan telunjuknya pada saat itu, tidak ada yang berani melawan untuk tidak menjual tanahnya di dua kawasan gunung sarengseng dan gunung geulis kepada para cukong yang menangani pembangunan peternakan sapi tersebut.

Tanah bukit yang ada terpaksa dilepas dihargai dengan hanya 15 ribu rupiah, itupun harus kena potongan para calo yang tidak bertanggung jawab. Hanya ada satu orang yang bersikukuh pada waktu itu yang tidak mau menyerahkan tanah keluarga yang dimilikinya untuk dijual, yaitu seorang Mayor tentara yang masih aktif pada waktu itu, Mayor Badrudin kami mengenalnya yang kini menikmati masa pensiunnya di kampung, perlawanan yang dilakukannya adalah simbol perlawanan dari seorang yang mewarisi darah anak pejuang kemerdekaan dari ayahnya.

Beberapa tahun kemudian dibangun pula gerbang yang kedua yang terletak di gunung menyan sebagai pintu masuk sebuah kawasan pendidikan dan agrobisnis, dibangun seorang taipan pemilik grup bisnis “Sahid group” diantaranya memiliki jaringan perhotelan yang tersebar di berbagai kota besar, percetakan dan media massa “Bisnis Indonesia” serta bidang usaha lainnya.

Cerita tentang sengkarut pembebasan lahan di gunung menyan nyaris tanpa ekses yang berarti, tidak sedramatis pembebasan lahan di gunung sarengseng dan gunung geulis, karena yayasan yang didirikannya ia namakan dengan “Yayasan Husnul Khatimah”.

Sesuai dengan dengan namanya cara-cara yang baik dalam pembebasan lahan dan kegiatan yang dilakukan dalam bidang pendidikan dan sosial adalah sebagai pengabdian akhir pengisi masa tua pemilik yayasan ini, yaitu : “Eyang Sukamdani Sahid Gitosarjono”, yang membangun kawasan pendidikan dan pesantren dari mulai tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Di gunung menyan inipun cerita bagaimana jika musim buah telah tiba adalah masa-masa yang sangat menyenangkan, cerita gotong royong warga yang mengambil pohon bambu untuk membangun kampung ataupun tempat ibadah adalah tempat yang menjadi tujuan.

Pernah pula pada suatu hari ketika kakak tertua saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Bagdad Irak meminta foto adik-adiknya di kampung, kami melakukan pose-pose dihamparan sawah dengan view gunung menyan ini, kawan kakak saya ini ketika melihat foto-foto kami memberikan komentar ketakjubannya atas keindahan gunung menyan dan mengatakan bahwa kami ini tinggal di Negara yang dihiasi“surga yang indah”.

Diantara dua gerbang kawasan ini terbentuklah sebuah median jalan yang lapang dan dijadikan sebagai destinasi keramaian yang mengubah wajah kampung yang tadinya sepi dan terkesan mencekam ketika di malam hari, menjadi tempat yang ramai dan sering dikunjungi orang, padahal pada awalnya tempat ini jarang disinggahi orang karena cerita-cerita mistik yang berkembang.

Konon suatu kejadian pernah menimpa seorang sopir truk pengangkut batu kapur yang bernama “Acang” terjatuh kedalam jurang yang ada disana, hingga tempat ini dijuluki dengan “ragrag ki acang”. Pernah pula kejadian terakhir sebuah mobil yang terperosok dialami oleh seorang yang sedang blusukan mencari dukungan politik pada perhelatan pemilu tahun 2014 lalu, dia lupa mengunci rem tangan mobilnya ketika sedang istirahat makan siang di tempat makan yang ada di sana, ketika proses pengangkatannya menjadi tontonan dan menjadi hiburan tersendiri diselingi sorak sorai ketika mobil itu dapat diangkat kembali.

Kini cerita lain telah berganti, tempat yang tadinya “menyeramkan”, setelah kawasan peternakan sapi diresmikan langsung oleh presiden Suharto pada waktu itu, kawasan persimpangan ini akhirnya berubah julukan yang lebih nge-pop menjadi simpang“KANSAS” (Kandang Sapi Suharto), dan menjadi tempat yang ramai disinggahi baik untuk kongkow-kongkow ataupun titik kumpul orang-orang dari pelosok kampung yang akan melakukan bepergian jauh dengan menggunakan angkutan bus

Sambil menyeruput teh manis di siang yang mendung ini, memoriku kembali menerawang mengingat nenek buyutku yang tak mau minum teh jika diperoleh dari warung, ia lebih suka teh racikannya sendiri yang dipetik dari gunung geulis miliknya, kemudian diremak-remak pake tangan lalu dijemur hingga kering hingga siap untuk diseduh, pahitnya memang sangat terasa berbeda sekali dengan teh yang kita kenal sekarang, “kepahitannya adalah sebuah bentuk kesederhanaan hidup yang dijalaninya” dan “sebagai bentuk rasa syukur atas segala karunia dari pencipta yang diperolehnya”.

Anda akan bertandang ke simpang “Kansas”?? Jalan yang anda lewati bisa melewati jalan gunung “sarengseng” yang kini tambah mulus, tak ada salahnya tampil modis dan berdandan yang “geulis”, tak perlulah bawa “menyan”, karena kini bukan jamannya lagi..! Lebih baik bawa ATM yang anda punya, karena disana anda akan dimanjakan dengan aneka pilihan jajanan yang anda suka, atau mau dilanjutkan untuk berkeliling kawasan ini silahkan dapat meminta bantuan kang Abeng, kang Rujug, kang Dedi anyut atau temen-temennya yang lain,ingat..!! Kalau sudah selesai berkeliling, jangan lupa bayar yaaa…!!

Eyang Suharto, eyang Sukamdani…. Kami akui engkau berdua telah banyak merubah wajah kampung kami….

#Kabarkampung

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*