Kekerasan Terhadap Wartawan Terjadi Lagi, Pengurus FPII Angkat Bicara

Pengurus FPII Jawa Timur bersama wartawan Koran TKP yang mengalami penganiayaan (dok. FPII)
Pengurus FPII Jawa Timur bersama wartawan Koran TKP yang mengalami penganiayaan (dok. FPII)

JAKARTA (KM)– Kekerasan terhadap wartawan kembali terjadi. Kali ini dialami oleh salah seorang anggota Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Setwil Jawa Timur yang berinisial SA dari koran “TKP”.

Ironisnya, penganiayaan yang dialami oleh SA di depan khalayak ramai dan disaksikan oleh oknum Aparat Kepolisian.

Ketua Presidium FPII, Kasihhati, yang mendapat laporan dari Pengurus FPII Setwil Jawa Timur meradang.
Ia pun mengecam tindakan yang dilakukan oleh Pemilik tempat hiburan tersebut.

“Siapapun yang melakukan penganiayaan terhadap wartawan dengan dalih apapun tidak bisa ditolerir,” ujar Kasihhati di Kantor Sekretariat FPII, Jalan Rawajati Timur I No. 2 Jakarta Selatan, Rabu (13/12/17).

Kasihhati juga meminta aparat kepolisian mengusut kasus penganiayaan tersebut, apalagi korban (SA) sudah membuat laporan kepolisian terkait apa yang dialaminya.

“Saya meminta Pengurus FPII Setwil Jawa Timur dan seluruh wartawan untuk memantau kasus ini. Jangan kasus seperti ini dianggap sepele,” pintanya.

Di tempat yang sama, Ketua Bidang Advokasi Setnas FPII, Wesly HS menyayangkan sikap oknum aparat kepolisian yang melihat kejadian tersebut tetapi tutup mata serta tidak ada upaya untuk melerai tindakan kekerasan tersebut.

Ia juga mengkritisi keberadaan oknum Polsek Simokerto Surabaya tersebut di tempat hiburan malam saat kejadiaan. “Apakah oknum tersebut sebagai backing atau sebagai pengamanan wilayah? Lah kok ini ada penganiayaan malah dibiarkan?” tanya Wesly.

Sebelumnya, pada hari Senin (11/12/2017) wartawan dari media koran TKP itu saat malam kejadian hendak menemui pemilik hiburan malam Cafe Santoso.

Kedatangan SA dengan maksud untuk menyampaikan undangan dan menyerahkan proposal kerjasama dalam rangka HUT Koran TKP kepada pengelola Cafe Santoso.

Namun niat baik SA disalahartikan oleh pemilik Cafe, hingga terjadi kesalahpahaman sampai terjadi pemukulan yang dilakukan oleh pemilik Cafe Santoso. Melihat insiden yang terjadi, anak buah pemilik cafe ikut juga memukuli SA, hingga terjadi pengeroyokan.

Merasa ada aparat kepolisian di lokasi kejadian tersebut, SA agak sedikit tenang. Namun dugaan SA keliru, oknum polisi yang disinyalir dari Reskrim Polsek Simokerto Surabaya hanya berdiam diri.

Ketua Setwil FPII Jawa Timur, Bayu, menyesalkan tindakan pemilik Cafe Santoso hingga membuat SA mengalami luka-luka.

“Wartawan juga manusia, bukan binatang, saya meminta pihak kepolisian untuk segera memproses pelaku pengeroyokan yang dilakukan oleh pihak Cafe Santoso dan beberapa anak buahnya,” ujarnya.

Bayu juga meminta klarifikasi terkait informasi saat di lokasi terjadinya pengeroyokan, ada oknum anggota reskrim Polsek Simokerto, yang konon hanya berdiam diri dan menyudutkan korban.

“Negara kita adalah negara hukum dan hukum harus ditegakan, dan pekerjaan wartawan jelas dilindungi Undang-undang Pers No.40 tahun 1999,” pungkasnya.

Reporter: Team FPII
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*