Buntut Pelecehan Terhadap Wartawan, JIMI Desak Kapolri Copot Kapolres Way Kanan

Kapolri Jenderal Tito Karnavian memberikan keterangan persusai rapat dengan Komisi III DPR, Senin 17/7 (dok. KM)
Kapolri Jenderal Tito Karnavian memberikan keterangan persusai rapat dengan Komisi III DPR, Senin 17/7 (dok. KM)

LAMPUNG (KM) – Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI) menilai ucapan Kapolres Way Kanan, AKBP Budi Asrul Kurniawan “tidak bisa ditolerir”.

Menurut JIMI, Kapolres tampak “tak faham” bahwa wartawan dan media merupakan pilar demokrasi, sehingga menjadi hak sekaligus tanggung jawab mereka mendapatkan fakta untuk masyarakat.

“Seorang perwira menengah tak pantas mengeluarkan kata-kata demikian. Hal itu menunjukkan sikap arogansi Aparatur Negara yang dibayar oleh uang rakyat dan ucapan Kapolres sekaligus menghina rakyat Indonesia yang butuh informasi, namun ia mengatakan masyarakat hanya butuh film saja,” tutur Sekjen JIMI, Andi Kurniawan kepada wartawan, Selasa 29/8.

Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI) menilai seorang Kapolres harusnya memiliki intelektual karena ia seorang pemimpin. “Dan ini bisa dibayangkan bila pemimpinnya demikian bagaimana dengan bawahannya,” sambungnya.

Pihaknya pun menuntut agar Kapolri Tito Karnavian bertindak tegas terhadap Kapolres Way Kanan.

“Sanksi tegas akan menjadi pelajaran bagi perwira maupun anggota kepolisian lainnya agar menjaga lisannya. Penegak hukum bukan hanya mampu menghafal pasal-pasal hukum akan tetapi harus mampu menjalankan hukum itu sendiri,” katanya.

Advertisement

“Sikap arogan yang ditunjukkan Kapolres Way Kanan tak cukup diganjar hukuman administratif. Kapolri harus memerintahkan yang bersangkutan meminta maaf melalui media kepada seluruh teman-teman wartawan dan secara langsung kepada wartawan yang dihina,” tutupnya.

Sebelumnya, diberitakan di berbagai media, Kapolres Way Kanan AKBP Budi Asrul Kurniawan “melecehkan” profesi wartawan. Ketika jurnalis hendak mengabadikan sebuah cekcok yang nyaris berujung chaos, dia malah melarang sang pewarta untuk mengabadikan peristiwa tersebut.

Perwira menengah itu malah menghina profesi wartawan dan mendiskreditkan media cetak di Lampung. Di hadapan dua wartawan, Budi menyamakan profesi jurnalis dengan kotoran hewan.

Bukan itu saja, dia juga menyatakan koran di Lampung tidak ada yang membaca. Penghinaan tersebut dia lontarkan saat penertiban massa pro dan kontra batu bara yang hampir terlibat chaos di Kampung Negeribaru, Blambanganumpu, Way Kanan, Minggu (27/8) dinihari.

*Red

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*