Bantuan RTLH Kelurahan Pasar Batang Tidak Beres, Warga Tengarai ada Penyimpangan

Salah satu rumah tidak layak huni (RTLH) di Kelurahan Pasar Batang, Brebes, yang hingga kini masih belum selesai dikerjakan (dok. KM)
Salah satu rumah tidak layak huni (RTLH) di Kelurahan Pasar Batang, Brebes, yang hingga kini masih belum selesai dikerjakan (dok. KM)

BREBES (KM) – Bantuan RTLH (rumah tidak layak huni) tahun 2016 di Kelurahan Pasar Batang, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes diduga dikerjakan kurang maksimal. Terkesan asal-asalan, bantuan RTLH yang seharusnya sudah selesai finishing sejak akhir bulan Desember 2016.

Penelusuran kupasmerdeka.com, 32 penerima bantuan RTLH yang terbagi dari RT 1 sampai RT 5 di wilayah RW 11 merasa tidak puas dan merasa kecewa dengan spesifikasi material bantuan yang di terima.

Menurut Karyudi, ketua RT 02 di Dukuh Bugel, Kelurahan Pasar Batang, ketika ditemui kupasmerdeka.com, dana APBN yang digelontorkan untuk program RTLH di Kelurahan Pasar Batang terbagi di beberapa RT dan RW.

“Masing-masing mendapat nilai pagu anggaran 15 juta per warga dari 75 KK penerima bantuan yang terbagi di Kelurahan Pasar Batang sesuai lampiran yang diterima warga dalam bentuk material bangunan tersebut,” singkatnya.

Hal senada dikatakan tokoh pemuda setempat, Edi Suwaryo, kepada kupasmerdeka.com. Menurutnya, barang yang dikirim tidak sesuai spesifikasi dan RAB yang sudah tercatat dan dibagikan pada waktu rapat di kantor Kelurahan Pasar Batang tahun 2016 lalu.

Lanjut ia, nota-nota penerimaan barang dari Toko Bangunan Sahabat selaku supplier pun seperti rekayasa tim pendamping rekanan supplier material yang ditunjuk menjadi pemasok material program itu.

“Dalam nota-nota berwarna kuning yang diterima warga penerima bantuan, hanya tertulis jumlah barang saja. Masyarakat penerima bantuan menilai ada yang bermain-main dengan harga material itu,” singkatnya.

Namun di tempat terpisah, kepada kupasmerdeka.com pemasok material H. Jaenal membantah hal tersebut. “Kalau di sini nota-notanya benar, semua total hitungan yang warga dapat tertulis pas 15 juta semua, jika ada yang belum terkirim tinggal konfirmasi ini stok pintu juga masih tersedia,” kilahnya.

Tentang nota-nota itu, kata Jaenal, itu bukan nota, cuma bukti penerimaan. “Kalau nota yang sebenarnya ada di sini dan di pendamping.”

Ketika disinggung tentang salah satu bahan material, tentang harga semen 62 ribu, sementara harga pasaran cuma 53 ribu (semen tiga roda), H. Jaenal menjelaskan, “memang saat itu harganya 53 ribu tapi kalau soal sisa kami tidak tau apa-apa.”

“Taunya kita cek dari setiap penerima total benar belanjanya 15 juta semua, tapi sebatas lisan tanpa menunjukkan nota-nota yang dia sebutkan. Untuk lebih jelasnya ketemu saja sama bos kami managernya toko bangunan Sahabat karena kami cuma bawahan,” pungkasnya.

This slideshow requires JavaScript.

Sementara pendamping pelaksana RTLH Kelurahan Pasar Batang, Nanang, ketika dikonfirmasi kupasmerdeka.com terkesan melemparkan masalah pada pihak Cipta Karya Kabupaten, Yurisman.

“Saya hanya membantu melaksanakan tugas dari fasilitator dan kami tinggal menjalankan sesuai aturan dari PU. Kalau untuk soal harga, RAB, material dan lain-lain itu urusan fasilitator PU mengacu pada harga pagu Kabupaten,” ungkap Nanang singkat.

Terpisah, Sugiarto, Lurah Pasar Batang menjelaskan kepada kupasmerdeka.com, kalau RTLH itu “urusan orang PU dan Nanang.”

Mengenai harga semen yang terdapat selisih harga Rp. 8 ribu per sak, dengan tegas dirinya mengatakan tidak tahu menahu soal itu.

“Waktu itu saya belum menjabat, tidak ada tanda tangan saya. kalau soal saya di kasih ya saya terima, untuk RTLH itu semua urusan Nanang dan PU Cipta Karya,” tegasnya.

Ana selaku tim teknis pendamping RTLH dari Dinas Cipta Karya, staf Yurisman, saat dikonfirmasi kupasmerdeka.com membenarkan hal tersebut.

Ana menjelaskan bahwa program sudah selesai, serah terima barang pada penerima pun sudah sesuai bukti laporan yang ada. “Sekarang program ini memang dinyatakan sudah selesai finishing, jika memang ada yang gak pas atau gak sesuai kenapa masyarakat mau menandatangani, dan pada kenyataannya memang pembelanjaan material tidak transparan dengan nota kosong tanpa nominal harga tertulis,” jelasnya.

Hasil investigasi di lapangan, di RW 11 rumah Sumiati, salah satu warga penerima bantuan RTLH hingga saat ini belum selesai. Karena tidak punya uang untuk bayar tukang, sampai sekarang material masih menumpuk di rumahnya.

Warga penerima bantuan RTLH lainnya, Sanuri sampai sekarang belum mendapatkan bantuan daun pintu rumahnya.

Masyarakat menilai ada dugaan kecurangan yang dimainkan oleh pihak pendamping supplier, tim dan juga ada yang ikut bermain dalam lingkungan internal di Kelurahan Pasar Batang karena mereka tidak transparan pada para penerima bantuan.

Reporter : Firdaus
Editor : KN/HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.